Asal Usul Gunung Kapur Ciampea

Menu

Mode Gelap
Hasil Piala Asia U-17, Timnas Indonesia Menang Tipis 3-2 Atas UEA Siap-siap Tampung Air, Pipa PDAM Sedang dalam Perbaikan Tidak Ditilang, Polisi Tegur Ratusan Pelanggar pada Hari Kedua Operasi Zebra Lodaya Update Terkini Perbaikan Pipa PDAM, Ini Wilayah yang Terdampak Buntut Tragedi Stadion Kanjuruhan, Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat Dicopot!

Kabupaten Bogor · 29 Nov 2017 11:00 WIB

Dikelilingi 20 Gua, Ini Asal Usul Gunung Kapur Ciampea


 Dikelilingi 20 Gua, Ini Asal Usul Gunung Kapur Ciampea Perbesar

BOGOR DAILY- Gunung Kapur Ciampea belakangan mulai ramai dikunjungi wisatawan. Tempat ini bukan cuma menyuguhkan panorama memukau bagi pecinta alam, tetapi juga menyimpan sejarah peradaban manusia. Bahkan, jejak Kerajaan Tarumanegara juga ditemui di kawasan Gunung Kapur yang terbentuk dari lautan dangkal. Beberapa arca masih ditemui di gunung ini, termasuk gua-gua yang diduga jadi persembunyian para raja tempo dulu.

DI puncak Gunung Kapur, punggungan hingga kaki ter­hampar benda-benda berni­lai sejarah sebagai warisan peradaban purba Sunda. Salah satunya warisan Kera­jaan Tarumanegara abad ke-5 Masehi. Ini ditandai pene­muan arca peninggalan Prabu Purnawarman yang tersebar di Gunung Kapur pada 1971.

Tokoh masyarakat setempat, Abdul Rojak (59), mencerita­kan bahwa Gunung Kapur merupakan salah satu pening­galan Kerajaan Purnawarman dan sering disebut Gunung Panenjoan, yakni tempat melihat suatu wilayah. Konon, tempat itu dijadikan bukit pengintai yang bisa melihat keadaan di wilayah sekeliling.

Sejak 1978, warga sekitar banyak menemukan arca dan prasasti Kerajaan Purnawar­man. Arca yang dibuat itu dikenal dengan patung 5, 4, 3, 2 dan 1. Konon bentuk pa­tung yang dibuat merupakan wujud peringatan atau pesan bahwa di tempat tersebut pernah ditempati atau di­huni kelompok masyarakat Pajajaran.

Adapun yang dapat diketa­hui dari patung-patung batu atau arca tersebut antara lain memiliki nama sebagai iden­titasnya. Sangiyang Cupu Manik, Sangiyang Dewa Braja, Sangiyang Mustika Dewa Domas dan Sangiyang Agung Dewa Suci. “Kalau cerita orang dulu, arca itu adalah keturunan dari Sri­nuhun Dar Niskala Watu Sri Baduga Maha Raja Mulawar­man Siliwangi,” bebernya.

Tak hanya arca, ada pula batu hitam sebesar rumah dan karang gantung. Namun pada 1979, batu itu akhirnya dihancurkan. Sedangkan ka­rang gantung berukuran 20 meter banyak digunakan untuk berteduh ketika hujan. Menurut cerita orang tua dulu, itu merupakan batas wilayah Bogor. Bahkan salah satu ciri khas Gunung Kapur Ciamepa yakni ditemukannya karang bintang mirip benda-benda di dasar laut. “Infor­masinya aliran dari Gunung Kapur sampai ke Kebun Raya Bogor dan lokasi tempat is­tirahatnya para raja zaman dulu,” bebernya.

Ketua Baraya Kujang Paja­jaran (BKP) Kabupaten Bogor Ahmad Fatir membenarkan adanya bekas peradaban manusia yang tersimpan di Gunung Kapur Ciampea. Pe­ninggalan ini diperkuat dengan jarak gunung itu dengan Situ Prasasti Kaki Gajah Raja Be­sar Tarumanegara, Prabu Purnawarman di Muara Sungai Cianten, Cibungbu­lang, yang hanya 1 km saja. “Di sana ada puluhan arca. Sayang arca itu tidak terawat,” kata Ahmad.

Bahkan, anggota Batalion-14 Kopassus RA Fadilla Grup 2 Batalion 14 Kemang Kopka Darmawan juga pernah me­nemukan sebuah situs tua ‘Batu Nangtung’ (batu ber­diri, red) di atas Gunung Ka­pur Cibodas.

Diduga arca itu memang ada hubungannya dengan kerajaan tertua di Indonesia. Menurut data dari beberapa komunitas yang pernah me­neliti, terdapat lebih dari 20 arca yang tersebar di area gunung tersebut. Namun, arca itu sebagian sudah rusak, sebagian hilang dan seba­gian dibawa ke Museum Pa­sir Angin.

Tak cuma kaya sejarah, men­urut Darmawan, area Karst tersebut menyimpan po­tensi alam yang berdampak pada kehidupan warga. “Gu­nung ini kurang lebih dikeli­lingi 22 gua yang memiliki sumber air bawah tanah. Beberapa sudah dinamai tapi ada juga yang belum. Mungkin dulunya jadi tempat persemedian raja-raja, tapi sekarang gua-gua ini betul-betul jadi warisan yang per­lu dijaga dna dirawat,” beber Darmawan.

Warga sekitar yang sering masuk gua, Edi Junaedi (55), mengakui soal berlimpahnya sumber mata air di Gunung Kapur Ciampea. Salah satu­nya Gua Sipeso dan Siwulung. Dua gua itu tak hanya jadi sarang walet tapi jadi sumber mata air bagi kehidupan warga Ciampea. “Walaupun musim kemarau, mata air dari Gunung Ciampea tidak pernah kering,” ujar Edi.

Sementara berdasarkan hasil penelitian mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB), Citra Nurwani, dengan judul Penelitian Geologi Dae­rah Ciampea disebutkan bahwa Gunung Kapur Ciam­pea secara keilmuannya ter­bentuk dari proses sedimen­tasi laut dangkal.

Tak heran jika di kawasan Gunung Kapur dirinya juga banyak menemukan fosil biota laut, seperti kerang-kerangan. “Ya memang Gu­nung Kapur itu merupakan dasar laut. Proses ini terben­tuknya bisa 23 juta tahun lalu,” sebut Citra.

Sedangkan soal keberadaan 22 gua yang mengelilingi Gu­nung Kapur, Citra menjelas­kan bahwa hal itu terjadi karena adanya proses pelaru­tan batu gampir akibat ter­kena hujan. Kondisi ini ter­jadi dalam jangka waktu berkepanjangan.

“Dalam istilah geologi itu dinamakan karstifikasi. Ibarat es batu, kalau disiram air terus akan bolong. Cuma bedanya dalam batu kapur butuh wak­tu jutaan tahun sehingga ba­nyak gua-gua di sana,” urainya.

 

Artikel ini telah dibaca 914 kali

 
Baca Lainnya

Tim Recheking Jabar Menilai Langsung Program TP-PKK Desa Sukamaju

6 Oktober 2022 - 20:37 WIB

Program TP-PKK Desa Sukamaju

Sekda Burhanudin Sebut Pramuka Wadah Pembentukan Karakter Para Pemuda

6 Oktober 2022 - 20:00 WIB

pramuka wadah pemuda

Plt. Bupati Bogor Minta PHRI Rangkul Lebih Banyak Anggota Demi Majukan Pariwisata

6 Oktober 2022 - 18:08 WIB

PHRI

Plt. Bupati Bogor Terima Penghargaan NIB Tertinggi Ke-3 Se-Jawa Barat

6 Oktober 2022 - 17:22 WIB

Penghargaan NIB Tertinggi

Gegara Percikan Api, Rumah dan Mobil Odong-odong Ludes Terbakar

6 Oktober 2022 - 17:10 WIB

Mobil Odong-odong Terbakar

Podcast Bincang Bogordaily Kupas Tuntas ChildFund, Seperti Apa?

6 Oktober 2022 - 11:34 WIB

Trending di Kabupaten Bogor