Saturday, 24 February 2024
HomeBeritaMalari 1974 dan Ikan Asin

Malari 1974 dan Ikan Asin

Udara Jakarta panas menyengat. Siang itu, sekitar pukul 14:00 siang, Joko Tole bersama Ujang Topong dan Selamet, tiga anak tanggung dari Kampung Gang Rukun ikut menyeruak di dalam kerumunan manusia di Jalan Pangeran Jayakarta, Mangga Dua Selatan.

Di jalan, mobil bergelimpangan dibakar massa. Joko Tole melihat massa pemuda rata-rata berambut sebahu dengan celana panjang “Cutbray” berwajah bersih, bercampur dengan massa berpakaian lusuh dan wajah semrawut.

Mereka menghadang setiap mobil dengan merk tertentu. Menghardik sopirnya pergi, menggulingkan mobil dan lalu membakarnya.  Joko Tole ikut iringan yang bergerak dari arah Pangeran Jayakarta ke arah Stasiun Kota.

Pada titik Gang Sauw Beng Kong ke arah Pecak Kulit, satu mobik pick up L-300 dari arah Stasiun Beos Kota, terjebak dan tidak sempat balik arah. Tanpa ampun sopir diusir oleh massa dan mobil tersebut digulingkan. Maka tumpahlah ke jalan berkuintal-kuintal ikan asin.

Tanpa dikomando, massa yang lusuh mengambil ikan asin sambil ditonton oleh massa “Pemuda Cutbray”.

Joko Tole dan kawan-kawan digerakkan dengan naluri lapar. Ikut rebutan ikan asin dan dapat digondol pulanglah ikan asin yang cukup banyak.

Seingat Joko, mungkin ia dapat sekitar empat kilo ikan asin jambal yang tebal dan ikan asin kecil-kecil terbungkus plastik.

Sementara Ujang Topong dan Selamet juga membawa masing-masing hasil jarahannya. Sebuah mobil pick up dibakar massa dengan sisa ikan asin yang masih banyak.

Terbayang , Joko Tole makan sayur lodeh terenak buatan ibunya yang pedas dengan ikan asin goreng hasil jarahannya.

Ibunya memang tukang masak yang hebat. Sampai ia dewasa, cerita Joko Tole biasa membeli makanan termahal apapun tampaknya tak bisa menggantikan masakan ibunya yang begitu nikmat.

Setelah melewati kuburan sampai juga ia di rumah. Berharap ibunya senang mendapat oleh-oleh ikan asin jambal hasil jarahannya. Ibu Joko ternyata malah heran melihat anaknya membawa ikan asin yang begitu banyak. Karena itu, ibunya tidak sesegera menerima ikan asin yang dibawa anaknya itu.

Ibu: “Dapat darimana ikan asin itu Joko?”

Joko Tole: “Tadi sama Ujang dan Selamet dapat di Ujung”

Kata Ujung adalah istilah saya dan teman-teman semasa kecil menyebut lokasi Ujung Kampung Gang Rukun yang berbatasan dengan Jalan Pangeran Jayakarta.

Ibu: “Ayoo ngomong kamu dapat darimana?”.

Ibu Joko rupanya masih tidak percaya pada Joko soal asal usul ikan asin tersebut. Akhirnya, Joko Tole menyampaikan apa adanya bahwa ikan asin itu didapatnya dengan mengambil dari mobil yang dibakar massa.

Mendengar itu, ibunya yang memang disiplin dan galak itu marah. Kemudian berujar: “Itu bukan milik kita. Hayo bawa sana keluar. Kamu kembalikan,” seraya menyuruh Joko Tole keluar membawa ikan asin untuk dikembalikan.

Namun Joko malah kebingungan. Mau dikembalikan kemana?

Bayangan makan enak buyar dan malah kena damprat. Sambil berjalan ke arah kuburan Joko melihat “Mang Jangkung” sedang membelah bambu untuk merapikan gubuknya.

Di kampung Gang Rukun, orang kadang dipanggil dengan sebutan ciri-ciri fisiknya dan tidak namanya. Lalu disodorkanlah semua ikan asin itu pada Mang Jangkung sambil berujar: “Mang, ini dari ibu buat Mang Jangkung,”.

Melihat itu, betapa Mang Jangkung senang, dan mengucap: “Terima kasih, ya den”.

Joko Tole dipanggil “Den”,  yang iya sendiri tidak tahu kenapa dipanggil begitu. Setelah dewasa barulah dia paham. Panggilan “Den” adalah singkatan “Raden”.  Sebutan penghormatan karena Mang Jangkung menghormati ayahnya Joko Tole (saya tidak tahu juga kenapa ayahnya yang tukang becak itu dihormati).

Mang Jangkung yang pemulung sampah ini beberapa tahun kemudian ditemukan tewas karena tenggelam dalam sungai yang berlumpur. Ia tewas sewaktu memulung sampah plastik.

Kematian Mang Jangkung membekas dalam diri Joko. Sebab Mang Jangkung dan Bi Irah—bininya– (keduanya dari Brebes, Jawa Tengah) adalah dua orang yang baik. Sering memberi makanan enak: kepiting dan rajungan. Bahkan Joko Tole pernah dicapit kepiting ketika main di rumah Mang Jangkung.

Joko berbohong ketika menyatakan ikan asin itu ke Mang Jangkung atas perintah ibunya. Sebab jika tidak dibilang atas suruhan ibunya, bisa jadi ikan asin itu akan dibagikan lagi oleh Mang Jangkung ke Ibu Joko Tole. Dan Joko Tole bakal kena omel lagi.

Ada kebiasaan yang baik memang di Gang Rukun. Yakni, setiap orang yang memiliki makanan berlebih selalu dibagikan ke tetangga. Joko bisa menduga pasti ikan asin pemberiannya akan dibagikan kembali oleh Mang Jangkung ke para tetangga.

Akhirnya dengan membawa sebagian ikan asin yang ia sisakan untuk di makan, Joko menuju markasnya di tengah kuburan. Suatu tempat yang teduh karena ada pohon kersen besar dengan kuburan di kanan-kiri.

Disana ia menunggu sahabatnya Ujang Topong dan Selamet. Syukur-syukur Akiong datang sehingga ia bisa minta Akiong membawakan nasi buat di makan dengan ikan asin.

Saat ini setelah ia dewasa dan dapat membeli makanan apapun yang mahal sekalipun, ia mengenang betapa sang ibu yang galak itu telah mengajarkan suatu ajaran kejujuran. Dan penghargaan atas hak milik pihak lain. Jangan mengambil barang sesuatu yang bukan haknya.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, Joko Tole pun akhirnya bisa bertemu dan kenal dengan si Penggerak Peristiwa Malari 1974, Hariman Siregar.

Bahkan Joko Tole bisa mentraktir makan siang Hariman Siregar selesai pemakaman almarhum Kang Mul (Mulyana W. Kusumah ) di Restoran Gili-Gili Bogor. Sejarah hidup memang misteri.

Saat ini Joko Tole bersyukur memiliki seorang ibu yang galak tetapi jujur mengajarkan nilai-nilai kehidupan.

 

Terima Kasih Ibu….

 

Catatan tentang Kampung Kuburan Mangkok Edisi 2

Sugeng Teguh Santoso, SH