Tuesday, 28 May 2024
HomeKota BogorSadis, Mayat Bayi Pun Ditahan di Rumah Sakit Ini

Sadis, Mayat Bayi Pun Ditahan di Rumah Sakit Ini

BOGORDAILY- Malang menimpa pasangan suami-istri Arifin dan Ina Rosanti asal Kampung Bulak, RT 01/05, Kelurahan Tanahsareal. Putrinya yang baru berusia enam hari Mikaila Syauqi Miyesa, meregang nyawa di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Ummi Sabtu malam (4/3) sekitar pukul 20:00 WIB.

Yang lebih menyedihkan, jenazah bocah tak berdosa itu harus tertahan 25 jam di rumah sakit lantaran kedua orang tuanya belum mampu melunasi biaya perawatan.

Bayi malang tersebut masuk rumah sakit pada Sabtu pagi (4/3) karena orang tuanya khawatir sang anak tersumbat air susu. Saat itu juga, kedua orang tuanya diminta mengeluarkan uang untuk deposit sebesar Rp10.500.000.

Saat itu, keluarga hanya memegang uang Rp3 juta dan langsung diserahkan seluruhnya dengan catatan akan segera dilunasi.

Malam harinya, sekitar pukul 20:00 WIB, pihak rumah sakit menyampaikan jika kondisi bayi tidak bisa diselamatkan. Jenazah bisa dibawa pulang namun harus melunasi pembayaran seperti di awal sebesar Rp10.500.000.

Keluarga bayi malang tersebut panik. Mereka bingung karena hanya diberi waktu hingga pukul 14:00 WIB untuk melunasi. Berbagai langkah ditempuh agar jenazah bayi bisa segera keluar dan tidak tertahan semakin lama.

“Saya si maunya langsung dibawa pulang biar jenazah gak kelamaan di rumah sakit. Setelah negosiasi dikasih waktu sampai hari Minggu jam dua siang untuk bayar semuanya,” kata Kakak orang tua bayi, Sahwana seperti dilansir Metropolitan.id.

Bagi keluarga si bayi malang, mencari uang untuk melunasi pembayaran yang kurangnya mencapai Rp7.500.000 bu­kanlah hal mudah. Akhirnya, keluarga menggadaikan surat rumah sebesar Rp6 juta demi jenazah si bayi agar segera dikeluarkan pihak rumah sakit.

Uang tersebut langsung diserahkan semuanya dengan kekurangan Rp1.500.000. Namun, Sahwana melanjutkan, pihak keluarga harus menjaminkan surat rumahnya sebagai pengganti kekurangan pembayaran jika ingin jenazah bayi keluar dari rumah sakit.

Yang lebih mengiris hati, selama bayi malang itu meninggal dan keluarga mencari uang untuk menebus, argo rumah sakit terus berjalan. Total, pihak keluarga harus membayar Rp11.850.000 dari yang semula Rp10.500.000 untuk mengeluarkan jenazah sang bayi.

“Beberapa kali orang tua bayi pingsan nggak sadar karena sudah bingung nyari uang ke mana lagi. Kondisi bayi sudah biru karena terlalu lama sementara rumah sakit tidak memberikan toleransi malah menambahkan biaya,” terang Sahwana.

Beruntung, ada orang baik yang meminjamkan uangnya karena miris melihat keluarga sang bayi. Jenazah bayi pun dibawa pulang tadi malam setelah lebih dari sehari tertahan di rumah sakit.

“Akhirnya setelah 25 jam pihak rumah sakit membolehkan jenazah bayi pulang. Itu pun karena sudah dilunasi semua. Saya pikir rumah sakit akan mementingkan sisi kemanusiaan, apalagi rumah sakit Islam, tapi ternyata tidak,” herannya.

Mengetahui kondisi itu, Ketua Lembaga Pemantau Kebijakan Publik Rudi Jainudin sangat menyayangkan insiden penahanan jenazah bayi oleh rumah sakit.

Pihaknya akan segera menyampaikan permasalahan ini ke Pemerintah Kota Bogor melalui dinas kesehatan.

“Kalau pelayanannya seperti ini sangat buruk. Tidak ada perikemanusiaan sama sekali. Kalau memang pembayaran harus dipenuhi tapi seharusnya tidak dengan menahan jenazah seperti itu,” sesal Rudi.

Hingga berita ini diturunkan, pihak RS Ummi Bogor, belum bersedia dikonfirmasi. (met)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here