Bogordaily.net – Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-33 pada 1 Muharram 1448 Hijriah dengan mengusung tema “Meneruskan Tradisi, Melanjutkan Prestasi, Menyongsong Generasi Mendunia.”
Momentum tahun baru Islam ini menjadi momen yang istimewa bagi keluarga besar pesantren. Selain bertepatan dengan bulan Muharram yang sarat makna dalam tradisi Islam, peringatan kali ini juga menjadi harlah pertama sejak wafatnya pendiri pesantren yang selama puluhan tahun menjadi sosok sentral dalam perjalanan lembaga tersebut.
Pesantren yang berdiri tepat pada 1 Muharram 1414 Hijriah itu memulai perjalanannya dengan kondisi yang sangat sederhana. Berbekal keyakinan, doa, dan tekad kuat dari para pendiri, jumlah santri yang awalnya hanya sekitar 20 orang kini berkembang menjadi ribuan santri dan santriwati.
Perkembangan tersebut juga tercermin dari infrastruktur pesantren. Asrama yang dahulu berdinding triplek dan beralas tanah kini telah bertransformasi menjadi bangunan yang lebih layak dan kokoh untuk mendukung kegiatan pendidikan.
Rangkaian harlah diawali dengan kegiatan ziarah bersama, pembacaan tahlil dan doa, serta khataman Al-Qur’an. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Saiful Falah, serta pemaparan sejarah berdirinya pesantren oleh Arsyad dan Ni’mat Jauhari yang turut terlibat dalam proses pembangunan pesantren sejak masa awal.
Dalam sambutannya, Saiful Falah menegaskan pentingnya menjaga dan mengembangkan warisan yang telah ditinggalkan pendiri pesantren.
“Bukan hanya menggunakan apa yang beliau wariskan, tapi memanfaatkan apa yang beliau wariskan untuk memajukan pesantren,” ujarnya.

Tema yang diangkat tahun ini mencerminkan komitmen pesantren untuk menjaga nilai-nilai dan tradisi yang telah dibangun selama lebih dari tiga dekade, sekaligus mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan menyiapkan generasi yang mampu bersaing di tingkat global.
Bagi keluarga besar pesantren, harlah ke-33 bukan sekadar perayaan tahunan. Momentum ini menjadi simbol keberlanjutan perjuangan dan bukti bahwa semangat yang ditanamkan oleh pendiri tetap hidup di tengah para guru, santri, dan seluruh elemen pesantren.
Meski berlangsung lebih sederhana dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, peringatan tersebut tetap berlangsung khidmat. Kesederhanaan acara justru menjadi pengingat bahwa esensi sebuah perayaan tidak terletak pada kemegahan, melainkan pada kemampuan menjaga nilai perjuangan, tradisi, dan cita-cita yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.***

