Bank Sampah Organik, Masa Depan Pengelolaan Sampah

  • Whatsapp

Bogor Daily – Bank Sampah adalah istilah yang sudah akrab di tengah masyarakat. Tetapi hampir semua yang dikenal adalah bank sampah non organik. Bisa jadi memang belum ada yang berminat membuat Bank Sampah Organik. Maklum wujud sampah organik memang berbeda. Umumnya berbentuk basah dan berbau tidak sedap.  Sedangkan sampah non organik, umumnya kering dan relatif tidak berbau. Jadi pasti lebih repot kalau mengelola sampah organik dalam sebuah bank sampah.

Pengecualian terjadi di Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor. Di salah satu sudut halamannya, kini sedang dirintis pembuatan sebuah model bank sampah organik. Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, Deny Wismanto, rintisan ini sedang dilakukan untuk membuat sebuah prototype pengeloaan sampah organik skala lingkungan tingkat RT dan RW di Kota Bogor. 

Dalam rangka itulah, dalam beberapa waktu terakhir ini, ASN di lingkungan DLH Kota Bogor menyetor sampah organik. “Mereka kami imbau untuk mendukung program ini dengan membawa sampah organik dari masing-masing rumah,” ungkap Deny. Sampah tersebut akan menjadi santapan belatung maggot yang memang sengaja dikembangbiakan. “Maggot adalah pencacah sampah alami yang efektif untuk memusnahkan sampah organik,” tambah Deny.

Pengelolaan sampah dalam model bank sampah organik, pada dasarnya memanfaatkan belatung maggot yang saat ini sudah mulai banyak dibudidayakan. Belatung yang berasal dari larva lalat jenis BSF ini, bisa dimanfaatkan antara lain sebagai pakan ikan subtitutif untuk mengurangi penggunaan pelet sebagai pakan ikan budidaya.  Maggot sudah menjadi komoditas berharga. Konon harga maggot di pasaran saat ini mencapai Rp 5 ribu per kilo. Tidak heran jika sekarang budidaya maggot sudah memasuki skala bisnis. Bukan lagi sekadar sebagai hasil sampingan dari pengelolaan sampah organik. 

Dalam catatan Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Bogor, Dimas Tiko, sejauh ini dalam uji coba di lingkungan kantornya,telah terkumpul 32 kg sampah organik hasil setoran para pegawai. Pada minggu pertama awal Agustus kemarin, telah dipanen maggot sekitar 40 kg. “Untuk menghasilkan maggot sebanyak itu diperlukan sampah organik sebanyak 250 kg,” ungkap Dimas yang berperan sebagai ketua proyek ini. “Karena sampah yang terkumpul dari pegawai baru bisa 32 kg, terpaksa kami ambil sisanya dari sampah organik yng dibawa truk sampah,” tuturnya.

Bisa dibayangkan besarnya kebutuhan sampah organik jika pengelolaan sampah memanfaatkan maggot. “Beberapa rekan pengelola TPST yang memanfaatkan maggot, saat ini sudah kekurangan sampah organik,” lanjut Dimas. Hal ini dibenarkan oleh Misbah yang mengelola TPST di daerah Ciparigi I. Dengan kemampuan menghasilkan maggot sebanyak 400 Kg sekali panen, saat ini pihaknya kesulitan mencari sampah organik yang jadi pakan larva maggot. “Karena untuk itu kami perlu sampah organik sebanyak 1,2 ton,” katanya. Jumlah sampah sebanyak itu tidak dapat sepenuhnya diperoleh dari lingkungan pemukiman di sekitar TPST-nya.

Dengan kenyataan, bahwa sampah organik sudah sangat dibutuhkan maka pantas jika Deny optimis dengan proyek rintisan ini. “Bagi kami budidaya maggot bukan tujuan utama, karena yang utama adalah memusnahkan sampah organik di sumbernya,” kata Deny. Dulu masyarakat diajak untuk bisa memilah sampah organik dengan non organik. Dari proses itu lahirlah bank sampah yang kemudian mengelola sampah non organik untuk bisa menghasilkan manfaat ekonomis. 

Tetapi pemanfaatan bank sampah non organik belum maksimal dalam konteks usaha menuju zero waste atau sampah habis dikelola di sumbernya. “Sebab kenyataannya sebanyak 60-70 persen sampah rumah tangga adalah sampah organik, “jelasnya. Hal itu yang membuat Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang menampung buangan sampah rumah tangga di tingkat pemukiman, tetap harus mengelola sampah organik dengan cara menjadikannya pupuk kompos. Pengelolaan itu membutuhkan dana dan juga tenaga manusia. Oleh karena itu dengan memanfaatkan maggot, sampah bisa terkelola secara lebih efektif dan produktif. “Sampah organik yang ada disitu bisa benar-benar habis dan menyiskan kasgot atau bekas maggot yang dapat dijadikan kompos,” lanjut Deny.

Pengambangan bank sampah organik juga bisa menghasilkan bio gas. Di unit percontohan di kantor DLH Kota Bogor, sudah dibuat unit pemanfaatan saampah organik untuk menjadi bio gas. Namun dalam pemanfaatannya sebagai bio gas, menurut Dimas masih diperlukan kotoran ternak sebagai pemacu munculnya bio gas. Tetapi hal itu bukan hambatan, karena menurut Dimas limbah ternak bisa diperoleh.

Dengan pemanfaatan sampah organik sebagai bahan bio gas, maka unit pengelolaan sampah organik atau bank sampah organik skala RT atau RW bisa menghasilkan banyak manfaat. Pertama, bisa menghasilkan maggot, kedua bisa menghasilkan bio gas skala kecil dan ketiga memusnahkan sampah di sumbernya. Namun Dimas melihat manfaat lain dari proyek ini, yaitu mengedukasi masyarakat untuk terbiasa memilah sampah organik dan non organik di rumah masing-masing. “Masyarakat perlu meyakini, bahwa sampah tidak perlu dibuang tapi dikelola untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai secara ekonomis,” katanya.

Apabila pengelolaan sampah skala RT dan RW sudah bisa membuat sampah habis di sumbernya, yaitu di lingkungan pemukiman setempat, maka tentu tidak diperlukan lagi pengangkutan sampah skala besar-besaran ke TPA. Hal itu berarti manajemen pengelolaan sampah bisa lebih efektif dan efisien. Sebab nantinya tidak lagi diperlukan lahan luas buat TPA dan banyaknya armada pengangutan sampah. Itulah sebuah kondisi sangat ideal yang diharapkan bisa terwujud di masa depan Kota Bogor. (Advertorial)  

Loading...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *