HomeKabupaten Bogor103 Siswa SMPN 2 Cisarua Diduga Keracunan MBG, SPPG Cisarua Leuwimalang 01...

103 Siswa SMPN 2 Cisarua Diduga Keracunan MBG, SPPG Cisarua Leuwimalang 01 Buka Suara

Bogordaily.net – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Cisarua Leuwimalang 01 buka suara terkait kasus keracunan sebanyak 103 siswa SMPN 2 Cisarua diduga akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu 21 Oktober 2026.

Ketua SPPG Bogor Cisarua Leuwimalang 01 Fima menyampaikan permohonan maaf dan berharap para siswa dapat pulih kembali.

“Kami menyampaikan keprihatinan dan permohonan maaf atas kejadian yang dialami para siswa SMP Negeri 2 Cisarua pada Rabu, 21 Oktober 2026. Kami berharap seluruh siswa yang terdampak segera pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala,” kata Fima kepada wartawan.

Menurut dia, peristiwa itu awalnya terjadi pada pukul 08.03 WIB, dimana distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) tiba di SMP Negeri 2 Cisarua.

Kemudian, Pukul 08.30 WIB, Kepala SPPG menerima laporan dari pihak sekolah mengenai sejumlah siswa yang mengalami gejala mual dan muntah.

Pada pukul 08.40 WIB, Kepala SPPG mendatangi sekolah untuk berkoordinasi dan menindaklanjuti laporan tersebut.

Menjelang pukul 10.00 WIB, jumlah siswa yang mengalami gejala serupa bertambah, dengan satu siswa dilaporkan mengalami diare.

Selanjutnya, pihak SPPG berkoordinasi dengan sekolah, puskesmas, rumah sakit, Babinsa, serta unsur pemerintah setempat untuk mendukung penanganan siswa.

Dalam penelusuran awal, terdapat laporan mengenai susu kemasan Diamond UHT Full Cream yang diduga mengalami kerusakan.

“Kemasan yang diperiksa mencantumkan tanggal kedaluwarsa Maret 2027. Namun, kelayakan produk tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan tanggal kedaluwarsa,” jelasnya.

Adapun, kata dia, saat ini sampel terkait telah disampaikan untuk pemeriksaan laboratorium di Labkesda.

“Kami masih menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui kondisi produk dan kemungkinan keterkaitannya dengan kejadian ini,” ujar dia.

Sementara itu, ia berkomitmen untuk bersikap kooperatif dalam proses pemeriksaan, melakukan evaluasi terhadap pengawasan mutu dan distribusi produk, serta melaksanakan perbaikan sesuai hasil pemeriksaan dan arahan pihak berwenang.

“Keselamatan dan kesehatan para siswa merupakan prioritas utama kami. Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait dan menyampaikan perkembangan berdasarkan informasi yang telah terverifikasi,” ungkapnya.***

Albin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here