Bogordaily.net – Situ Sangiang Majalengka selalu punya cara untuk membuat orang berhenti sejenak—bukan hanya karena danau yang tenang, tetapi juga karena satu pohon tua yang bentuknya tak biasa.
Di tengah kawasan Situ Sangiang, Kabupaten Majalengka, berdiri sebuah pohon nunuk yang oleh warga disebut “berkaki delapan.”
Bukan tanpa alasan. Akar-akarnya menjulur, menapak tanah, lalu mengeras seperti tiang. Dari kejauhan, tampak seperti delapan kaki menopang satu tubuh pohon besar.
Siapa pun yang pertama kali melihatnya pasti berhenti. Mengernyit. Lalu bertanya: ini pohon atau makhluk?
Situ Sangiang Majalengka memang tidak sekadar destinasi alam. Ia seperti ruang temu antara logika dan rasa. Antara penjelasan ilmiah dan cerita turun-temurun.
Di Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, pohon itu sudah lama menjadi bagian dari lanskap. Kata warga, usianya ratusan tahun. Tidak ada yang tahu pasti kapan ia mulai tumbuh. Tapi yang jelas, ia sudah ada jauh sebelum jalan setapak dibuka, sebelum wisatawan berdatangan.
Yang membuatnya menarik bukan hanya bentuknya. Tapi juga cerita yang mengikutinya.
Ada yang menyebutnya pohon keramat. Ada yang percaya kulitnya membawa tuah—terutama untuk urusan rumah tangga. Kepercayaan seperti ini tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, diwariskan dari generasi ke generasi.
Akibatnya, beberapa bagian batang pohon sempat rusak. Diambil oleh tangan-tangan yang percaya lebih pada mitos daripada kelestarian. Warga kemudian bergerak. Bambu dipasang mengelilingi pohon. Sebuah cara sederhana untuk menjaga yang tersisa.
Namun, jika kita mundur selangkah—melihat dengan kacamata ilmu—fenomena ini sebenarnya bisa dijelaskan.
Pohon nunuk, sejenis beringin, memang dikenal memiliki akar gantung. Akar ini turun dari cabang, mencari tanah, lalu berubah menjadi batang baru. Dalam kondisi tertentu, jumlahnya bisa banyak. Delapan, sepuluh, bahkan lebih. Alam tidak pernah bekerja dengan simetri yang rapi, tapi justru di situlah keindahannya.
Situ Sangiang Majalengka akhirnya menjadi lebih dari sekadar tempat wisata. Ia adalah pelajaran diam-diam. Tentang bagaimana manusia memaknai alam—kadang dengan rasa takut, kadang dengan rasa kagum.
Dan pohon berkaki delapan itu tetap berdiri. Diam. Tidak menjelaskan apa-apa. Tapi justru di situlah daya tariknya.***
