Bogordaily.net – Harga BBM Pertamina pada Jumat 1 Mei 2026 pagi belum berubah. Hal ini unik karena Pertamina biasanya mengumumkan pembaruan harga BBM pada tanggal 1 setiap bulannya.
Kebiasaan itu mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang merujuk pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 11 Tahun 2022 tentang Perhitungan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak.
Tapi sebelumnya pada April kemarin Pertamina juga memperbarui harga BBM nonsubsidi pada 18 April, di luar kebiasaan. Naiknya harga tersebut dipicu oleh naiknya harga minyak dunia akibat krisis di Timur Tengah yang tak berkesudahan.
Berikut rincian harga BBM per 18 April 2026.
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp12.300 per liter
Pertamax Green 95: Rp12.900 per liter
Pertamax Turbo: Rp19.400 per liter (Naik)
Dexlite: Rp23.600 per liter (Naik)
Pertamina Dex: Rp23.900 per liter (Naik)
Solar Subsidi: Rp6.800
Di tengah kenaikan beberapa produk bensin nonsubsidi tersebut, pemerintah dan Pertamina masih mempertahankan harga BBM subsidi. Harga Pertalite (RON 90) dipastikan tidak mengalami perubahan dan tetap di angka Rp10.000 per liter.
Begitu pula dengan Biosolar (Solar Subsidi) yang masih dipatok seharga Rp6.800 per liter.
Untuk jenis Pertamax (RON 92), Pertamina memilih untuk tidak melakukan perubahan harga pada periode ini, yakni tetap di angka Rp12.300 per liter.
Hal yang sama berlaku untuk Pertamax Green 95 yang tetap dibanderol Rp12.900 per liter guna terus mendorong penggunaan bahan bakar ramah lingkungan.
Di tengah krisis energi ini, Direktur Kebijakan Publik dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Media Wahyudi Askar menilai menaikkan harga BBM nonsubsidi termasuk Pertamax sudah tepat. Alasannya untuk menjaga ruang fiskal di tengah tingginya harga minyak dunia.
“Menaikkan harga BBM nonsubsidi secara prinsip tepat. Alasannya, pertama tekanan APBN kita lumayan besar dan harga minyak global masih sangat tinggi,” ujar Media pekan ini.
Menurut dia, harga minyak global masih sangat tinggi sehingga bila BBM nonsubsidi tidak disesuaikan akan semakin menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta kinerja badan usaha, baik milik negara maupun swasta.
“Jadi beban fiskal negara meningkat karena subsidi dan kompensasi energi,” kata Media.
Media meyakini dengan menaikkan BBM nonsubsidi, ruang fiskal dapat terjaga karena mengurangi kebutuhan subsidi. Ia menyebut selama ini harga BBM nonsubsidi memang mengikuti perkembangan harga pasar.
Apabila harga di pasar global naik, harga jualnya juga akan naik. Jika tidak, hal tersebut akan membuat Pertamina merugi.***
