Bogordaily.net – Lapak Catur di Bogor itu bukan sekadar permainan. Ia sudah menjadi denyut kecil kehidupan kota yang sering luput dari perhatian.
Jika menyusuri trotoar di Jalan Ir. H. Juanda, Bogor. Ada yang berbeda. Tidak seperti trotoar lain yang riuh oleh pedagang kaki lima, di sini justru bersih. Sunyi—tapi hidup. Bukan oleh teriakan penjual, melainkan oleh diam yang tegang.
Dua lelaki sepuh duduk berhadapan. Usianya yang satu 65 tahun. Sementara satunya lagi sekitar 71 tahun. Mata mereka tajam. Bukan menatap lawan, tapi papan di antara mereka. Di situlah pertempuran sesungguhnya terjadi.
Satu langkah menentukan segalanya.
Kuda tumbang. Benteng meluncur tanpa ragu. Menyerang langsung ke jantung pertahanan. Selesai sudah. Tapi tidak ada amarah. Tidak ada kecewa.
Yang ada—tawa.
Begitulah wajah lain dari lapak catur di Bogor. Kompetitif, tapi hangat. Serius, tapi santai.
Komunitas ini tidak dirancang. Tidak dibuat dengan proposal. Ia lahir dari kebiasaan. Dari iseng. Dari orang-orang yang membawa papan catur, lalu duduk, lalu kembali lagi keesokan harinya.
Sejak 2019, mereka berkumpul. Kini jumlahnya sekitar 30 orang. Tidak ada struktur. Tidak ada iuran. Tidak ada kewajiban.
Yang ada hanya satu: kesenangan.
“Hiburan saja,” kata Andon yang biasa main catur di lapak ini.
Setiap hari mereka datang. Pagi, siang, bahkan malam. Sekitar 10 papan catur memenuhi trotoar. Jika hujan turun, mereka pindah ke gang atau warung. Lebih sempit. Hanya muat lima papan. Tapi permainan tidak pernah berhenti.
Catur tidak mengenal cuaca.
Yang menarik, tempat ini terbuka untuk siapa saja. Tidak ada biaya. Tidak ada syarat. Siapa pun boleh duduk dan menantang.
Bahkan turis asing pun sering ikut.
Mereka lewat. Melihat. Lalu tertarik. Duduk. Bermain.
Tanpa bahasa yang sama—mereka tetap bisa bertanding.
Itulah bahasa catur.
Bagi Andon, papan catur adalah tempat pelarian. Dari sepi. Dari stres. Dari pikiran yang terlalu ramai.
“Kalau stres, saya main catur,” katanya.
Murah. Bahkan gratis. Tidak seperti olahraga lain yang butuh biaya sewa lapangan. Di sini, paling hanya beli kopi.
Yang lain sepakat. Di usia yang tidak lagi muda, catur menjadi pilihan yang pas. Tidak butuh tenaga besar, tapi tetap menguras pikiran.
Budi, 57 tahun, menambahkan satu hal penting: suasana.
Trotoar yang rindang. Terbuka. Orang lalu-lalang. Semua itu memberi energi.
“Bisa ngurangin stres,” katanya.
Di tengah kota yang semakin sibuk, lapak catur di Bogor ini seperti oase kecil. Tanpa gemerlap. Tanpa fasilitas mewah.
Hanya papan kayu. Bidak hitam putih. Dan orang-orang yang datang dengan satu tujuan sederhana: menikmati hidup, satu langkah demi satu langkah.***
