Bogordaily.net – Kaesang Pangarep seperti sedang memilih panggung yang paling ia kenal: Solo.
Di kota itu, ketua umum PSI tersebut bukan hanya datang untuk menghadiri Rakorda PSI Solo, Sabtu (25/7), tetapi juga membawa kabar yang lebih besar. Ia menyatakan akan maju sebagai calon anggota legislatif dari Dapil V Jawa Tengah pada Pemilu 2029.
Awalnya, Kaesang bilang dirinya ke Solo bukan untuk urusan politik. Katanya, ia semula hanya ingin bertemu suporter Persis Solo.
Namun, karena momentum Rakorda PSI Solo pas bertemu, pengumuman itu akhirnya disampaikan sekalian. Politik memang sering begitu: yang direncanakan bisa berubah oleh satu pertemuan, satu panggung, satu kesempatan.
Yang menarik, Kaesang bukan sedang bicara soal dirinya sendiri saja. Di hadapan kader PSI, ia justru lebih banyak bicara soal disiplin internal.
Ia mengingatkan agar tidak ada konflik antar kader yang sama-sama maju di pemilu 2029. Bagi dia, pertarungan sesungguhnya bukan sesama kawan satu rumah, melainkan bagaimana PSI bisa tetap solid dan benar-benar masuk parlemen.
Ia paham betul, di pemilu, gesekan kecil bisa berubah jadi keretakan besar. Nomor satu dan nomor dua sering merasa punya basis yang sama. Lalu masing-masing ingin menang sendiri. Akhirnya, yang bertarung bukan lawan di luar, tapi teman sendiri di dalam.
Kaesang tak ingin itu terjadi.
Karena itu, ia meminta kader yang tidak maju agar tetap membantu. Tetap mendukung. Tetap satu barisan. Dalam bahasa politik, seruan seperti ini terdengar sederhana. Tapi justru di situlah masalahnya: menjaga soliditas sering kali lebih sulit daripada berteriak soal kemenangan.
Dapil yang dipilih Kaesang juga bukan sembarang dapil. Dapil V Jawa Tengah meliputi Kota Surakarta, Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo. Di situ ada nama besar: Puan Maharani. Pada Pemilu lalu, Puan meraih suara terbanyak dengan 297.366 suara.
Artinya, Kaesang masuk ke arena yang bukan lapangan kosong. Ada sejarah, ada peta kekuatan, ada nama besar, dan ada ukuran yang sudah terlanjur tinggi.
Ia sendiri sadar. Karena itu, ia menyebut wilayah geraknya hanya di Solo. Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo, menurut dia, sudah ada yang pegang. Ia tak mau mengganggu teritorinya orang lain. Yang ia ambil cuma Solo.
Sederhana, tapi tidak kecil.
Di politik, kadang yang paling penting bukan siapa paling lantang, melainkan siapa paling paham batas. Kaesang seolah sedang mengatakan bahwa ia memilih bertempur di tempat yang ia kenal, di depan publik yang juga mengenalnya, sambil tetap meminta partai menjaga satu hal yang sering hilang menjelang pemilu: ketenangan di dalam.
Pemilu 2029 masih jauh. Tapi di Solo, langkah pertama sudah diumumkan. Dan dalam politik, langkah pertama sering kali lebih menentukan daripada seribu janji sesudahnya.***
