Gus Aam: Merindukan NU yang Ikhlas dan Tulus Berkhidmat untuk Umat

Menu

Mode Gelap
Malang Diguncang Gempa Berkekuatan M 5,3 Niat Jemput Anak, Seorang Ibu Asal Cigudeg Tewas Tertabrak Truk Terputusnya Aliran Listrik PLN, Ini 3 Wilayah yang Terdampak Akibat Hujan Deras dan Angin, Pohon di Perum Taman Griya Tumbang Klarifikasi, Rachel Vennya: Aku Tidak Lakukan Karantina Sama Sekali

Tokoh · 11 Okt 2021 09:45 WIB

Gus Aam: Merindukan NU yang Ikhlas dan Tulus Berkhidmat untuk Umat


 KH. Agus Solachul Aam Wahib Wahab, Ketum NU Khithah 1926.(Istimewa/Bogordaily.net) Perbesar

KH. Agus Solachul Aam Wahib Wahab, Ketum NU Khithah 1926.(Istimewa/Bogordaily.net)

Bogordaily.net – KH. Agus Solachul Aam Wahib Wahab, Ketum NU Khithah 1926 mengatakan sedih sekaligus prihatin, mendengar kabar adanya oknum

Caketum PBNU yang diduga mendapat dana besar dari Israel untuk dipergunakan membiayai pencalonan dirinya.

“Ada pula dugaan oknum yang didukung oleh para pengusaha yang katanya disebut 9 Naga dan konglomerat China untuk membiayai pencalonannya,” lanjut Gus Aam.

Hal itu sebagaimana diungkap oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al-Murtadla Al-Islami, Singosari, Malang KH Luthfi Bashori dalam artikel berjudul “Apa Benar di Muktamar Ada Risywah?”

Terlepas hal ini baru dugaan, namun bau ‘amis’ tentang adanya permainan uang dalam penyelenggaraan Muktamar, sudah tercium sejak pada penyelenggaraan Muktamar yang dulu menempatkan KH SAS sebagai Ketum PBNU.

“Tanpa turut membenarkan atau menegasikan kabar tersebut, rasanya saya sebagai dzuriyat Muassis NU sangat terpukul sekaligus terpanggil untuk ikut membenahi NU. Saat saya, Gus Wachid Muin, Gus Rozak, dan KH Hasib Wahab, almarhum KH Solahudin Wahid  (Gus Solah), dan sejumlah Kiai 3 tahun lalu mendirikan Komite Khittah Nahdlatul Ulama 1926/KKNU 1926 atau yang lebih dikenal dengan istilah NU Khittah 1926, salah satu alasannya adalah keprihatinan tentang kondisi kekinian ditubuh NU,” ujar Gus Aam.

Pada beberapa waktu yang lalu, Gus Aam telah menulis kriteria yang semestinya dimiliki oleh Calon Ketum PBNU.

Namun, sepertinya soal keikhlasan dalam mengelola Jam’iyyah, semata mencari ridlo Allah SWT, perlu dan penting diulang-ulang dan ditegaskan kembali.

Perlu diketahui, menjadi Ketum PBNU berarti menjadi ketua Jam’iyah yang hanya berorientasi pada ridlo Allah SWT dan memiliki himmah untuk berkhidmat kepada umat.

NU bukanlah perseroan yang sejak didirikan memang bertujuan mencari profit, berorientasi pada materi.

Maka semua calon Ketum PBNU harus terus menghayati NU sebagai jam’iyah dakwah, organisasi perjuangan yang tidak sedikitpun memikirkan keuntungan materi.

Baik keuntungan untuk dirinya atau kelompoknya. Sekali lagi, NU adalah Jam’iyyah dakwah.

Menarik NU dalam kerja-kerja profit oriented atau menariknya ke area politik praktis dengan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan harta dan tahta, adalah sebuah pengkhianatan terhadap Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Sebagai dzuriyat pendiri NU, saya merasa berkewajiban, bertanggungjawab, bahkan berhak mengingatkan siapapun agar tidak menjadikan NU sebagai jam’iyah untuk mencari dan mengumpulkan harta dunia.

“Para Caketum PBNU harus kembali menginsyafi, dirinya hanyalah melanjutkan perjuangan NU, bukan pendiri NU yang bebas menentukan arah dan corak orientasi NU. Mereka, harus kembali merujuk khittoh yang ditetapkan pendiri NU agar tidak keluar dari rel perjuangan NU,” kata Gus Aam mengingatkan.

“Bekerja dan berjuang bukan karena kedudukan, Pengaruh ataupun kekayaan, Tidak pula karena mengharap pujian dan sanjungan, melainkan semua itu dilakukanya demi kepentingan Agama dan Masyarakat.”

Kata-kata Hadratus Syekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari diatas, harus diresapi dan mengkristal dalam setiap sanubari Caketum PBNU dan seluruh anggota Jam’iyyah.

Tidak boleh ada -meski hanya sebiji gandum- onggokan dunia dalam dada-dada jam’iyah NU.

“Terakhir, saya berharap isu adanya pendana bahkan donatur dari Israel untuk caketum PBNU tidak benar. Karena itu jelas-jelas mengkhianati perjuangan dari Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari,” ungkap Gus Aam. .

Karena itu, penting bagi seluruh kader NU untuk turut mengontrol jalannya muktamar dengan tanpa kenal lelah.

Terus menghadirkan spirit keikhlasan dalam perjuangan serta hanya mengharap ridlo Allah SWT, sebagai pemandu sekaligus penjamin  bersihnya perjuangan yang diemban NU.***

Artikel ini telah dibaca 60 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Heboh! Dimasa Tua Sukmawati Pindah Agama

23 Oktober 2021 - 12:43 WIB

Cerita Mu’adz, Anak Kuli Bangunan yang Hapal 30 Juz Alquran

23 Oktober 2021 - 07:36 WIB

Mu'adz

Kisah Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah yang Penah Kelaparan Saat di Mesir

22 Oktober 2021 - 13:18 WIB

Kisah

Kenny “Xepher” Deo atlet Esports Penghasilan Tertinggi di Indonesia

22 Oktober 2021 - 11:34 WIB

Kenny "Xepher" Deo

Atang Trisnanto Minta PTM Terbatas Dilaksanakan Secara Matang dan Maksimal

21 Oktober 2021 - 21:19 WIB

Atang trisnanto

Menjaga Elektabilitas, Anies Dideklarasikan Sebagai Capres

21 Oktober 2021 - 17:25 WIB

Trending di Tokoh