Saturday, 2 May 2026
HomeInternasionalPangkalan Militer AS di Timur Tengah Dihantam, Skala Kerusakan Bikin Washington Geleng...

Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Dihantam, Skala Kerusakan Bikin Washington Geleng Kepala

Bogordaily.net – Pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah ternyata tidak sekuat yang dibayangkan. Laporan investigasi CNN membuka tabir: kerusakan yang terjadi bukan sekadar insiden kecil, melainkan pukulan besar dalam konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu.

Data yang dihimpun—mengutip analisis citra satelit dan wawancara pejabat dari Amerika Serikat serta negara-negara Teluk—menyebut sedikitnya 16 fasilitas terdampak di delapan negara. Beberapa di antaranya bahkan tak lagi berfungsi optimal.

Di balik angka itu, ada cerita yang lebih dalam.

Seorang staf kongres AS yang mengetahui penilaian kerusakan menggambarkannya dengan jujur: tidak seragam. Ada yang hancur total. Ada pula yang masih bisa diselamatkan.

“Mulai dari yang dramatis—fasilitas hancur dan harus ditutup—hingga yang masih layak diperbaiki karena nilai strategisnya,” ujarnya.

Namun satu hal sama: ini bukan serangan biasa.

Sumber lain dari AS bahkan menyebutnya sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Intensitasnya berbeda. Presisinya juga berbeda.

Serangan dari Iran dan sekutunya tidak asal menghantam. Mereka memilih target dengan cermat. Radar canggih. Infrastruktur komunikasi. Pesawat militer. Semua adalah aset mahal—dan sulit diganti.

“Radar kami adalah sumber daya paling mahal dan paling terbatas di kawasan,” kata sumber tersebut.

Artinya jelas: ini bukan sekadar serangan militer. Ini strategi ekonomi perang.

Pangkalan militer yang selama ini menjadi simbol dominasi justru berubah menjadi titik lemah. Karena biaya memperbaikinya tidak kecil.

Pejabat Pentagon, Jules Jay Hurst III, memperkirakan konflik ini telah menguras sekitar US$25 miliar. Tapi angka itu belum tentu final. Sumber lain menyebut potensi biaya bisa melonjak hingga US$40-50 miliar.

Beban itu tidak hanya dirasakan Washington.

Negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan juga mulai berpikir ulang. Seorang sumber dari Arab Saudi mengungkapkan kegelisahan yang jarang diucapkan secara terbuka:

Aliansi dengan AS, katanya, tidak lagi terasa “tak tergoyahkan”.

Di sisi lain, muncul dimensi baru yang lebih kompleks.

Sejumlah laporan menuding China ikut terseret—bukan secara langsung, tetapi lewat teknologi. Iran disebut memanfaatkan satelit mata-mata TEE-01B untuk memantau dan mengarahkan serangan presisi drone serta rudal.

Tuduhan itu serius.

Satelit digunakan untuk analisis sebelum dan sesudah serangan di wilayah seperti Arab Saudi dan Yordania. Namun Beijing langsung membantah keras. Klaim tersebut disebut sebagai laporan “dibuat-buat” dan “palsu”.

Di tengah semua ini, satu hal menjadi jelas:

Pangkalan militer bukan lagi sekadar titik pertahanan. Ia telah menjadi target utama—dan sekaligus simbol rapuhnya dominasi di era perang presisi.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here