Bogordaily.net – Pertanyaan apakah keracunan makanan bisa menyebabkan hilang ingatan atau amnesia mencuat setelah kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Seorang siswi berusia 16 tahun, Febiola Br Purba, disebut keluarganya mengalami gangguan daya ingat setelah menjadi salah satu korban gangguan kesehatan yang terjadi usai mengonsumsi makanan MBG pada Agustus 2026.
Febiola merupakan pelajar SMK Swasta Bersama Berastagi. Pemerintah Kabupaten Karo sebelumnya mencatat ratusan siswa SMA Negeri 1 Berastagi dan Yayasan Bersama Berastagi mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan program MBG pada 13 Agustus 2026.
Sebagian korban kemudian mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Namun, kondisi Febiola menjadi perhatian tersendiri.
Keluarga menyebut gangguan yang dialami Febiola tidak berhenti setelah fase awal keracunan. Bahkan, menurut keterangan ayahnya, Icuk Sugiarto Purba, sang anak sempat tidak mengenali teman, guru hingga anggota keluarganya.
“Ya semuanya dia lupa. Contohnya, teman-teman sekelasnya dia lupa,” kata Icuk.
Keterangan mengenai “hilang ingatan 70 persen” kemudian beredar luas di media sosial.
Tetapi angka tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Sampai saat ini, angka 70 persen tersebut merupakan keterangan dari keluarga dan pemberitaan, bukan diagnosis medis formal yang dipublikasikan sebagai amnesia sebesar 70 persen.
Badan Gizi Nasional atau BGN juga telah memberikan perhatian terhadap kondisi Febiola.
Pada Selasa, 8 September 2026, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Medan Donal Simanjuntak mengatakan Febiola telah menjalani pemeriksaan di Poli Psikiatri dan Poli Neurologi Anak di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik.
Pemeriksaan juga mencakup elektroensefalografi atau EEG.
Menurut Donal, saat ditemui, Febiola terlihat dapat berkomunikasi dengan lancar.
Hasil pemeriksaan medis lebih lanjut masih ditunggu.
Lantas, apakah keracunan makanan memang bisa menyebabkan hilang ingatan?
Jawabannya: bisa, tetapi kondisi tersebut tergolong jarang dan sangat bergantung pada penyebab keracunannya.
Keracunan makanan pada umumnya lebih dikenal menyebabkan gejala seperti mual, muntah, diare, sakit atau kram perut dan tubuh lemas.
Dokter spesialis mikrobiologi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr. dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, mengatakan kejadian keracunan makanan yang disertai kejang kemudian amnesia tergolong sangat jarang.
Gangguan pada sistem saraf memang dapat terjadi dalam kondisi tertentu.
Misalnya, muntah dan diare berat dapat menyebabkan dehidrasi serta ketidakseimbangan elektrolit. Jika kondisinya berat, gangguan tersebut dapat memengaruhi fungsi otak dan bahkan memicu kejang.
Ada pula jenis racun tertentu yang secara langsung dapat menyerang sistem saraf.
Karena itu, seseorang yang mengalami kejang, kebingungan atau gangguan ingatan setelah diduga mengalami keracunan makanan perlu menjalani pemeriksaan lebih luas.
Bukan hanya pemeriksaan terhadap saluran pencernaan.
Dalam dunia medis bahkan dikenal kondisi yang disebut amnesic shellfish poisoning.
Kondisi tersebut berkaitan dengan asam domoat, yaitu toksin yang dapat terakumulasi pada jenis kerang atau makanan laut tertentu.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, keracunan asam domoat pada kasus berat dapat menyebabkan kebingungan, disorientasi, kejang hingga gangguan memori yang berlangsung lama.
Namun, contoh tersebut tidak berarti kasus Febiola di Karo disebabkan oleh asam domoat.
Sampai sekarang belum ada bukti yang menghubungkan asam domoat dengan makanan MBG yang dikonsumsi Febiola.
Begitu juga dugaan mengenai “racun jamur” yang disampaikan keluarga masih membutuhkan pemeriksaan medis dan laboratorium lebih lanjut.
Di sisi lain, investigasi terhadap makanan MBG yang dikonsumsi para siswa di Karo memang menemukan sejumlah bakteri.
Hasil Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara tertanggal 16 Agustus 2026 menunjukkan sampel nasi positif mengandung Bacillus cereus.
Sampel ikan dencis bersaus positif Staphylococcus aureus. Sementara sampel melon positif Escherichia coli.
Bacillus cereus juga ditemukan pada sampel sisa muntahan korban.
Temuan tersebut memberikan petunjuk dalam investigasi dugaan keracunan MBG di Karo. Namun, keberadaan bakteri pada makanan tidak otomatis membuktikan bahwa bakteri tersebut menjadi penyebab langsung gangguan ingatan Febiola.
Badan Gizi Nasional sebelumnya menyebut investigasi awal menemukan persoalan dalam penyimpanan ikan.
Sebagian bahan baku diduga tidak dimasukkan ke dalam freezer dan berada pada suhu ruangan selama lebih dari 12 jam.
Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menyebut persoalan tersebut sebagai kelalaian dalam proses pengolahan.
Dapur yang berkaitan dengan kejadian tersebut kemudian dihentikan operasionalnya sebagai bagian dari penanganan insiden keamanan pangan.
Kasus ini menunjukkan bahwa hubungan antara keracunan makanan dan hilang ingatan tidak bisa disimpulkan hanya berdasarkan urutan kejadian.
Artinya, seseorang mengalami keracunan lebih dulu kemudian mengalami gangguan ingatan bukan berarti keracunan tersebut otomatis menjadi penyebab amnesia.
Dokter perlu melihat banyak kemungkinan.
Mulai dari kondisi dehidrasi, gangguan elektrolit, kejang, infeksi, paparan toksin tertentu hingga kondisi neurologis atau faktor lainnya.
Itulah sebabnya pemeriksaan neurologi, psikiatri dan EEG menjadi penting untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada pasien.
Untuk kasus Febiola di Karo, fakta yang tersedia saat ini adalah keluarga melaporkan adanya gangguan ingatan setelah sang anak mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi MBG.
Di sisi lain, pemeriksaan laboratorium menemukan Bacillus cereus, Staphylococcus aureus dan Escherichia coli pada sejumlah sampel makanan.
Namun, belum ada hasil medis yang dipublikasikan yang memastikan ketiga bakteri tersebut secara langsung menyebabkan gangguan ingatan atau dugaan amnesia pada Febiola.
Dengan demikian, pertanyaan “apakah keracunan MBG bisa menyebabkan hilang ingatan?” belum dapat dijawab dengan mengatakan bahwa kasus Febiola pasti disebabkan oleh keracunan makanan.
Secara medis, toksin tertentu memang dapat menyebabkan gangguan saraf dan memori. Tetapi pada kasus keracunan makanan yang umum, gejala utama biasanya berkaitan dengan sistem pencernaan.
Kasus dengan kejang dan gangguan ingatan membutuhkan investigasi lebih mendalam.
Hasil pemeriksaan neurologi, psikiatri, EEG serta pemeriksaan lain yang diperlukan akan menjadi bagian penting untuk mengungkap penyebab gangguan ingatan yang dialami Febiola.
Sampai hasil tersebut tersedia, dugaan bahwa keracunan MBG secara langsung menyebabkan hilang ingatan pada siswi asal Karo tersebut masih harus dibuktikan secara medis.***
