Tuesday, 28 May 2024
HomeBeritaKuburan Mangkok

Kuburan Mangkok

Kampung Gang Rukun, Kuburan Mangkok atau Kampung Prikemanusian. Tiga nama itu adalah untuk satu tempat yang sama di Jakarta. Tepatnya di Jalan Pangeran Jayakarta, di depan Kampung Kebon Sayur, Kelurahan Mangga Dua Selatan, Jakarta Pusat. (Kampung Kebon Sayur sampai dengan saat ini terkenal sebagai kawasan prostitusi ilegal).

Kampung dengan tiga nama tersebut, sudah tidak ada karena pada 1985, digusur Pemkot Jakarta dan sekarang berubah menjadi pertokoan dan pergudangan.

Nama “” digunakan oleh warga penghuninya untuk menggambarkan keadaan geografis senyatanya. Dimana, warga kampung tersebut memang nyata-nyata mendirikan bangunan rumahnya di atas pekuburan yang bentuknya seperti mangkok.

Kalau saya mengingat kembali, kira-kira ukuran kampung tersebut 800 x 300 meter. Disebelah barat berbatasan dengan Jalan Jakarta dan sebelah timur dengan sungai.

Di atasnya pekuburan, nama “Gang Rukun” dan “Kampung Prikemanusiaan” adalah nama yang ingin disematkan oleh para tokoh kampung tersebut, sebagai harapan agar warganya “Rukun Guyup” dan “Berprikemanusian”. Tapi, yang resmi tercantum di KTP malah “Kampung Gang Rukun”.

Kampung ini adalah daerah kumuh. Di kampung ini berbagai etnis ada. Jawa dengan berbagai dialeknya, Madura, Sunda, Batak, Etnis Tionghoa, Manado dan Betawi.

Yang dominan adalah suku Jawa dan etnis Cina dan Madura. Yang pasti mereka yang bertempat tinggal di sana adalah kelompok urban yang miskin.

Pekerjaan warga kebanyakan pemulung, pengemis, tukang becak, buruh pabrik, pengepul barang sampah, copet, jambret, begal dan sopir.

Kampung ini terjadi karena kebijakan Gubernur DKI Ali Sadikin yang mengangkut gelandangan pengemis yang terjaring di jalan-jalan kemudian ditampung di atas kuburan mangkok.

Di kampung ini, pemandangan tidak aneh ketika ada dua pria carok rebutan wanita, atau karena harga dirinya merasa direndahkan, sehingga warga tidak terlalu kaget kalau sudah ada dua pria pegang celurit berhadap-hadapan.

Pernah satu kali seorang laki-laki jatuh persis di depan rumah saya dengan luka menganga pada kaki, tangan dan tubuhnya. Ia memang mau lari ke rumah bapak saya minta perlindungan.

Untung, nyawanya sempat tertolong dan lawan yang menyerangnya tidak mengejar lebih lanjut. (Nama korban Setiyanto, saya biasa memanggilnya dengan nama Mas Jawiiiiiiir).

Di kampung ini, adalah biasa setiap malam ada orang mabuk sampai jatuh di atas kuburan dan besoknya bangun sendiri. Di kampung ini para pria mempertahankan kehormatannya dengan cara berkelahi.

Sebagian anak-anak, akan diajak oleh orang tuanya untuk “Mulung” (istilah untuk kerja memungut barang bekas) keliling Jakarta, atau diajak ortunya mengemis ke daerah-daerah lain.

Pekerjaan copet dilakukan oleh para perempuan dengan sasaran Pasar Senen. Sementara pekerjaan begal, saya tidak tahu persis.

Pernah ada kemudian serombongan polisi datang ke kampung itu dan menangkap tetangga saya, seorang yang di kampung itu tenang. Tidak pernah ribut. Dan memang tidak diketahui apa kerjaannya.

Hanya dalam beberapa waktu keluar rumah berhari-hari dengan beberapa orang dan ketika kembali keluarga itu makin sejahtera saja. Anaknya adalah teman saya bernama Selamet. Selamet kondisinya lebih sejahtera dari keluarga saya dan lainnya.

Pada zaman itu, sepeda langka dia sudah bisa beli. Meski saya dan semua tidak urus dengan urusan orang tuanya. Yang penting kami bisa bermain bersama.

Kata bapak, saya masuk kampung itu berumur 1 tahun kurang, datang bersama ibu dan dua kakak saya. Sementara bapak sudah ada di “Gang Rukun” satu tahun sebelumnya.

Bapak saya menarik becak untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Kami belajar membaca dan menulis dari bapak, karena kami dan anak-anak kampung tersebut, tidak bisa ke sekolah di luar kuburan itu.

Ini karena orang tua kami umumnya adalah mantan gelandangan yang tidak punya KTP, sehingga anak-anaknya tidak diterima di sekolah.

Jadi teman-teman saya umumnya tidak sekolah. Tetapi bapak (entah apa yang ada dalam pikirannya), selalu pulang pada siang hari dan mengajar kakak-kakak saya pelajaran sekolah.

Kemudian karena banyaknya anak tetangga yang oleh orang tuanya dimintakan diajar bapak, maka beliau berinisiatif membuat gubuk untuk menjadi ruang kelas. Lama kelamaan ruang belajar tersebut menjadi sekolah “SD Eka Dharma”.

Seiring perjalanan waktu, SD Eka Dharma berkembang pesat. Semakin hari semakin banyak saja anak kampung itu yang mau sekolah dan bapak saya pun kewalahan untuk mengajar.

Bapak lalu meminta beberapa temannya yang dikenal menjadi guru di SD Eka Dharma. Dan bapak pun memilih untuk tidak mengajar lagi karena sekokah yang didirikannya sudah mempunyai kepala sekolah. Nama kepala sekolah itu adalah “Joko Jayoesworo”.

Kepala sekolah “killer”. Begitu julukannya. Sebab saya pernah lihat kakak saya (sekarang seorang dokter spesialis di Semarang) pernah di tempeleng Pak Joko.

Dan ketika kakak saya mengadukan soal ini, bapak saya malah tertawa. Kakak saya malah ditanya “Trono Kamu Pusing, Enggak…?,” di jawab kakak saya: “Nggak, Pak”. Bapak saya lalu memegang kepala kakak saya dengan lembut dan disuruh mandi.

Saya juga pernah “di kelepak” sama Pak Joko pakai tangan yang ada cincinnya. Busyet! Nyut…. nyut……nyut …. Sakit, Bro!

Tapi saya diam saja tidak melapor sama bapak. Sebab saya yakin, paling malah ditertawakan lagi. Dan memang kami yang salah karena bandel.

SD Eka Dharma hanya sampai kelas 5. Karena sekolah itu ilegal alias tidak ada izinnya. Jadi tidak bisa sampai kelas 6. Karena tidak bisa mengadakan ujian saat naik kelas 6, murid pun harus pindah ke sekolah yang berizin.

Namun, meski tidak berizin, SD Eka Dharma sudah ada raport. Karena itu murid-murid boleh diterima di sekolah resmi.

Saya sendiri lanjut kelas 6 di SD Pademangan Timur 04 Petang, Jakarta Utara. Kalau pulang sekolah, saya main di kuburan.

Kadang kalau ada warga etnis tionghoa mengadakan acara sembahyang–dimana akan ada makanan dipersembahkan–buah, ayam, dan makanan lain, itu adalah waktu yang ditunggu.

Ini karena selesai sembahyang biasanya mereka akan tinggalkan makanan tersebut. Melihat ini, saya serta teman-teman akan menjadi “Dewa Sesembahan” mereka untuk bisa menikmati makanan tersebut. Dan tentunya dengan acara rebutan pula.

Selain itu, jika pulang sekolah kami lapar, maka kami akan mencari buah (bukan di pohon loh). Sebab di kuburan tidak ada pohon buah. Tetapi kami pergi ke daerah Pancoran Glodok. Kurang lebih berjarak 6-7 kilometer dari kampung kami.

Pancoran Glodok merupakan “Surganya” buah import. Biasanya kami mencari buah yang di buang pedagang lantaran sudah ada bagian yang rusak. Kami pun bawa pulang buah-buah import yang rusak itu dan kemudian kami berpesta di kuburan.

Saya ingat juga ada teman bernama Akiong (dari namanya dia ini etnis keturanan Cina), dan dia bersaudara 20 orang. Kadang membawa makanan dari rumahnya, untuk saya dan teman-teman makan di kuburan. Bapaknya Akion kerja di sebuah restoran.

Pernah oleh anak-anak yang lebih besar, saya diadu berkelahi sama Akiong. Sampai saya dan Akiong kecapekan dan babak belur gulat di kuburan. Setelah diadu, saya dan Akiong pulang. Setelah itu ya baikan lagi.

Kata bapak, rumah saya dulu waktu baru datang terbuat dari plastik-plastik bekas. Menggunakan kerangka kayu seadanya. Dan tidak ada kamar mandinya.

Sementara untuk mandi, menggunakan kamar mandi komunal yang dibikin warga dan MCK-nya di saluran kali… hahahaha… Nyaman bleh! Kalau lagi dikuras, kita berjejer tuh pagi-pagi.

Rumah kami, lama kelamaan dibangun juga semi permanen. Sekitar 19 tahun kami tinggal di atas kuburan. Hingga akhirnya perkampungan tersebut digusur pada 1985 dan ini menjadi sebab saya pilih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Padahal, saat SMA, saya mengambil jurusan IPA. Namun kemudian berbelok arah gara-gara mengalami penggusuran yaitu memilih fakultas hukum dengan tujuan menjadi pengacara.

Perkampungan itu adalah tempat yang tidak layak untuk hidup. Baik dari sisi jasmani (sanitasi buruk, tidak ada air bersih, rumah berhimpitan) juga secara mental spiritual.

Warganya berpendidikan rendah. Tidak berwawasan maju. Agama bukan suatu yang penting secara komunal (walau ada masjid juga dibangun oleh bapak dan warga). Tetapi soal urusan rohani masing-masing saja.

Teman-teman saya banyak tidak sekolah. Dan kemudian berujung bekerja di sektor informal. Beberapa kali saya berjumpa teman semasa kecil. Ada seorang sopir taksi odong-odong yang kemudian menjadi sopir saya.

Ada suatu waktu saya bertemu di LP Cipinang, seorang kawan di tahan karena merampok dan di LP Salemba saya juga bertemu teman di tahan karena jadi bandar judi.

Teman-teman lain setelah digusur memang tercerai-berai. Sempat saya bertemu seorang teman yang masih menjadi pemulung sampai saat ini. Dan saya juga berjumpa dengan seorang kawan yang menjadi Satgas Pemuda Pancasila di Cibinong Bogor dan kemudian bertugas mengawal klien saya Bapak Rachmat Yasin (Mantan Bupati Bogor). Teman saya ini bernama “Kaprah”.

Saya bersyukur bisa melewati proses panjang dan berat ini karena kedisiplinan bapak dan ibu saya. Sebab, banyak teman se-usia saya yang tidak beruntung.

Maka disinilah peran negara untuk mewujudkan tujuan bernegara melindungi seluruh tumpah darah Indonesia. Mencerdaskan kehidupan berbangsa.

Pemerintah tidak boleh diam dan menyerahkan masa depan masyarakat miskin pada kemampuan diri mereka sendiri.

Harus sungguh-sungguh ada fasilitasi pemenuhan kebutuhan dasar yang layak. Sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan agar taraf hidup mereka menjadi baik.

Nasib bak seperti yang saya alami adalah kejadian langka. Terima kasih bapak dan ibu yang sangat galak dan disiplin. Ketika waktu-waktu jam belajar saya harus ada di meja belajar.

Terima kasih untuk tempaan kerja keras memanggul berkarung-karung beras (hingga telapak kaki melebar dan badan saya pendek…hahaha).

Terima kasih bapak yang tidak membela kami dengan cara salah ketika kakak ditempeleng Pak Joko sehingga kami tidak menjadi anak cengeng.

Terima kasih bapak ibu atas kerja kerasmu menarik becak dan narik bajaj. Sementara ibu menggendong dagangannya sambil menuntun adik kecil saya.

Terima Kasih Tuhan untuk Rezeki dan Penyertaanmu….

Salam
Sugeng Teguh Santoso, SH