Bogordaily.net – Seorang pria dilaporkan meninggal dunia setelah tertemper kereta rel listrik (KRL) di perlintasan sebidang Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor, Jumat 26 Juni 2026 sekitar pukul 10.30 WIB.
Peristiwa nahas tersebut mengundang perhatian warga dan sempat mengganggu aktivitas di sekitar lokasi kejadian.
Petugas kepolisian bersama pihak terkait langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta mengevakuasi jasad korban.
Hingga proses evakuasi berlangsung, arus warga di sekitar lokasi sempat tersendat akibat banyaknya masyarakat yang menyaksikan kejadian tersebut.
Berdasarkan keterangan warga sekitar, korban diduga telah berada di kawasan rel sejak sehari sebelum kejadian.
Warga bahkan mengaku melihat korban mondar-mandir di sekitar jalur rel sebelum akhirnya tertemper KRL.
Salah seorang warga, Altaf (21), mengatakan dirinya mengetahui adanya peristiwa tersebut setelah mendapat kabar dari saudaranya sekitar pukul 11.00 WIB. Ia kemudian langsung menuju lokasi kejadian.
“Jam 11.00 saya dikasih tahu sama saudara. Saya lagi duduk di kantor di Jalan Baru, terus langsung ke TKP. Pas saya sampai, korban sudah terkapar, sudah kaku. Kemungkinan sudah cukup lama,” ujar Altaf.
Saat proses identifikasi berlangsung, Altaf menyebut petugas sempat mencari identitas korban dari barang-barang yang ditemukan di lokasi.
“Petugas KCI sempat meminta saya melihat apakah ada identitas di barang korban. Pas diperiksa, awalnya cuma ada rokok. Setelah dibuka STNK yang ditemukan, akhirnya ada identitas korban,” katanya.
Menurut Altaf, berdasarkan informasi dari pedagang di sekitar lokasi, korban diketahui telah mondar-mandir di kawasan rel sejak sehari sebelumnya dan bahkan sempat diperingatkan agar tidak berada di area tersebut.
“Katanya dari kemarin korban sudah mondar-mandir di Jalan Baru, bolak-balik pinggir rel. Sudah ditegur sama tukang piscok sama tukang nasi, karena di situ memang bukan jalan untuk lewat,” ungkapnya.
Ia juga menilai perlintasan tersebut memang kerap terjadi kecelakaan.
Menurutnya, selain karena lokasi bukan diperuntukkan sebagai jalur penyeberangan, faktor kurangnya kewaspadaan pejalan kaki juga menjadi penyebab utama.
“Memang sering terjadi. Rel itu bukan untuk penyeberang jalan. Kemungkinan ada pejalan kaki yang tidak mendengar, tidak fokus, atau kurang teliti saat melintasi rel, sehingga terjadi kecelakaan,” tuturnya.
Hingga berita ini ditulis, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan guna memastikan penyebab pasti kecelakaan tersebut.
Masyarakat diimbau untuk tidak melintasi jalur rel kereta di luar perlintasan resmi, serta selalu mengutamakan keselamatan saat berada di sekitar lintasan kereta api.(Fikri)
