Bogordaily.net – Jemaah haji Kota Bogor memulai hari ketiga mereka di Tanah Suci dengan cara yang sederhana, tapi penuh makna. Bukan sekadar perjalanan wisata. Ini tentang menapaktilasi jejak sejarah, meresapi iman, dan mengumpulkan kekuatan batin sebelum puncak ibadah.
Hari itu, rombongan Kloter JKS-10 berada di Madinah—kota yang tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada doa yang terucap, selalu ada rindu yang dipeluk.
Agenda dimulai dengan city tour. Tapi ini bukan city tour biasa. Ini perjalanan hati.
Mereka menuju Gunung Uhud. Tempat di mana sejarah Islam ditulis dengan darah dan kesetiaan. Di sana, puluhan syuhada dimakamkan. Termasuk Hamzah bin Abdul-Muttalib—sosok pemberani, paman Rasulullah yang gugur sebagai syuhada.
Tidak banyak kata di sana. Hanya doa. Dan diam yang panjang.
Perjalanan berlanjut ke Masjid Quba. Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Di tempat itu, para jemaah melaksanakan salat dan memanjatkan doa. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Seolah waktu berjalan lebih lambat.
Jemaah haji Kota Bogor tampak larut dalam suasana. Tidak ada yang terburu-buru. Semua ingin menikmati setiap detik.
Menjelang akhir kegiatan, rombongan singgah di kebun kurma. Di sana, suasana berubah lebih cair. Ada tawa. Ada canda. Ada rasa rindu rumah yang sedikit terobati lewat oleh-oleh.
Kurma Ajwa—yang sering disebut kurma nabi—menjadi buruan utama. Selain itu, aneka cokelat, permen, hingga cendera mata khas Madinah ikut diborong.
Namun, di balik semua aktivitas itu, ada satu harapan yang sama.
Jemaah haji Kota Bogor ingin tetap sehat. Tetap kuat. Karena perjalanan ini belum selesai. Masih ada fase puncak ibadah di Armuzna yang akan dijalani pada akhir Mei nanti.
Doa pun terus mengalir.
Semoga setiap langkah mereka dimudahkan. Setiap doa dikabulkan. Dan setiap lelah menjadi pahala. Aamiin ya Rabbal Aalaamiin.***
