Bogor Daily – Program konversi angkot 3:2 (tiga menjadi dua) di Kota Bogor bakal diterapkan sebentar lagi. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor sudah menyiapkan 25 unit angkot baru dengan fasilitas komplit, dari AC, WiFi hingga interior yang kece.
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor Jimmy Hutapea mengatakan, rencananya angkot modern ini akan beroperasi pada Selasa (25/9) di lintasan Trans Pakuan Koridor (TPK) 4. ”Beroperasinya menunggu selesai surat-surat perizinan dari Dishub dulu, direncanakan akhir September ini sudah beroperasi,” ujar Jimmy.
Menurut Jimmy, keberadaan angkot modern ini tentunya bisa membuat masyarakat kembali menggunakan angkot karena lebih nyaman, aman, ramah dan tertib dibanding angkot biasa. Selain itu, dengan beroperasinya angkot modern ini akan mengurangi jumlah angkot konvensional sebanyak 180 angkot diganti ke angkot modern 120 angkot. “Jadi berkurang 60 angkot karena kan ini konversinya 3:2,” jelasnya.
Jimmy menambahkan, konversi angkot ini juga menjadi bagian dari program rerouting angkot. Saat ini secara regulasi rerouting angkot sudah berjalan, hanya saja progresnya belum berjalan 100 persen.
Angkot modern ini akan melintasi jalur TPK 4, yakni Ciawi, Baranangsiang, Otista, BTM, Sempur, Pajajaran, Warungjambu, Pomad hingga Ciparigi. TPK 4 merupakan merger dari trayek 09, sepertiga dari trayek 21, trayek 03, trayek 02 dan trayek 07.
Soal biaya pembuatan angkot, Pemimpin Koperasi Duta Jasa Angkutan Mandiri (KODJARI) Dewi buka suara. Ia mengatakan, harga Suzuki APV standar Rp120 juta. Sedangkan pembuatan angkot yang meliputi karoseri, interior, air conditioner dan lain-lain, menghabiskan biaya 60 persen dari harga mobil.
Menurutnya, harga pembuatan setiap unit angkot modern ini tidak bisa disamakan karena kondisi dolar Amerika Serikat yang menguat. Tetapi rata-rata sekitar 60 persen dari harga mobil. “Tergantung dari pembelian setiap part karena ada barang yang diimpor. Sedangkan rupiah saat ini belum stabil,” katanya.
Alasan memilih angkot modern, selain untuk bersaing dengan transportasi online, adalah jauh lebih kondusif jika dibandingkan dengan membuat ELF modern. Sebab, volume penumpang dinilai tidak berbeda jauh, hanya selisih tujuh penumpang. Selain itu, biaya pembuatan interior angkot modern jauh lebih murah.
“Misalnya menggunakan mobil Isuzu ELF Long, yang mampu menampung 20 orang. Sedangkan angkot modern ini mampu menampung 13 orang, hanya selisih tujuh orang. Kalau anak kecil malah bisa 14 orang,” ujar Dewi.
Ia melanjutkan, membuat interior ELF menjadi mewah bisa menghabiskan 2,5 kali lipat dari harganya. “Kalau harga mobilnya Rp 200 juta, dengan interior mewah bisa menjadi Rp 500 juta. Selain itu, biaya maintenance juga jauh lebih mahal,” ucapnya.

