HomeOpiniKetika Slogan Tidak Lagi Cukup: Kita Salah Mengomunikasikan Sampah?

Ketika Slogan Tidak Lagi Cukup: Kita Salah Mengomunikasikan Sampah?

Oleh: Silvi Aris Arlinda, S.I.Kom., M.I.Kom.
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Sejak kecil, banyak dari kita akrab dengan satu kalimat sederhana: “Buanglah sampah pada tempatnya.” Kalimat itu muncul di sekolah, taman, jalan raya, tempat wisata, hingga berbagai fasilitas publik. Pesannya sederhana: jangan membuang sampah sembarangan.

Tidak ada yang salah dengan pesan tersebut. Masalahnya, persoalan sampah hari ini ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar menentukan ke mana sampah harus dibuang.

Ketika tempat pembuangan akhir mulai menghadapi persoalan kapasitas, ketika sampah bercampur dan kehilangan nilai untuk didaur ulang, serta ketika persoalan pengelolaan sampah terus berulang, muncul pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah slogan “buanglah sampah pada tempatnya” masih cukup untuk menjelaskan persoalan sampah hari ini?

Sejumlah pemberitaan pada 2026 mulai menggunakan pertanyaan serupa. Di Balikpapan, misalnya, slogan tersebut dinilai tidak lagi cukup karena persoalan tidak berhenti pada membuang sampah, tetapi juga bagaimana sampah dipilah dan dikelola sejak dari sumbernya.

Di sinilah persoalan sampah menarik untuk dilihat dari perspektif komunikasi.
Pesan yang Terlalu Sederhana Dalam komunikasi, sebuah pesan dirancang agar mudah dipahami dan diingat.

“Buanglah sampah pada tempatnya” memenuhi semua syarat itu. Singkat, jelas, dan mudah diulang. Namun, justru karena terlalu sederhana, pesan tersebut berpotensi menyederhanakan persoalan yang sebenarnya kompleks. Ketika seseorang sudah memasukkan sampah ke tempat sampah, secara psikologis ia dapat merasa bahwa tugasnya telah selesai.

Sampah sudah tidak berada di tangannya. Persoalan kemudian berpindah kepada petugas kebersihan, pengangkut, pengelola, atau pemerintah. Padahal, sampah tidak benar-benar “hilang”.

Ia hanya berpindah tempat. Di sinilah komunikasi lingkungan seharusnya bergerak dari sekadar mengajarkan perilaku membuang menuju membangun pemahaman tentang siklus pengelolaan sampah.

Bukan hanya buang di mana, tetapi juga apa yang dibuang, bagaimana memilahnya, dan apa yang terjadi setelahnya. Dari “Buang” Menjadi “Pilah” Perubahan pesan sebenarnya mulai terlihat di berbagai tempat.

Ada kampanye yang menggunakan narasi “pilah sampah”, “sampahku tanggung jawabku”, hingga pengelolaan sampah dari rumah. RRI, misalnya, pada 2026 memberitakan pentingnya pemilahan sejak rumah karena dapat mengurangi volume sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi sampah yang masih dapat dimanfaatkan.

Artinya, komunikasi mengenai sampah tidak lagi cukup berhenti pada larangan.
Masyarakat perlu diberikan pengetahuan sekaligus kemampuan untuk melakukan tindakan.

Ini merupakan perbedaan penting dalam komunikasi publik. Memberi tahu masyarakat bahwa membuang sampah sembarangan itu salah adalah satu hal. Menjelaskan bagaimana masyarakat harus memilah sampah organik, anorganik, residu, atau jenis lainnya adalah hal yang berbeda.

Yang pertama menghasilkan pesan.
Yang kedua membutuhkan literasi.
Dan literasi membutuhkan komunikasi yang konsisten.

Ketika Pesan Tidak Diikuti Sistem
Namun, ada persoalan lain yang tidak kalah penting. Jangan sampai kita meminta masyarakat memilah sampah, tetapi setelah dipilah, seluruhnya kembali dicampur.
Jangan meminta masyarakat menggunakan tempat sampah terpilah jika fasilitasnya tidak tersedia.

Jangan pula terus-menerus membangun kesadaran masyarakat tanpa membangun sistem yang membuat perilaku tersebut menjadi mungkin. Dalam konteks ini, komunikasi publik tidak boleh berdiri sendiri. Pesan harus bertemu dengan sistem.
Jika komunikasi mengatakan “pilah sampah”, maka harus tersedia fasilitas pemilahan.

Jika masyarakat diminta mengurangi sampah, harus ada alternatif yang memungkinkan. Jika masyarakat diminta bertanggung jawab terhadap sampahnya, harus ada mekanisme pengelolaan yang jelas.

Sebab komunikasi yang tidak didukung tindakan dapat menghasilkan kejenuhan publik. Masyarakat terus menerima pesan yang sama, tetapi tidak melihat perubahan yang berarti.

Slogan Baru Saja Tidak Cukup
Karena itu, persoalannya bukan apakah slogan “buanglah sampah pada tempatnya” harus dibuang. Slogan tersebut tetap memiliki fungsi dasar: jangan membuang sampah sembarangan. Yang perlu berubah adalah pemaknaannya.

Hari ini, pesan tentang sampah seharusnya tidak berhenti pada:
“Buanglah sampah pada tempatnya.”

Tetapi berkembang menjadi:
“Kurangi, pilah, kelola, dan bertanggung jawab atas sampah yang kita hasilkan.”
Perubahan ini mungkin terlihat sederhana.

Namun, di baliknya terdapat perubahan cara pandang.
Kita tidak lagi melihat sampah sebagai sesuatu yang selesai ketika keluar dari tangan kita.

Kita melihatnya sebagai bagian dari siklus konsumsi yang tetap memiliki konsekuensi setelah kita membuangnya. Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya persoalan tempat sampah.

Ia juga merupakan persoalan pesan, kebiasaan, sistem, dan tanggung jawab.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengajarkan masyarakat ke mana harus membuang sampah, tetapi belum cukup mengajarkan apa yang terjadi setelah sampah itu dibuang.

Dan mungkin, sudah saatnya komunikasi tentang sampah tidak lagi berhenti pada satu kalimat lama. Karena membuang sampah pada tempatnya adalah awal, bukan akhir dari tanggung jawab.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here