Bogordaily.net – Suami Inayah Wahid tiba-tiba menjadi kata kunci yang berkelana ke mana-mana. Dicari. Dipertanyakan. Bahkan—dalam tradisi warganet kita—dibedah sampai ke hal paling pribadi.
Nama itu: KH Muhammad Shalahuddin Warits. Atau yang lebih akrab disebut: Lora Mamak.
Ia menikahi Inayah Wahid—putri bungsu dari Abdurrahman Wahid. Sosok yang sejak lama dikenal vokal, berani, dan kadang—kalau perlu—pedas.
Pernikahan itu diumumkan 4 April 2026. Bukan di gedung mewah. Bukan pula di hotel berbintang. Tapi di lingkungan pesantren: Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa.
Sederhana. Tapi justru di situ letak kekuatannya.
suami Inayah Wahid lalu menjadi bahan tanya yang tak habis-habis. Bukan soal akadnya. Bukan soal mahar. Tapi satu hal yang paling disukai publik: masa lalu.
Apakah Lora Mamak seorang duda?
Pertanyaan itu meluncur deras di media sosial. TikTok. Instagram. Kolom komentar. Semua ramai.
Jawabannya justru sunyi.
Tidak ada keterangan resmi. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada data yang bisa dipastikan kebenarannya. Dan dalam dunia pesantren—itu bukan hal aneh.
Ada batas yang dijaga.
Dan Lora Mamak tampaknya memilih tetap berada di dalam batas itu.
Di luar soal itu, sosoknya sendiri tidak asing di Madura. Ia dikenal sebagai pendakwah muda. Kharismatik. Anak dari seorang kiai: KH Warits Ilyas.
Ia juga pernah bersentuhan dengan dunia politik—aktif di lingkungan PPP Sumenep. Sekaligus dikenal sebagai bagian dari generasi muda Nahdlatul Ulama.
Sementara Inayah? Ia bukan tipe yang diam.
Ia pernah menyindir pejabat. Termasuk Gibran Rakabuming Raka. Ia juga pernah “menyenggol” komika seperti Kiky Saputri.
Lugas. Terbuka. Kadang membuat orang tidak nyaman. Tapi justru di situlah ia berdiri.
Suami Inayah Wahid akhirnya bukan sekadar status. Ia menjadi titik temu dua dunia: pesantren yang teduh, dan ruang publik yang riuh.
Pernikahan ini bukan hanya soal dua orang.
Ia seperti pertemuan dua arus: tradisi dan ekspresi.
Dan soal masa lalu Lora Mamak? Mungkin memang tidak perlu dijawab sekarang.
Karena dalam banyak hal, yang lebih penting bukan siapa dia dulu—
melainkan ke mana mereka berdua akan melangkah setelah ini.***
