Bogordaily.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mulai mempersiapkan langkah strategis untuk meningkatkan predikat Kota Sehat dari Swasti Saba tingkat menengah menjadi Swasti Saba Wistara (tertinggi) pada penilaian Kabupaten/Kota Sehat tahun 2027 mendatang.
Salah satunya dengan rapat Kordinasi. Hadir antara lain, Dinas Kesehatan Kota Bogor,Forum Kota Sehat Kota Bogor,jajaran pemerintah tingkat Kota Bogor di Plaza Balaikota Gedung Paseban Sri Bima Kota Bogor pada Senin 11 Mei 2026
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Erna Nuraena, usai rapat koordinasi evaluasi dan persiapan penilaian Kota Sehat
Erna mengatakan, capaian Kota Bogor pada tahun sebelumnya sudah membanggakan karena berhasil meraih penghargaan Swasti Saba tingkat tengah.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas seluruh indikator kota sehat di Kota Bogor.
“Alhamdulillah, tahun kemarin kita meraih Swasti Saba peringkat tengah Kota Sehat. Ini sudah sangat membanggakan karena di Jawa Barat hanya delapan kabupaten/kota dan secara nasional hanya 41 kabupaten/kota yang mendapatkannya,” ujar dr. Erna Nuraena.
Meski demikian, Pemerintah Kota Bogor menargetkan peningkatan predikat menjadi Swasti Saba Wistara, yang merupakan tingkatan tertinggi dalam penilaian Kabupaten/Kota Sehat.
“Tapi tentu kita ingin naik ke level yang lebih tinggi yaitu Swasti Saba Wistara. Penilaiannya dilakukan setiap tahun ganjil, jadi nanti akan dipilih kembali pada tahun 2027,” katanya.
Untuk mencapai target tersebut, Dinas Kesehatan bersama perangkat daerah terkait mulai melakukan evaluasi terhadap capaian tahun sebelumnya sekaligus menyusun strategi peningkatan nilai pada seluruh indikator penilaian.
“Tentu persiapannya harus dilakukan dari sekarang. Maka hari ini kita melakukan rapat koordinasi untuk mengevaluasi hasil capaian 2025 yang harus diinput dan dilaporkan ke provinsi dan kementerian,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam rapat tersebut juga dibahas berbagai strategi guna meningkatkan capaian pada sembilan tatanan kota sehat yang menjadi indikator penilaian nasional.
“Dari sembilan tatanan itu terdapat 136 indikator. Untuk mencapai Wistara, capaian indikator harus mencapai 91 persen,” ungkapnya.
Adapun sembilan tatanan kota sehat tersebut meliputi kawasan permukiman,sehat, pendidikan, pariwisata, perkantoran dan industri, pasar, lalu lintas dan transportasi, kesiapsiagaan bencana, hingga berbagai aspek lingkungan dan pelayanan masyarakat lainnya.
“Nanti akan dibahas indikator-indikatornya dan apa saja yang harus dilakukan oleh masing-masing perangkat daerah yang memangku indikator tersebut,” tutup dr. Erna.***
