Monday, 27 April 2026
HomeKota BogorBenarkah Yogya Cimanggu Avenue Jadi Biang Kemacetan di Jalan KH Sholeh...

Benarkah Yogya Cimanggu Avenue Jadi Biang Kemacetan di Jalan KH Sholeh Iskandar? Ini Penjelasan Dishub dan Pengelola

Bogordaily.net – Operasional pusat perbelanjaan Yogya Cimanggu Avenue di Jalan KH Sholeh Iskandar atau Jalan Sholis, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, memunculkan sorotan baru.

Kehadiran gedung baru tersebut disebut beriringan dengan meningkatnya kepadatan lalu lintas di salah satu koridor utama Kota Bogor yang selama ini memang dikenal padat.

Ruas Jalan Sholeh Iskandar yang menghubungkan kawasan Jambu Dua, Simpang Yasmin, hingga akses Tol BORR, dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian pengguna jalan setelah antrean kendaraan dilaporkan mengular, terutama saat jam sibuk dan akhir pekan.

Di tengah keluhan masyarakat soal kemacetan yang dinilai makin parah, Dinas Perhubungan Kota Bogor dan pihak manajemen Yogya Cimanggu sama-sama memberikan penjelasan, meski dengan sudut pandang berbeda.

Dishub Soroti Minim Koordinasi Saat Peresmian

Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Kota Bogor, Ridwan, menyebut operasional gedung baru Yogya sempat memunculkan gangguan arus lalu lintas karena pembukaan pusat perbelanjaan dilakukan tanpa koordinasi optimal dengan pihak perhubungan.

Menurutnya, lonjakan kendaraan pengunjung yang terjadi saat operasional awal berdampak langsung pada penumpukan di akses keluar masuk pusat perbelanjaan yang posisinya berdekatan dengan badan jalan utama.

“Kepadatan terjadi karena antusiasme tinggi pengunjung yang memuncak pada jam sibuk. Kami menyayangkan pihak pengelola tidak ada koordinasi dan komunikasi dengan Dishub terkait pembukaan atau peresmian gedung baru tersebut,” ucapnya.

Dishub pun mengaku langsung menyiagakan personel di titik-titik krusial guna menarik arus dan mencegah antrean kendaraan semakin panjang.

Fokus pengaturan dilakukan mulai dari ujung simpang Tol BORR hingga simpang Yasmin, yang dinilai menjadi titik terkunci pergerakan kendaraan.

U-Turn Dekat UIKA Ikut Jadi Sorotan

Selain operasional pusat belanja, Dishub juga menyoroti keberadaan putaran balik atau U-turn dekat Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) yang dinilai memengaruhi pola kepadatan.

Namun Ridwan menegaskan, penutupan bukaan tersebut justru dilakukan untuk mengurangi hambatan samping yang selama ini memperburuk tundaan lalu lintas.

Namun Ridwan menegaskan, penutupan bukaan tersebut justru dilakukan untuk mengurangi hambatan samping yang selama ini memperburuk tundaan lalu lintas.

“Semakin banyak bukaan, semakin banyak tundaan lalu lintas. Namun, kami sudah membuat kajian dan berkoordinasi dengan Kementerian PU untuk pemindahan U-turn tersebut ke ruas jalan yang lebih lebar agar lebih representatif,” jelasnya.

Menurut Dishub, persoalan kemacetan di Jalan KH Sholeh Iskandar sejatinya lebih kompleks karena volume kendaraan di koridor tersebut saat ini disebut hampir melampaui kapasitas jalan.

Pertumbuhan kawasan komersial, aktivitas ekonomi, hingga peningkatan perjalanan warga di jalur tersebut disebut ikut menjadi pemicu.

“Evaluasi untuk bukaan U-turn sudah kami sampaikan ke pihak PUPR. Saat ini kepadatan memang terkunci mulai dari simpang BORR, underpass hingga depan Yogya. Sementara arah sebaliknya menuju Salabenda relatif masih lancar,” katanya.

Manajemen Yogya Buka Suara

Di sisi lain, pihak pengelola Yogya Cimanggu Avenue tidak membantah adanya kontribusi terhadap peningkatan arus kendaraan.

Regional Manager Yogya Cimanggu Avenue, Endang Yudhi, mengakui operasional gedung baru memang memberi dampak lalu lintas.

Namun ia menolak jika seluruh persoalan kemacetan dibebankan pada keberadaan mal tersebut.

Menurutnya, kemacetan di Jalan Sholeh Iskandar sudah terjadi jauh sebelum pusat perbelanjaan itu beroperasi.

“Memang kita akui ada kemacetan. Setiap bangunan baru atau mal yang buka pasti ada (dampak) kemacetan. Cuman kita harus melihatnya dari sisi keseluruhan. Sebelum mal ini buka pun, di depan sini kan memang sudah macet,” ucapnya

Menurut analisa manajemen, salah satu titik masalah justru terletak pada radius U-turn yang terlalu dekat dengan akses mal.

Kondisi itu membuat kendaraan yang baru keluar harus segera mengambil jalur kanan untuk putar balik, yang berpotensi menimbulkan antrean di belakangnya.

“Bukan kita tidak mau disalahkan, ya. Memang radius U-turn-nya berdekatan. Begitu keluar mal, mau tidak mau kendaraan harus langsung mepet ke kanan. Itulah yang memicu hambatan,” jelasnya.

Meski demikian, pihak manajemen menyatakan siap terlibat dalam evaluasi bersama pemerintah guna mencari solusi jangka panjang.

“Bukan kami mau lempar tanggung jawab, tidak. Memang ada kontribusi dari operasional kami, cuman arahnya bukan 100 persen karena kita. Ada faktor teknis jalanan juga yang berpengaruh,” katanya.

Jalan KH Sholeh Iskandar selama ini dikenal sebagai salah satu jalur dengan beban lalu lintas tinggi di Kota Bogor.

Selain menjadi penghubung utama menuju Tol BORR, jalur ini juga dipadati pusat niaga, kawasan permukiman, fasilitas pendidikan, dan pusat belanja.

Karena itu, kehadiran pusat aktivitas baru seperti Yogya Cimanggu dinilai otomatis memberi tambahan beban pada sistem lalu lintas yang sudah padat.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here