Bogordaily.net – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan publik usai melakukan penertiban pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Cicadas, Kota Bandung.
Langkah penataan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengembalikan fungsi trotoar bagi pejalan kaki sekaligus menciptakan kawasan pasar yang lebih tertib, bersih, dan nyaman.
Namun di balik proses penertiban itu, perhatian publik justru tertuju pada cara Dedi Mulyadi berdialog langsung dengan para pedagang kecil yang selama ini mencari nafkah di area trotoar.
Salah satu momen yang ramai diperbincangkan terjadi ketika Dedi berbincang dengan seorang pedagang bernama Abah Haryoto.
Puluhan Tahun Berdagang di Trotoar Cicadas
Dilansir dari tayangan di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, Abah Haryoto diketahui telah berjualan selama puluhan tahun di kawasan Cicadas.
Ia sehari-hari menggantungkan hidup dari sebuah kios kecil di trotoar yang menjual berbagai kebutuhan ringan seperti rokok, minuman, dan barang kebutuhan harian lainnya.
Dalam perbincangan tersebut, Abah mengaku penghasilannya tidak besar dan cenderung tidak menentu setiap harinya.
Kondisi itu membuat banyak warganet merasa iba terhadap perjuangan pedagang kecil yang tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Dedi Mulyadi Tawarkan Solusi Pekerjaan Baru
Di tengah proses penertiban, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus membongkar lapak pedagang, tetapi juga memikirkan keberlanjutan pekerjaan masyarakat kecil.
Karena itu, Dedi menawarkan solusi pekerjaan baru kepada Abah Haryoto setelah kiosnya dibongkar.
“Jadi Abah ganti pekerjaan jadi penyapu kota. Bangunannya dibongkar,” kata Dedi.
Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian publik karena dinilai sebagai bentuk pendekatan yang lebih manusiawi dalam proses penataan kawasan kota.
Penataan Trotoar Jadi Fokus Pemprov Jabar
Penertiban PKL di kawasan Cicadas disebut menjadi bagian dari program penataan ruang publik di wilayah Jawa Barat.
Trotoar yang sebelumnya dipenuhi lapak pedagang diharapkan dapat kembali digunakan oleh pejalan kaki dengan aman dan nyaman.
Selain itu, kawasan pasar juga diharapkan menjadi lebih tertib sehingga tidak menimbulkan kemacetan maupun kesemrawutan lingkungan.
Meski demikian, penataan PKL tetap menjadi isu sensitif karena menyangkut mata pencaharian masyarakat kecil.
Karena itu, pendekatan dialog dan pemberian solusi alternatif pekerjaan menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan penertiban tersebut.
Reaksi Publik di Media Sosial
Video pertemuan Dedi Mulyadi dengan pedagang Cicadas ramai dibagikan di media sosial dan menuai beragam komentar dari masyarakat.
Sebagian warganet mendukung langkah penataan kawasan trotoar yang dianggap memang perlu dilakukan demi kepentingan publik.
Namun tidak sedikit pula yang berharap pemerintah tetap memperhatikan nasib pedagang kecil agar tidak kehilangan sumber penghasilan setelah penertiban dilakukan.
Sosok Abah Haryoto pun menjadi simbol perjuangan pedagang kecil yang bertahan di tengah kerasnya kehidupan perkotaan.***
