BOGOR DAILY- Muhammad Talib, anak dari Fathul Bahri dan Zuriyah yang dilahirkan Senin lalu (10/4) harus bertahan hidup dengan dua kepala. Talib mengalami kelahiran kembar siap. Meski jantung dan paru paru keduanya berfungsi, namun bayi pasangan Fathul dan Zuriyah yang masih mendapatkan perawatan intensif itu hanya memiliki satu ginjak, satu limpa dan liver menyatu.
Dengan kondisi tersebut, tenaga medis sulit melakukan pemisahan keduanya. Karena, ini akan membunuh salah satunya atau keduanya.
Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB, dr Lalu Hamzi Fikri menjelaskan, bayi tersebut merupakan kembar siam parapagus. “Tidak bisa kita prediksi kedepannya, yang jelas hidup dan mati itu di tangan Tuhan,” ucapnya seperti yang dilansir Jawa Pos, Jumat (20/4).
Hal yang bisa dilakukan saat ini, pihaknya berupaya menjaga kesehatan bayi dan memberikan pelayanan terbaik. Terutama mengatasi gangguan pernafasan yang kerap datang. “Kondisinya saat ini sih stabil, tapi kan kesehatan bayi itu labil. Jadi kita tetap berikan pelayanan terbaik apapun yang akan terjadi,” katanya.
Disampaikan Hamzi Fikri, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, telah didatangkan susu khusus. Mengingat bayi memiliki dua kepala dengan organ lengkap, maka nutrisi masuk ke dua-duanya. “Kepalanya kan dua, jadi nutrisi kita masukkan ke kedua mulutnya,” ungkap Hamzi Fikri.
Menurutnya, bayi bisa bertahan sampai saat ini saja sudah luar biasa. Kondisi fisik sang bayi memang sangat kuat dibandingkan bayi–bayi lainnya. Ia menduga bayi tersebut akan mampu bertahan hidup lebih dari 11 hari.
Wakil Direktur Pelayanan RSUD Provinsi NTB, dr Agus Rusdhi menambahkan, kembar siam pernah terjadi di NTB pada tahun 2011, 2014 dan tahun 2017 ini. Namun, bayi sebelumnya tidak ada yang bisa bertahan hidup.
Begitu juga di luar daerah dengan kasus kembar siam parapagus. Bayi seperti itu belum lama ini ditemukan di Surabaya, Medan dan Gresik. Namun umur bayi paling lama bisa bertahan hanya 11 hari saja. “Jadi bayi yang disini sudah mau 11 hari nih, akan jadi bayi paling lama bisa bertahan hidup,” ungkapnya.
Terhadap nasib bayi yang saat ini menjadi pasien RSUD NTB, Agus Rusdhi juga enggan memprediksikan nasibnya. Pihak rumah sakit hanya bisa memberikan pelayanan terbaik saja. “Orangtua bayi juga sudah kami ajak komunikasi, mereka sudah pasrah apapun yang akan terjadi. Karena memang tidak mungkin kita operasi, mereka sudah ikhlas kok,” tandasnya. (jpg/bd)