Friday, 1 May 2026
HomeHiburanSafrie Ramadhan dan Jule Trending, Kisruh Konten Keluarga Bikin Geger Netizen

Safrie Ramadhan dan Jule Trending, Kisruh Konten Keluarga Bikin Geger Netizen

Bogordaily.net – Safrie Ramadhan dan Jule kembali jadi bahan gunjingan. Bukan lagi sekadar bisik-bisik soal kedekatan. Kali ini terang-terangan. Go public. Lalu viral. Lalu meledak di platform X.

Begitulah cara kisah ini bergerak. Cepat. Panas. Tanpa jeda.

Awalnya sederhana. Kedekatan antara Julia Prastini—yang akrab disapa Jule—dengan Safrie mulai terlihat lebih terbuka. Mereka tak lagi bersembunyi. Konten demi konten diunggah. Bersama. Santai. Seolah tak ada beban.

Namun publik tidak selalu santai.

Salah satu video yang beredar memperlihatkan kebersamaan mereka di tempat hiburan malam. Narasinya ringan. Bahkan cenderung bercanda. Tapi justru di situlah masalah mulai tumbuh.

“POV kenalan di dugeman, siang hari bolong dapet janda.”

Kalimat pendek. Tapi efeknya panjang.

Tidak berhenti di situ. Dua foto lain ikut beredar. Menampilkan kedekatan Safrie dengan anak-anak Jule. Bagi sebagian orang, ini bukan lagi urusan dua orang dewasa. Ini sudah menyentuh wilayah yang lebih sensitif: anak-anak.

Dan di situlah cerita berubah arah.

Safrie Ramadhan dan Jule tak hanya jadi bahan gosip. Mereka menjadi pusat polemik.

Unggahan-unggahan itu ditonton puluhan ribu kali. Komentar mengalir deras. Ada yang mendukung. Banyak pula yang mengkritik. Media sosial, seperti biasa, tak pernah benar-benar netral.

Lalu muncul satu suara yang selama ini diam.

Na Daehoon.

Mantan suami Jule itu akhirnya bicara. Tidak lagi menahan. Tidak lagi memilih diam.

Emosinya tumpah.

Ia menyoroti unggahan yang melibatkan anak-anaknya. Bukan hanya soal kehadiran Safrie. Tapi juga soal caption yang dianggap melewati batas.

“Keliatan kan lebih happy sama siapa sumpah jokes.”

Kalimat itu mungkin dimaksudkan sebagai candaan. Tapi bagi seorang ayah, itu bukan hal ringan.

Ada juga kalimat lain yang lebih tajam. Lebih provokatif.

“Beres nidurin anaknya, giliran nidurin emaknya.”

Di titik itu, Daehoon merasa cukup.

Ia mengaku selama ini menahan diri. Tidak pernah membuka aib. Tidak pernah menyerang. Tapi menurutnya, batas sudah dilewati.

“Jujur, aku sudah menahan sampai tahap ini. Aku tidak pernah menjelekkan namamu.”

Nada itu bukan lagi sekadar kecewa. Itu marah yang ditahan lama.

Ia mempertanyakan empati. Bukan hanya kepada Jule. Tapi juga kepada Safrie.

Baginya, ini bukan sekadar hubungan baru. Ini tentang dampak pada tiga anak kecil.

“Apakah tidak ada rasa bersalah sedikit pun?”

Pertanyaan itu menggantung. Tidak mudah dijawab. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya citra. Tapi juga kehidupan anak-anak.

Daehoon juga menyinggung soal rasa hormat. Sebagai ayah. Sebagai pihak yang masih terikat melalui anak-anak.

Menurutnya, menjadikan anak sebagai bahan candaan publik adalah hal yang tidak bisa diterima.

Ia bahkan memberi peringatan.

Jika semua ini terus berlanjut, ia siap membuka fakta-fakta lain yang selama ini disimpan.

“Kalau masih diteruskan, aku akan bongkar semuanya.”

Kalimat itu seperti garis batas terakhir.

Di tengah riuhnya media sosial, satu hal menjadi jelas: cerita ini belum selesai.

Safrie Ramadhan dan Jule kini bukan hanya tentang hubungan baru. Ini sudah menjadi drama publik. Dengan emosi. Dengan luka. Dengan kemungkinan babak berikutnya yang lebih panas.

Dan seperti banyak kisah lain di era digital—yang pribadi bisa berubah jadi konsumsi publik dalam hitungan detik—semua orang kini menonton dan menunggu.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here