Bogordaily.net – Cara hitung kalori lewat foto kini menjadi terobosan baru dalam dunia kesehatan digital yang mulai diminati masyarakat Indonesia, terutama bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan tanpa ribet menggunakan aplikasi tambahan.
Tren gaya hidup sehat terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Salah satu inovasi terbaru datang dari layanan pelacak kalori berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan pengguna menerapkan cara hitung kalori lewat foto hanya melalui aplikasi pesan instan seperti WhatsApp.
Layanan ini diperkenalkan oleh Kalg, platform yang dirancang untuk mempermudah masyarakat memantau asupan nutrisi tanpa perlu mengunduh aplikasi baru. Pengguna cukup mengirim foto makanan—baik itu hidangan rumahan seperti rendang maupun jajanan kaki lima—lalu sistem akan secara otomatis menampilkan estimasi kalori dan kandungan nutrisinya dalam hitungan detik.
Pendekatan ini dinilai menjawab tantangan klasik dalam program diet. Selama ini, proses mencatat makanan, menghitung kalori, hingga beradaptasi dengan aplikasi baru sering kali menjadi hambatan yang membuat konsistensi pengguna menurun di tengah jalan.
Dengan hadirnya fitur cara hitung kalori lewat foto, proses tersebut disederhanakan menjadi aktivitas sehari-hari yang lebih natural, yakni mengirim pesan. Hal ini sejalan dengan perilaku digital masyarakat Indonesia yang sangat akrab dengan WhatsApp, dengan penetrasi penggunaan mencapai sekitar 90% pengguna internet.
Founder Kalg, Chandra Ishano, menilai masyarakat Indonesia cenderung menghindari aplikasi baru dan sistem berlangganan jangka panjang. Oleh karena itu, Kalg mengusung model program personal berdurasi 3–6 bulan, di mana pengguna hanya membayar sesuai target penurunan berat badan, tanpa komitmen berkelanjutan.
Secara global, aplikasi pelacak kalori telah menunjukkan dampak signifikan. Platform seperti Lose It! dan MyFitnessPal masing-masing tercatat membantu pengguna menurunkan puluhan juta kilogram berat badan. Namun, adopsi di Indonesia masih menghadapi tantangan tersendiri.
Data menunjukkan sekitar sepertiga orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas. Di sisi lain, solusi digital yang ada belum sepenuhnya relevan dengan kebiasaan lokal, terutama dalam memahami jenis makanan khas Indonesia.
Kalg mencoba mengatasi celah tersebut dengan sistem yang mampu mengenali detail makanan lokal, mulai dari porsi, bahan, hingga bumbu yang digunakan. Head of Engineering & Product Kalg, Luthfi Hariz, menegaskan bahwa pendekatan berbasis konteks lokal menjadi kunci agar teknologi ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Di tengah pertumbuhan pesat sektor kesehatan digital yang diproyeksikan mencapai US$12,7 miliar pada 2031, inovasi seperti ini menjadi indikasi perubahan arah industri. Tidak hanya fokus pada teknologi canggih, tetapi juga pada kemudahan penggunaan dan relevansi dengan kebiasaan sehari-hari.
Pada akhirnya, cara hitung kalori lewat foto bukan sekadar fitur teknologi, melainkan bagian dari upaya menyederhanakan proses hidup sehat. Dengan sistem yang lebih praktis dan terintegrasi dalam rutinitas harian, peluang untuk menjaga konsistensi dalam menurunkan berat badan pun semakin terbuka.***
