Bogordaily.net – Jurnalis Republika diculik tentara Israel menjadi kabar yang menyesakkan pada Senin malam. Bukan hanya karena dua warga negara Indonesia disebut ditangkap di laut lepas. Tapi juga karena mereka datang bukan membawa senjata. Mereka membawa kamera, catatan liputan, dan misi kemanusiaan untuk Palestina.
Dua nama itu: Bambang Noroyono—akrab dipanggil Abeng—dan Thoudy Badai. Keduanya merupakan jurnalis dari Republika yang ikut dalam pelayaran Global Sumud Flotilla 2026 menuju Palestina.
Di tengah perjalanan, kapal yang mereka tumpangi disebut dicegat tentara Zionis Israel. Sebuah video berdurasi sekitar 56 menit kemudian beredar. Video itu seperti pesan darurat dari tengah laut.
“Saya Bambang Noroyono alias Abeng, saya warga negara Indonesia dan saya adalah partisipan pelayaran misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026. Jika Anda menemukan video ini mohon disampaikan kepada pemerintah Republik Indonesia bahwa saya saat ini dalam penculikan tentara Zionis Israel,” ujar Bambang dalam rekaman tersebut.
Kalimat itu pendek. Tapi terasa berat.
Abeng tidak hanya meminta pembebasan. Ia juga menitip pesan agar pemerintah Indonesia tetap mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Dalam situasi tertekan sekalipun, pikirannya masih menuju Gaza.
Kabar mengenai jurnalis Republika diculik tentara Israel segera menyebar luas di media sosial. Banyak yang terkejut karena rombongan tersebut dikenal sebagai misi kemanusiaan sipil, bukan operasi politik ataupun militer.
Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menyebut dalam rombongan itu terdapat sembilan relawan asal Indonesia. Dua di antaranya adalah Bambang dan Thoudy yang menjalankan tugas jurnalistik sekaligus misi solidaritas kemanusiaan.
Peristiwa ini kembali memperlihatkan betapa panasnya kawasan konflik Palestina. Bahkan relawan dan jurnalis pun tidak luput dari risiko penangkapan. Laut yang seharusnya menjadi jalur bantuan berubah menjadi ruang intimidasi.
Kini publik menunggu langkah pemerintah Indonesia. Sebab kasus jurnalis Republika diculik tentara Israel bukan hanya menyangkut dua wartawan. Ini juga menyangkut perlindungan warga negara Indonesia di wilayah konflik internasional.
Dan malam ini, banyak orang Indonesia mungkin sedang bertanya dalam hati yang sama: bagaimana nasib Abeng dan Thoudy sekarang?.***
