Sunday, 6 April 2025
HomeBeritaCorona Merambat, Pemerintah Lambat

Corona Merambat, Pemerintah Lambat

BOGOR DAILY- Pada awal Corona, respons Indonesia sangat lambat dan terlambat. Padahal di Wuhan telah terjadi akhir 2019. Kelambatan tersebut terutama karena ‘sungkan’ takut menyinggung Tiongkok. Kedua, pejabat-pejabat RI mengambil sikap ‘self-denial’ (menolak kenyataan). Kita kehilangan 2,5 bulan.

Kita kehilangan waktu yang sangat berharga, 2,5 bulan, untuk scanning, monitoring dan testing potensi penularan corona. Itulah yang menyebabkan negara lain seperti Australia, Singapore, WHO tidak percaya pada statistik kasus corona di indonesia.

Respons kebijakan pertama terhadap corona sangat ngawur. Yaitu rencana untuk membiayai influencers senilai Rp72milyar & subsidi airline untuk meningkatkan turis. Benar-benar ngawur. Di saat seluruh dunia mau kurangi turis asing, Indoensia justru mau meningkatkan. Kualitas orang-orang di sekitar Jokowi payah.

Belum lagi pekerja Tiongkok yang masih diizinkan masuk Indonesia hanya karena kepentingan bisnis pejabat. Ingat kepentingan nasional!

Sebagai bangsa memang kita terbiasa dan sangat asyik kalau membahas apa yang terjadi hari ini. Tetapi tidak terlatih untuk melihat dan melakukan antisipasi terhadap masa depan. Sehingga sering terlambat jika menghadapi shocks global seperti corona.

Jika tidak ada corona, ekonomi Indonesia memang terus anjlok karena salah kelola. Mabok utang & pengetatan makro. Ekonomi hanya akan tumbuh 4% pada 2020 ini. Kalau tindakan terhadap corona effektif, ekonomi hanya akan anjlok lagi -1%. Tapi jika tidak effektif, ekonomi akan anjlok -2% lagi.

Untuk mengurangi dampak corona terhadap ekonomi, ini waktunya untuk menggeser secara radikal dengan melakukan realokasi APBN 2020. Stop (moratorium) proyek infrastruktur besar 2020. Pemerintah harus berani, jangan gengsi. Alokasikan hanya untuk sektor kesehatan, makanan dan daya beli rakyat miskin.

Indonesia saat ini bukan negara kaya, sehingga jangan lakukan ‘macro pumping’ dan jangan ada ‘buyback’ saham BUMN. Amerika saja yang negara kaya, melakukan pumping macro ratusan milyar dollar lewat FED ternyata tidak effektif, hanya kurang 2 jam index naik, habis itu anjlok.

Korea Selatan termasuk negara yang paling effektif dalam menangani pandemik corona karena mereka belajar dari kasus SARS, evaluasi apa yang effektif dan siapkan SOP (Standard Procedures) Ketika serangan Corona, sudah ada SOP yang siap-pakai tanpa perlu banyak rapat dan koordinasi.

Gunakan momentum pandemic corona ini, untuk menggenjot produksi dalam negeri. Seperti pertanian, buah2an dan sayur2an. Bantu kredit, bibit, pupuk sehingga bisa panen setiap 3 bulan. Ajak IPB untuk bantu peta kecocokan tanah. Jangan bisanya impor doang.

Nilai tukar Rupiah makin anjlok, sudah Rp15.200/$, dan index IHSG sudah anjlok dari 6000an ke 4500an. Jangan biarkan mata uang Rupiah dan Index terombang-ambing dengan shocks dan volatilitas yg sangat besar. Ubah flexible exchange menjadi fixed exchange di 15.500/$ utk 1 tahun.

Jangan biarkan external & internal shock dengan volatilitas yang sangat besar merusak ekonomi dan korporasi nasional. Bekukan perdagangan saham sampai waktu yang belum ditentukan. Toh kalau dibuka terus, akan semakin anjlok, dan akan semakin panik.

Ini adalah momentum untuk tukar (swap) utang2 Indonesia yg yield-nya sangat tinggi (7-8%), karya Menkeu ‘Terbalik’ yg sangat merugikan bangsa kita. Kerugian krn bond kemahalan itu 110-120T. Padahal yield bond di Jepang, Eropa negatif. Segera negosiasi swap bond, menghemat 110T!

Soal penjelasan dan tindakan preventif dan kuratif menghadapi corona, pujian perlu diberikan kepada Gubernur Anies Baswedan. Bravo. Jelas, terukur dan persuasif dibandingkan pejabat2 pemerintah pusat.

Dr.
17 Maret 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here