Bogordaily.net — Suasana pagi di lereng Gunung Halang, Kabupaten Cianjur, masih diselimuti kabut tipis ketika para petani mulai beraktivitas di Kampung Babakan Sumedang, Desa Pakuon, Kecamatan Sukaresmi, Sabtu (6/6/2026).
Di kawasan pegunungan ini, kopi bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan bagian dari ekosistem dan kehidupan masyarakat yang telah terjaga selama puluhan tahun.
Momentum panen raya kopi tahun ini kembali menjadi ajang perayaan sekaligus refleksi bagi masyarakat setempat. Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Rindu Alam dan KTH Adibaraya menggelar berbagai rangkaian kegiatan budaya sebagai bentuk syukur atas hasil panen yang diperoleh.
Acara diawali dengan doa bersama, dilanjutkan arak-arakan hasil panen, serta pertunjukan seni tradisional yang menggambarkan eratnya hubungan masyarakat dengan alam pegunungan.
Tradisi tersebut menjadi simbol keberlanjutan praktik pertanian yang selama ini berjalan berdampingan dengan upaya pelestarian lingkungan.
Bagi masyarakat Desa Pakuon, keberhasilan panen kopi tidak hanya ditentukan oleh kualitas bibit atau teknik budidaya, tetapi juga oleh kesehatan kawasan hutan yang menjadi penyangga ekosistem.
Hutan yang terjaga dinilai berperan penting dalam menjaga ketersediaan sumber air, kesuburan tanah, hingga kualitas hasil kopi yang dihasilkan petani.
Karena itu, panen raya juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen konservasi. Ribuan bibit pohon ditanam di sejumlah titik lereng pegunungan sebagai bagian dari upaya rehabilitasi kawasan hutan sekaligus langkah adaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin dirasakan masyarakat.
Program penanaman tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan lingkungan dalam jangka panjang, sekaligus memastikan keberlanjutan produksi kopi yang menjadi salah satu sumber penghidupan warga setempat.
Model pengelolaan lahan yang mengintegrasikan budidaya kopi dengan pelestarian hutan ini dinilai menjadi contoh praktik ekonomi berkelanjutan.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa produktivitas pertanian dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam.
Dari lereng Gunung Halang, secangkir kopi tidak hanya menghadirkan nilai ekonomi bagi petani, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan demi keberlanjutan generasi mendatang.***
(Gibran)
