Bogordaily.net – PT Kereta Api Indonesia atau KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan masih melakukan kajian terkait potensi pengembangan jalur LRT hingga wilayah Bogor.
Rencana tersebut bahkan disebut berpotensi menjangkau kawasan Baranangsiang yang selama ini menjadi salah satu titik strategis mobilitas masyarakat di Kota Bogor.
Direktur Portofolio Management dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa mengatakan bahwa pengembangan jalur LRT menuju Bogor sebenarnya sudah pernah masuk dalam master plan transportasi sebelumnya.
“Secara master plan, dulu memang sudah ada rencana sampai Bogor, kalau tidak salah sampai Baranangsiang,” kata I Gede Darmayusa.
Menurutnya, saat ini pihak KAI bersama DJKA masih melakukan pengkajian ulang terhadap potensi bisnis, jumlah penumpang, hingga pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD).
Kajian tersebut dilakukan agar investasi pembangunan jalur LRT yang membutuhkan biaya besar dapat berjalan sebanding dengan peningkatan jumlah pengguna transportasi publik.
“Kami dengan DJKA tentunya sedang mengkaji kembali potensi bisnis, potensi TOD, sehingga biaya yang besar itu kita bisa justifikasi dengan peningkatan penumpang,” sambungnya.
Bogor Jadi Penyumbang Penumpang Terbesar KRL
Gede menjelaskan, jalur KRL Commuter Line Bogor saat ini menjadi salah satu lintasan tersibuk di kawasan Jabodetabek.
Dari total sekitar 1,1 juta penumpang KRL setiap hari, hampir setengahnya berasal dari lintasan Bogor.
“Jadi mengenai kapan LRT itu bisa membantu mengurangi beban Bogor Line memang sangat valid, dan itu masih dalam kajian kami, rutenya lewat mana dan lain sebagainya,” ujarnya.
Berdasarkan data yang disampaikan KAI, sekitar 500 ribu penumpang harian berasal dari Bogor Line.
Tingginya angka mobilitas tersebut membuat kebutuhan penambahan moda transportasi massal di wilayah Bogor dinilai semakin mendesak.
KAI Juga Kaji KRL hingga Sukabumi
Selain rencana pengembangan LRT, KAI juga tengah melakukan studi penambahan jalur KRL menuju wilayah Sukabumi.
Rencana tersebut bertujuan memperluas layanan commuter line hingga kawasan selatan Jawa Barat.
“Terus di Bogor pun kami menambah emplacement 678 yang sekarang lagi dibangun, itu per hari bisa meningkatkan kapasitas sekitar 80 dulu,” kata Gede.
Ia menambahkan, transformasi jalur Bogor juga memungkinkan operasional rangkaian KRL menjadi 12 gerbong.
Menurutnya, kapasitas daya angkut KRL jauh lebih besar dibandingkan LRT yang hanya menggunakan empat gerbong dalam satu rangkaian.
“Makannya apa pun yang bisa kami lakukan untuk mengurangi okupansi, supaya lebih nyaman di Bogor, itu kami lakukan dulu ya, di samping lakukan kajian untuk ekstensi dari LRT sendiri,” tuturnya.
Rencana pengembangan transportasi massal ini pun menjadi perhatian masyarakat Bogor yang selama ini menghadapi kepadatan tinggi pada jam-jam sibuk, khususnya pengguna KRL tujuan Jakarta dan sekitarnya.***
