150 Bangunan Jadi Tumbal Pembangunan Rel

  • Whatsapp

Bogor Daily – Rencana pembangu­nan rel kereta ganda (double track) di jalur Bogor-Sukabumi menyisakan kese­dihan tersendiri bagi warga yang ter­kena gusur. Meskipun lahan yang di­gunakan untuk membangun rumah adalah milik PT Kereta Api Indonesia (KAI), rata-rata mereka sudah lama me­netap di kawasan itu. Desa Watesjaya merupakan satu dari dua desa di Keca­matan Cigombong yang terkena pener­tiban untuk pembangunan double track. Desa lainnya, yakni Desa Cigombong, terdapat 150 bangunan yang terkena penertiban.

Camat Cigombong, Basrowi, menje­laskan, akan ada dana kompensasi bagi mereka yang terkena penertiban. Hanya saja mereka diminta terlebih dulu mengosongkan bangunan yang lahannya akan digunakan sebagai proy­ek double track. ”Memang harus pindah, karena kan tanah itu punya orang,” ka­tanya. Ia sangat mendukung proyek yang digarap Dirjen Kereta Api (KA) Kemen­terian Perhubungan. Langkah yang diambilnya yakni dengan sosialisasi kepada masyarakat Cigombong, khus­usnya Desa Watesjaya yang masyara­katnya paling banyak menduduki lahan KAI. “Di Kecamatan Cigombong sedi­kitnya ada 60-an keluarga yang masih menempati bangunan yang bakal dija­dikan double track,” ungkapnya.

Lalu, Sekretaris Desa (Sekdes) Watesjaya, Wawan, mengatakan, hampir setengah dari 127 bangunan yang akan ditertibkan masih ditempati masyarakat. Hal itu lantaran mereka masih menunggu ke­jelasan dana kompensasi. “Masih ada beberapa yang masih dihuni warga. Kurang dari setengahnya dari jumlah 127,” jelasnya.

Wawan menambahkan, kantornya kerap didatangi warga yang akan ter­kena penertiban. Mereka memperta­nyakan kapan uang kompensasi akan dibayarkan kepada warga. Sebab, ma­syarakat sukarela menutup tempat usa­hanya yang berdiri di atas lahan PT KAI sejak beberapa bulan lalu. “Belum ada tindak lanjutnya sampai saat ini,” pung­kasnya.

Loading...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *