HomeKabupaten BogorBedah Buku di UQI Bogor, Prof Hamid: Pesantren adalah Sekolah Kehidupan

Bedah Buku di UQI Bogor, Prof Hamid: Pesantren adalah Sekolah Kehidupan

Bogordaily.net – Pesantren tidak cukup dipahami sebagai tempat santri mengejar nilai akademik. Lebih dari itu, pesantren merupakan lingkungan pendidikan yang membentuk manusia secara utuh, mulai dari intelektual, moral, spiritual, kemandirian hingga kemampuan hidup bersama dan memimpin.

Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA.Ed., M.Phil., dalam Bedah Buku Pendidikan Islam Holistik: Ciri Khas Sistem Pendidikan Pondok Modern di Gedung Serba Guna Ummul Quro Al-Islami (UQI), Bogor, Senin (26/10/2026).

Kegiatan yang diikuti para guru UQI dan civitas akademika Universitas Islam Bogor tersebut sekaligus mempertemukan kembali tradisi pendidikan UQI dengan Pondok Modern Darussalam Gontor. Hubungan keilmuan keduanya memiliki kedekatan karena pendiri UQI, almarhum KH Helmy Abdul Mubin, merupakan alumni Gontor.

Menurut Prof. Hamid, salah satu kekuatan pesantren adalah kemampuannya menciptakan lingkungan pendidikan yang berlangsung hampir sepanjang waktu. Santri tidak hanya belajar ketika berada di kelas, tetapi juga ketika berada di asrama, masjid, lapangan olahraga, organisasi hingga saat berinteraksi dengan sesama santri.

Pesantren dengan demikian menjadi sebuah sekolah kehidupan. Pengetahuan yang diperoleh di kelas bertemu langsung dengan pengalaman hidup sehari-hari.

“Pesantren adalah tempat penanaman jiwa-jiwa keikhlasan, kesederhanaan dan sebagainya,” ujar Prof. Hamid.

Ia menjelaskan, pendidikan di pesantren menyentuh berbagai aspek kehidupan santri, baik intelektual, moral maupun spiritual. Melalui sistem Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), pendidikan diarahkan untuk melahirkan generasi muda yang memiliki kemampuan intelektual sekaligus karakter.

Konsep tersebut menjadi bagian dari cita-cita para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor dalam menyiapkan generasi yang mampu hidup dan memberikan kontribusi di tengah masyarakat.

Dalam sistem pesantren, lingkungan pendidikan juga tidak terbatas pada sekolah. Seluruh warga pesantren menjadi bagian dari masyarakat pendidikan. Madrasah, sekolah atau KMI menjadi ruang pembelajaran formal, sedangkan asrama berfungsi layaknya rumah tangga tempat santri belajar menjalani kehidupan sehari-hari.

Prof. Hamid menerangkan, pendidikan holistik pada dasarnya merupakan proses pengembangan manusia seutuhnya. Karena itu, kemampuan seorang santri tidak dapat hanya diukur berdasarkan nilai akademik.

Setidaknya terdapat beberapa unsur penting dalam pendidikan holistik di pesantren, di antaranya kegiatan olahraga, penghargaan terhadap santri sebagai individu, pengalaman sebagai bagian penting pembelajaran, pendidikan yang menyeluruh, kesempatan memilih kegiatan sesuai potensi, serta pembentukan spiritualitas.

Santri, misalnya, diberikan ruang untuk mengikuti berbagai aktivitas yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Dari sinilah bakat yang mungkin tidak terlihat melalui nilai di kelas dapat berkembang.

Menurut Prof. Hamid, sistem pendidikan holistik yang telah lama dipraktikkan pesantren justru masih relatif sedikit dibahas secara mendalam dalam kajian maupun penelitian. Padahal, praktik pendidikan tersebut dapat dilihat dalam kehidupan santri sehari-hari.

Salah satu nilai penting yang ditanamkan dalam kehidupan pesantren adalah Panca Jiwa, yakni keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwah Islamiyah, kemandirian dan kebebasan berpikir.

Prof. Hamid menekankan bahwa makna kesederhanaan harus dipahami secara tepat. “Sederhana itu bukan berarti miskin dan tidak punya,” katanya.

Kesederhanaan lebih berkaitan dengan sikap hidup, kemampuan menempatkan sesuatu sesuai kebutuhan serta tidak menjadikan kemewahan sebagai ukuran keberhasilan.

Nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya disampaikan dalam pelajaran. Santri harus mengalami dan mempraktikkannya dalam kehidupan pesantren.

Dalam paparannya, Prof. Hamid juga menghubungkan pendidikan pesantren dengan prinsip pembelajaran yang menempatkan peserta didik bukan hanya sebagai penerima pengetahuan.

Santri belajar untuk mengetahui (learning to know), melakukan atau mengerjakan sesuatu (learning to do), hidup bersama (learning to live together), mengembangkan dirinya, hidup mandiri, berdisiplin hingga belajar memimpin.

Karena itu, pendidikan tidak berhenti pada kemampuan menjawab soal ujian.

Santri dapat memperoleh pengalaman memimpin organisasi, mengatur kegiatan, menyelesaikan persoalan bersama, berkomunikasi dengan orang lain, mengatur dirinya sendiri hingga bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bagian dari pendidikan yang terkadang tidak tercatat dalam angka di rapor, tetapi mempunyai pengaruh besar ketika seseorang memasuki kehidupan masyarakat.

Prof. Hamid juga menyoroti cara pandang terhadap kecerdasan anak. Menurutnya, kecerdasan tidak semestinya hanya diukur melalui tes IQ maupun prestasi akademik.

Dalam proses pendidikan terdapat beragam kecerdasan yang dapat dikembangkan, antara lain logis-matematis, linguistik, visual-spasial, interpersonal, musikal, intrapersonal, kinestetik dan naturalistik.

Kecerdasan interpersonal, misalnya, dapat berkembang melalui aktivitas kepemimpinan dan organisasi. Kecerdasan intrapersonal tumbuh ketika santri belajar mengelola dirinya, sedangkan kemampuan kinestetik dapat berkembang melalui olahraga dan aktivitas fisik.

Cara pandang tersebut membuat keberhasilan pendidikan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu ukuran.

“Sukses itu tahu apa yang perlu dia kerjakan,” ujar Prof. Hamid.

Seorang anak, menurutnya, tidak serta-merta dapat disebut gagal ketika tidak memperoleh nilai akademik yang bagus. Bisa jadi ia memiliki kemampuan lain yang justru berkembang ketika memperoleh lingkungan dan kesempatan yang tepat.

Prof. Hamid turut menyinggung tantangan pesantren pada era media sosial. Menurutnya, persepsi masyarakat terhadap kehidupan pesantren kini turut dipengaruhi oleh berbagai informasi dan framing yang beredar di ruang digital.

“Media harus dilawan dengan media,” ujarnya.

Karena itu, pesantren perlu semakin mampu menjelaskan proses pendidikannya kepada masyarakat, termasuk kepada orang tua santri.

Kehidupan pesantren memang menuntut aktivitas yang padat. Santri belajar, berorganisasi, berolahraga, menjalankan ibadah dan berbagai kegiatan lain yang dirancang sebagai bagian dari proses pendidikan.

Di sinilah komunikasi menjadi penting. Orang tua perlu memahami bahwa pendidikan tidak selalu identik dengan memberikan seluruh kenyamanan kepada anak.

Sebaliknya, terdapat proses ketika anak harus belajar menghadapi kesulitan, menyelesaikan masalah, mengatur waktu dan bertanggung jawab terhadap dirinya.

Melalui proses tersebut, kedisiplinan tidak diarahkan untuk membatasi kemampuan berpikir. Disiplin justru menjadi latihan agar seseorang mampu menerjemahkan pemikiran ke dalam tindakan dan menjalankan pekerjaan secara bertanggung jawab.

Itulah pendidikan holistik yang menjadikan pesantren bukan sekadar tempat bersekolah, melainkan ruang untuk belajar hidup.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here