Monday, 20 April 2026
HomeTravellingWisata Bogor Berubah Arah, Kini Menyebar ke 23 Desa Wisata

Wisata Bogor Berubah Arah, Kini Menyebar ke 23 Desa Wisata

Bogordaily.net – Wisata Bogor sedang naik kelas. Tidak banyak yang menyangka lajunya secepat ini.

Kabupaten Bogor kini bukan sekadar pelarian akhir pekan warga Jakarta. Ia berubah menjadi magnet besar. Bahkan terbesar di Jawa Barat. Angkanya tidak main-main: lebih dari 15,7 juta kunjungan sepanjang 2025. Target awalnya hanya 15 juta. Terlampaui.

Di balik angka itu ada satu benang merah: arah kebijakan. Bupati Bogor, Rudy Susmanto, memilih menekan gas sektor pariwisata. Tidak setengah-setengah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ria Marlisa A, menyebut capaian itu dengan nada ringan. Tapi dampaknya berat. “Alhamdulillah terlampaui,” katanya dalam sebuah dialog. Sederhana. Namun maknanya luas.

Sebenarnya, kekuatan wisata Bogor sudah lama ada. Alamnya lengkap. Gunung ada. Hutan ada. Air terjun bertebaran. Budaya hidup. Wisata buatan pun tumbuh. Satu yang tidak dimiliki: laut.

Itu justru membuat Bogor unik. Ia tidak bergantung pada satu jenis wisata. Diversifikasi terjadi secara alami. Ini yang membuatnya tahan banting.

Puncak masih jadi primadona. Tidak tergeser. Tapi pemerintah daerah tampaknya belajar dari masa lalu: terlalu bergantung pada satu titik itu berisiko. Maka lahirlah strategi baru—menyebar pusat kunjungan.

Desa wisata menjadi jawabannya.

Ada 23 desa wisata yang kini didorong. Ini bukan sekadar proyek papan nama. Ada pergerakan ekonomi di dalamnya. UMKM tumbuh. Homestay bermunculan. Aktivitas edukasi dikembangkan.

Nama-nama seperti Tugu Selatan, Tugu Utara, hingga Malasari mulai naik ke permukaan. Bahkan Malasari sudah dilirik pihak luar negeri. Itu sinyal penting: wisata Bogor mulai terdengar sampai keluar pagar.

Efeknya terasa ke bawah. Uang tidak lagi berputar di kawasan tertentu saja. Ia mengalir ke desa-desa. Ini yang sering disebut: pariwisata sebagai mesin pemerataan.

Target berikutnya sudah dipasang. Tahun 2026: 16 juta wisatawan.

Ambisius? Tidak juga. Dengan tren sekarang, angka itu realistis.

Promosi terus diperkuat. Event diperbanyak. Media digital dimaksimalkan. Sumber daya manusia juga dibenahi—karena pariwisata bukan hanya soal tempat, tapi juga pelayanan.

Bogor sedang membuktikan satu hal: jika dikelola serius, sektor ini bisa jadi tulang punggung ekonomi daerah.

Dan tampaknya, perjalanan wisata Bogor masih panjang. Baru mulai menanjak.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here