Bogordaily.net — Semangat membangun budaya bahasa asing terus digaungkan dalam ajang Language Festival 2026 yang digelar di lingkungan Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami, Bogor, Selasa (5/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di basement putra itu menjadi momentum penting untuk mendorong para santri lebih percaya diri menggunakan bahasa Inggris dan Arab dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pembukaan acara, Ust. Dian Firmansyah, S.Si menegaskan bahwa penggunaan bahasa asing bukan sekadar aturan pondok, melainkan bagian dari identitas pendidikan di Ummul Quro Al-Islami.
“Don’t speak Indonesian, but speak English and Arabic in this boarding,” ujar Dian di hadapan para santri.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan berbahasa asing merupakan budaya utama yang harus diterapkan seluruh santri selama berada di lingkungan pesantren.
Meski demikian, masih banyak pelajar yang enggan berbicara menggunakan bahasa asing karena takut salah dan khawatir mendapat ejekan dari teman-temannya. Padahal, menurut panitia dan para pembimbing, kesalahan justru merupakan bagian penting dalam proses belajar.
Ust. Aulia Rahman menekankan bahwa rasa takut melakukan kesalahan hanya akan menghambat perkembangan kemampuan bahasa seseorang.
“Don’t be scared to do mistake, because mistakes are a part of learning,” katanya.
Ia menjelaskan, tanpa keberanian mencoba dan melakukan kesalahan, seseorang tidak akan pernah mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran.
Acara Language Festival 2026 juga menghadirkan narasumber Ust. Muhammad Rizki Waluya, S.Sos., M.Comm yang membahas pentingnya kekuatan bahasa dalam kehidupan sosial.
Menurutnya, kata-kata memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir seseorang.
“Words can change someone’s mind,” ujar Rizki.
Ia kemudian memberikan contoh bagaimana opini yang disampaikan seseorang dapat memengaruhi orang lain, termasuk dalam membentuk kebiasaan tertentu. Dalam ilustrasi yang disampaikan, seseorang yang awalnya tidak merokok akhirnya ikut menjadi perokok setelah mendengar berbagai pandangan positif tentang rokok dari temannya.
Selain itu, Rizki juga menegaskan bahwa ucapan seseorang mencerminkan isi hati dan kualitas pribadinya.
“Words are reflection of our heart,” jelasnya.
Tak hanya soal komunikasi, bahasa juga dinilai sebagai simbol identitas dan nilai diri seseorang.
“Language is not just communication, it is identity and power,” tambahnya.
Dalam festival tersebut, panitia juga memperkenalkan kandidat *Language Ambassador* yang nantinya akan menjadi inspirasi sekaligus representasi bahasa dalam berbagai agenda sekolah.
Usth. Siti Fikriatul Azizah, S.Pd menyebut para duta bahasa itu diharapkan mampu membangun semangat positif di kalangan santri.
“The language ambassador will inspire all student and be a representative in every agenda of language,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa festival ini bukan ajang mencari siapa yang paling hebat, melainkan ruang bersama untuk belajar dan berkembang.
Mengusung tema Grow Together, Support Each Other, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat budaya bahasa asing di lingkungan pesantren sekaligus membangun rasa percaya diri para santri dalam berkomunikasi secara global.***
