Monday, 27 April 2026
HomeKabupaten BogorGeluti Seni Lukis di Usia 18 Tahun, Aristawidya Maheswari Miliki Segudang Prestasi 

Geluti Seni Lukis di Usia 18 Tahun, Aristawidya Maheswari Miliki Segudang Prestasi 

Bogordaily.net – Aristawidya Maheswari siswi berusia baru 18 tahun memiliki segudang prestasi telah diraihnya di bidang seni lukis.

Bekal dari hobi dan sudah beprestasi sejak usia 4 tahun, Arista bangga menunjukkan 36 karyanya di Museum Basoeki Abdullah, Cilandak, Jakarta Selatan, yang akan berakhir pada 8 Agustus.

Pameran ini ditampilkan hasil dari proses belajar melukisnya dari kecil sampai dengan saat ini dan didominasi hasil belajar di masa anak-anak.

Maka dari itu ia mengambil tema “MetAmorfosa” yang bermakna perubahan atau perkembangan untuk menjadi lebih baik.

Mentornya Iwan Setiawan menyebutkan, melukis bagi Arista adalah kegiatan yang sangat menyenangkan.

Baca juga : Puasa Tasua dan Asyura Kapan? Cek Jadwal Lengkap di Sini

Terlihat ekspresi kegembiraan saat belajar melukis. Melukis bukan sekedar mengisi waktu luang, tapi sudah menjadi bagian dari kegiatan kesehariannya.

Dengan berjalannya waktu belajar menghasilkan karya-karya yang cukup banyak dan sayang kalau hanya tersimpan di tempat tinggalnya.

Proses Ikuti Pameran di Museum Basoeki Abdullah

Karena itu dengan persiapan yang cukup singkat, Arista memutuksan menghubungi pihak museum Basoeki Abdullah dengan tujuan ingin berpameran tunggal.

Pihak museum memperkenakan serta memfasilitasinya karya-karya yang dipamerkan baik tema maupun gaya lukisannya yang masih beragam dalam pencarian jati dirinya kelak ketika terjun ke dunia seniman yang sesungguhnya.

Iwan berharap dengan pameran ini akan menarik minat anak-anak untuk mencintai seni khususnya seni rupa.

Dari hal tersebut diharapkan seni rupa di Indonesia akan tumbuh berkembang dan dapat muncul seniman-seniman seni rupa yang profesional.

“Semoga ke depannya Arista bisa terus berproses melukis menjadi lebih baik lagi di kampus impiannya Institut Seni Indonesia Yogyakarta untuk dapat mengembangkan minat dan bakatnya serta kelak akan menjadi pelukis besar seperti mimpinya,” tutur Iwan.

Karya Arusta Dikagumi

Pameran MetAmorfosa dibuka oleh Budi Waseso yang kini sebagai Ketua Kwartir Nasional Pramuka.

Budi Waseso (Buwas) termasuk yang kagum dengan karya-karya Arista. Bahkan ketika Buwas masih menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), salah satu yang menjadi obyek lukisan Arista.

“Saya yang juga ketua Kwarnas bangga dengan Arista. Baru kali ini saya bertemu langsung. Sementara perkenalan saya dengan Arista selama ini hanya melalui sosial media,” ujar Buwas.

Menurut Buwas, kehadiran Arista saat dirinya menjabat Ketua BNN, yang juga sekaligus untuk menyelamatkan generasi muda. Menyelematkan generasi muda jangan rusak atau dirusak dengan hal-hal negatif termasuk narkoba.

“Saat itu semangat memunculkan Arista padahal belum pernah beretemu. Tapi generasi muda mendatang harus bekualitas. Apalagi sekarang saya ketua Kwarnas dan termasuk orang yang bertangung jawab membangun karakter anak muda untuk kemajuan bangsa.
Buwas mengaku perkembangan Arista hingga hari ini membuat dirinya bangga. Bakat Arista dapat memacu semangat generasi mendatang, supaya harus punya semangat membangun negara ini dengan kreativitas.”

“Generasi muda sekarang banyak yang berkualitas, sekarang bagaimanna mereka didorong dan diberi semangat dengan dipublikasikan. “Arista di bidang ini hebat, mungkin ada lagi generasi muda lain yang hebat di bidang lain sehingga bakatnya positif dan bermanfaat untuk orang banyak,” pungkas Buwas.

Senada dengan Budi Waseso (Buwas) diungkapkan Nahdianah, Asisten Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Budaya. Harapannya Arista menjadi salah satu inspirasi anak-anak berbakat.

“Bakat akan muncul di manapun dan kita memberikan support. Pemerintah dan dinas pendidikan DKI Jakarta tentunya memberikan peluang bagi anak-anak berbakat seperti Arista dan dia menjadi contoh. Support teman-teman disamping juga pihak Museum Basoeki Abdullah. Akan ada Basoeki-Basoeki Abdullah berikutnya,”

Nahdianah menambahkan Arista bagian dari anak-anak yang melalui proses peneriman didik baru yang tentunya dipahami saat itu 2020 terjadi Corona.

Seperti diketahui, Arista menjadi salah satu anak yang ikut “demo” (mendatangi) DPRD DKI terkait Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Alhasil dengan sebuah sarana yang tepat menyampaikan aspirasinya sehingga dia bisa mutasi dari SMA Muhammadiyah ke SMA Negeri 61.

“Kami yakin talenta ini menjadi piloting juga buat kami, anak-anak Jakarta tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga mereka punya keterampilan pada saraf motorik halusnya,” pungas Nahdianah.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMAN 61 Bidang Kesiswaan Rosiano Rizky menambahkan, Arista termasuk salah satu murid yang membanggakan sekolah. Sederet piagam dan piala di sekolah merupakan sumbangsih dari anak didiknya.

“Sekolah selalu mengikutsertakan Arista lomba melukis yang hasilnya tidak mengecewakan. Dia juga pernah terpilih sebagai Forum Anak Nasional,” ujar Rosi yang juga guru Seni Rupa.

Inspirasi Karya Arista

Sebuah karya bisa muncul dari sebuah keresahan dan kegiatan keseharian. Demikian juga karya-karya Arista. Lantaran ia senang dengan kucing, maka munculah karya Yeppo yang menggambarkan seekor kucing bermain dengan kupu-kupu.

Contoh lain lagi pada karya Imagination 2023, yakni kemunculan kucing-kucing peliharaannya.

Tak hanya hewan yang menjadi perhatiannya keresahan semaca Covid 19 juga tergambar dari karyaya berjudul “Saling Membantu dalam Pandemi.”

Keresahan lain yang ditampilkan Arista pada lukisan berjudul “Berbeda”. Terdapat anak-anak yang tengah bermain gawai, namun ada seorang anak yang memegang bola.

“Di tengah kebanyakan anak bermain gadget, saya munculkan anak yang berbeda dengan membawa bola di tangah,” cerita Arista.

Baca juga : Tak Lagi Gratis, Tahun 2024 Vaksin Covid-19 Akan Berbayar

Arista juga seolah ingin mengingatkan kita agar tidak melupakan permainan tradisional. Gambaran ini terlihat dari karyanya berjudul “Bermain Congklak, Bermain Permainan Tradisional di tengah Kota Metropolitan”.

Pada lukisan lainnya yang juga penuh makna dengan judul Bertiga. Tergambar tiga ekor burung merpati, yakni sepasang merpati yang Sedang berhadapan dan satunya lagi tengah terbang.

“Ini saya gambarkan sebagai keluarga saya yang hanya ada saya, nenek dan kakek,” ujar Arista.

Ya memang benar, sejak duduk di Sekolah Dasar, Arista tinggal bertiga saja. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia sejak Arista berusia lima tahun. Ayahnya meninggal pada tahun 2010 disusul ibunya 2012.

Namun, kasih sayang, bimbingan, dukungan kakek dan nenek Siwi inilah yang akhirnya membawa Arista sampai ke jenjang ini. Pencapaian tertinggi dari seorang anak yang baru lulus SMA dan diterima di ISI Yogyakarta melayu jalur prestasi.

“Saya hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang,“ tandas Arista, gadis kelahiran Jakarta 30 Oktober 2004.

Pada pameran kali ini, Arista mengaku sangat bangga dan senang karena banyak mendapat dukungan dari sahabat-sahabat di SMAN 61 yang sekarang sudah menjadi alumni.

“Dukungan seperti ini yang akan membuat saya kangen dengan teman-teman sekolah,” pungkas Arista. (Gibran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here