Bogordaily.net – Dentuman petasan yang menggema di kawasan Setu Babakan menjadi penanda dibukanya perhelatan budaya bertajuk Lebaran Golok 2026, Minggu, 12 April 2026.
Suasana penuh semangat langsung terasa sejak awal acara, menandai dimulainya sebuah tradisi baru yang sarat nilai budaya dan kearifan lokal.
Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Golok Pedang Sepuh Nusantara (GPSN) yang untuk pertama kalinya menggelar Lebaran Golok sebagai wadah silaturahmi sekaligus pelestarian warisan budaya.
Ratusan peserta dari berbagai daerah seperti Jawa Barat, Banten, hingga DKI Jakarta turut ambil bagian dalam acara ini. Mereka tampil mengenakan beragam busana tradisional khas pendekar, seperti pangsi, pakaian silat, hingga busana adat lainnya yang menambah nuansa kultural yang kental.
Panggung Budaya yang Menghidupkan Tradisi
Lebaran Golok tidak sekadar menjadi ajang berkumpul, tetapi juga menghadirkan berbagai pertunjukan budaya yang menggambarkan kekayaan tradisi Nusantara.
Mulai dari demonstrasi silat golok, pameran berbagai jenis golok, hingga diskusi budaya (sarasehan) yang membahas sejarah dan filosofi golok Betawi.
Para pendekar dan pesilat dari berbagai perguruan turut menunjukkan kemampuan mereka dalam seni bela diri tradisional.
Gerakan silat yang ditampilkan tidak hanya menunjukkan ketangkasan, tetapi juga mengandung nilai filosofi tentang kehormatan, kedisiplinan, dan keseimbangan hidup.
Penggagas kegiatan ini, Gatut Susanta, mengungkapkan bahwa penggunaan istilah “Lebaran Golok” sengaja dipilih untuk memberikan daya tarik tersendiri.
“Dan ternyata berhasilkan, sangat banyak yang hadir untuk bersilaturahmi,” kata Gatut Susanta.
Menurutnya, istilah yang unik mampu memancing rasa penasaran masyarakat sehingga tertarik untuk hadir dan mengenal lebih dekat budaya golok sebagai warisan leluhur.
Dihadiri Tokoh Penting dan Budayawan
Acara ini juga dihadiri sejumlah tokoh penting, mulai dari pembina dan penasehat GPSN, perwakilan TNI dari Kodam Jaya, hingga Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Kehadiran para tokoh budaya Betawi, pendekar, serta komunitas silat dari berbagai daerah semakin memperkuat nilai kebersamaan dalam acara tersebut.
Salah satu yang turut hadir adalah Dedie A. Rachim yang juga bertindak sebagai penasehat GPSN. Dalam sambutannya, ia memberikan apresiasi tinggi terhadap terselenggaranya kegiatan ini.
“Pemerintah Kota Bogor terus mengawal perjalanan Golok Road to Unesco, karena golok bukan hanya sebagai benda pusaka, tetapi juga sebagai simbol kehormatan, jati diri, dan kearifan lokal dan berharap agar generasi muda dan Gen Z dapat terus dilibatkan dalam kegiatan budaya seperti ini agar tidak kehilangan obor,” kata Dedie Rachim.
Dorong Golok Mendunia Lewat UNESCO
Salah satu misi besar dari penyelenggaraan Lebaran Golok adalah mendukung program “Golok Road to UNESCO”. Program ini bertujuan untuk mengangkat golok sebagai warisan budaya tak benda yang diakui secara internasional.
Upaya ini dinilai penting agar golok tidak hanya dikenal sebagai senjata tradisional, tetapi juga sebagai simbol perjuangan dan identitas budaya masyarakat Sunda, Betawi, dan Banten.
Ketua GPSN sekaligus ketua panitia, Teguh Cahyadi, menegaskan pentingnya mengubah stigma negatif terhadap golok di masyarakat.
“Opini Golok sebagai sarana tawuran, keributan harus kita hilangkan karena di masa lalu Golok adalah Pusaka para Pejuang dalam mengusir Penjajahan,” pungkasnya.
