Bogordaily.net – Upaya penanganan persoalan sampah di Kabupaten Bogor memasuki babak baru.
Pemerintah daerah tengah menyiapkan langkah strategis dengan mengoptimalkan pengolahan sampah menjadi energi listrik melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Berlokasi di TPA Galuga, fasilitas ini diproyeksikan mampu mengolah hingga 1.300 ton sampah setiap harinya menjadi energi listrik. Program tersebut diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi beban timbunan sampah yang terus meningkat setiap tahun.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyampaikan bahwa realisasi proyek ini akan segera dimulai dalam waktu dekat.
“Inshaallah ground breaking PSEL Galuga dilaksanakan tahun ini. Nantinya, saat sudah beroperasi 1.300 ton sampah akan diubah menjadi energi listrik setiap harinya,” kata Bupati Bogor, Rudy Susmanto kepada wartawan, Kamis 30 April 2026.
Timbunan Sampah Capai 15 Juta Ton
Kondisi di TPA Galuga saat ini terbilang cukup memprihatinkan. Volume sampah yang menumpuk telah mencapai sekitar 15 juta ton, berasal dari wilayah Kota Bogor maupun Kabupaten Bogor.
Besarnya angka tersebut mencerminkan tantangan serius dalam pengelolaan sampah, terutama dengan meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi yang turut memicu lonjakan produksi limbah setiap harinya.
Dengan hadirnya PSEL, diharapkan sebagian besar sampah yang selama ini hanya ditimbun dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Rudy mengungkapkan bahwa produksi sampah harian di Kabupaten Bogor saat ini mencapai sekitar 3.000 ton per hari. Namun, kemampuan pengangkutan sampah hanya berkisar 1.500 ton per hari.
Artinya, setengah dari total sampah yang dihasilkan setiap hari berpotensi menumpuk dan menambah beban di TPA.
“Saat ini, produksi sampah di Kabupaten Bogor mencapai 3.000 ton per hari. Sementara daya angkut 1.500 ton untuk dibuang ke TPA Galuga. Akan lebih efektif dan efisien jika sampah ini dikelola dari tingkat bawah atau tingkat desa/kelurahan,” ucap Rudy.
Ketimpangan ini menjadi salah satu alasan kuat mengapa pemerintah daerah mendorong sistem pengelolaan sampah berbasis wilayah, dimulai dari desa dan kelurahan.
Dorong Pengelolaan Sampah dari Tingkat Desa
Selain mengandalkan teknologi PSEL, Pemkab Bogor juga menekankan pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya. Program Bantuan Keuangan (Bankeu) infrastruktur desa tahun 2026 diarahkan untuk mendukung upaya tersebut.
Dengan pengelolaan yang dilakukan sejak tingkat desa, diharapkan volume sampah yang harus dibawa ke TPA bisa ditekan secara signifikan. Di sisi lain, langkah ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Menurut Rudy, jika dikelola dengan baik, sampah dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi desa. Selain itu, lingkungan juga menjadi lebih tertata, sehat, dan bersih.
Menariknya, program Bankeu infrastruktur desa tidak hanya difokuskan pada pengelolaan sampah. Pemerintah Kabupaten Bogor juga mengalokasikan anggaran tersebut untuk berbagai sektor strategis lainnya.
Di antaranya adalah pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan dan irigasi, serta program peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk target mencetak minimal satu sarjana dari setiap desa.
Langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak hanya berorientasi pada fisik, tetapi juga pada peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
Dengan kombinasi antara teknologi modern seperti PSEL dan pendekatan berbasis masyarakat di tingkat desa, Pemkab Bogor berupaya menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini tidak hanya akan mengurangi beban lingkungan, tetapi juga berkontribusi dalam penyediaan energi alternatif serta peningkatan ekonomi lokal.***
