Bogordaily.net – Wacana peningkatan kesejahteraan guru kembali menjadi perhatian publik setelah anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, menyampaikan usulan terkait standar gaji ideal bagi tenaga pendidik di Indonesia.
Dalam forum resmi Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi X DPR RI bersama perwakilan guru dan asosiasi psikolog, ia mengemukakan gagasan agar gaji guru di Indonesia bisa dipatok minimal Rp5 juta per bulan.
Usulan tersebut sontak menjadi perbincangan luas, terutama karena disertai dengan perhitungan anggaran yang dinilai cukup realistis.
Dalam paparannya, Bonnie Triyana menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan guru bukan sekadar wacana, melainkan komitmen yang harus diwujudkan secara konkret oleh negara.
Ia menyampaikan bahwa selama ini peran guru sangat vital dalam membangun kualitas sumber daya manusia, sehingga sudah seharusnya kesejahteraan mereka menjadi prioritas utama dalam kebijakan nasional.
”Saya pernah hitung, Pak, saya pernah hitung secara serampangan saja jumlah guru di Indonesia itu 3.470.000 kalau nggak salah, menurut data pusdatin per hari ini,” kata dia.
Berdasarkan perhitungannya, jika seluruh guru di Indonesia, baik honorer maupun tetap mendapatkan gaji minimal Rp5 juta per bulan, maka kebutuhan anggaran negara diperkirakan mencapai sekitar Rp208 triliun per tahun.
”Berarti dikali 12, (sekitar) Rp 208 triliun (setahun). Itu kalau saya pukul rata 3.470.000 guru seluruh Indonesia digaji masing-masing Rp 5 juta, dipukul rata nggak ada yang berbeda, itu baru Rp 208 triliun satu tahun,” jelasnya.
Menurutnya, angka tersebut masih berada dalam batas yang memungkinkan jika pemerintah memiliki komitmen kuat untuk menempatkan sektor pendidikan sebagai prioritas utama.
Dukungan Penuh Komisi X DPR RI
Lebih lanjut, Bonnie Triyana menegaskan bahwa Komisi X DPR RI memberikan dukungan penuh terhadap upaya peningkatan kesejahteraan guru di seluruh Indonesia.
Ia bahkan menyebut dukungan tersebut tidak tanggung-tanggung, melainkan total tanpa kompromi.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyinggung pandangan rekannya di Komisi X, Once Mekel, yang mengusulkan angka lebih tinggi.
”Kami di Komisi X ini 100 persen setuju guru harus makmur. Kalau kata teman saya tadi Once, Bang Once di belakang itu yang suaranya merdu, gaji guru itu minimal Rp 15 juta, kata Once,” bebernya.
”Kalau gitu mari kita wujudkan kesejahteraan guru dan kami di Komisi X mendukung 1.000 persen tanpa korting kepada guru-guru seluruh Indonesia,” tandasnya.
Pernyataan tersebut langsung menjadi sorotan karena dinilai berani dan konkret. Di tengah berbagai keluhan mengenai kesejahteraan guru, usulan ini dianggap sebagai angin segar, meski tetap memunculkan perdebatan terkait kemampuan fiskal negara.
Sebagian pihak menilai angka Rp208 triliun masih perlu dikaji lebih mendalam, sementara lainnya melihatnya sebagai langkah awal untuk mendorong kebijakan yang lebih berpihak kepada tenaga pendidik.
Profil Bonnie Triyana
Di balik pernyataan tersebut, publik juga mulai menyoroti sosok Bonnie Triyana. Ia dikenal sebagai figur yang memiliki latar belakang kuat di bidang sejarah dan kebudayaan.
Lahir di Rangkasbitung, Banten, pada 27 Juni 1979, Bonnie merupakan politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Di internal partai, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Badan Sejarah Indonesia PDIP.
Selain aktif di dunia politik, Bonnie juga dikenal sebagai sejarawan dan pegiat budaya. Salah satu kontribusinya adalah menggagas pendirian Museum Multatuli pada 2018.
Museum tersebut menjadi pusat edukasi sejarah kolonialisme dan pergerakan sosial di Indonesia, serta memanfaatkan bangunan bersejarah peninggalan era kolonial.
Ia juga pernah terlibat dalam upaya penyelamatan gedung Sarekat Islam di Semarang, yang memiliki nilai historis penting dalam perjalanan organisasi pergerakan nasional.
Dari sisi akademik, Bonnie merupakan lulusan Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro (2003) dan melanjutkan studi magister di Universitas Indonesia pada 2005.
Tak hanya itu, ia juga aktif di dunia media sebagai bagian dari Majalah Historia. Bahkan, ia pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah tersebut.
Majalah Historia sendiri dikenal sebagai media yang mengangkat isu-isu sejarah populer di Indonesia sejak pertama kali hadir dalam bentuk digital pada 2010 dan edisi cetak pada 2012.
Pada 2022, Bonnie Triyana juga terlibat sebagai kurator tamu dalam pameran Revolusi Nasional Indonesia di Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda.
Keterlibatannya dalam forum internasional tersebut menunjukkan pengakuan atas kapasitasnya sebagai sejarawan. Meski sempat memicu polemik, hal ini justru menegaskan perannya sebagai intelektual publik yang aktif dalam diskursus sejarah global.
