Oleh: Revan Khaira Ramadhan
(J0401231045), Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB
Di tengah arus informasi digital saat ini, media sosial dan media massa memiliki peran yang sangat menentukan dalam menyampaikan berita dan membentuk opini masyarakat.
Peristiwa kebakaran yang terjadi di Los Angeles (LA) menjadi contoh nyata bagaimana informasi, baik yang akurat maupun yang keliru, dapat dengan cepat tersebar dan mempengaruhi pandangan publik.
Sementara media massa tradisional berupaya menyajikan data yang telah terverifikasi melalui proses jurnalistik yang ketat, media sosial cenderung memberikan ruang bagi penyebaran informasi yang belum terkonfirmasi, bahkan hoaks.
Artikel ini bertujuan untuk menelaah peran kedua jenis media tersebut dalam konteks kebakaran LA, dengan mengkaji mekanisme agenda-setting dan framing yang mempengaruhi opini publik.
Analisis yang disajikan mengacu pada studi literatur dari berbagai sumber terpercaya, antara lain jurnal “Jurnal Komunikasi Indonesia”, buku Media Sosial dan Pembentukan Opini Publik (Andi, 2020) serta Media Massa dalam Era Digital (Sutaryo, 2021), dan juga dilengkapi dengan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta kajian literasi digital (Rahmawati, 2021).
Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang komprehensif mengenai dinamika informasi seputar kebakaran LA.
Definisi dan Fungsi Media Sosial serta Media Massa
Media massa tradisional seperti televisi, radio, dan surat kabar telah lama menjadi sumber utama penyebaran informasi dengan sistem editorial yang ketat untuk memastikan keakuratan berita (Sutaryo, 2021).
Sebaliknya, media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram memungkinkan setiap pengguna untuk langsung berbagi informasi secara instan tanpa melalui proses penyaringan yang ketat, sehingga seringkali informasi termasuk hoaks dapat tersebar secara masif (Andi, 2020).
Konteks Peristiwa Kebakaran di LA: Data dan Realitas Lapangan
Kebakaran yang terjadi di wilayah LA telah memicu keresahan tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di tingkat global.
Data yang dihimpun oleh BNPB (2021) menunjukkan bahwa meskipun faktor alam dan kondisi cuaca ekstrem menjadi penyebab utama, muncul pula narasi yang mengaitkan kejadian tersebut dengan campur tangan manusia atau teori konspirasi.
Tingkat kerusakan yang signifikan dan jumlah evakuasi yang meningkat memicu berbagai spekulasi yang kemudian berkembang di ranah media sosial.
Mekanisme Penyebaran Informasi Keliru di Media Sosial
Karakteristik viralitas di media sosial memungkinkan hoaks untuk cepat menyebar.
Penelitian oleh Fauzi (2022) mengungkapkan bahwa informasi tidak akurat seringkali dimulai dari unggahan anonim atau akun-akun yang tidak memiliki reputasi sebagai sumber berita terpercaya.
Algoritma yang mengutamakan konten dengan interaksi tinggi mendorong penyebaran berita yang sensasional, sehingga hoaks seputar kebakaran LA dengan mudah memperoleh jangkauan luas. Selain itu, fenomena “echo chamber” di mana pengguna hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangan mereka menambah kecepatan penyebaran informasi keliru ini.
Peran Strategis Media Massa dalam Menyaring Informasi
Walaupun dihadapkan pada tantangan penyebaran cepat informasi melalui media sosial, media massa tetap memiliki peran penting melalui penerapan prinsip-prinsip jurnalistik profesional.
Proses verifikasi fakta yang dijalankan oleh media massa berfungsi sebagai penyaring yang krusial untuk mencegah masuknya informasi yang tidak benar.
Namun, dalam situasi di mana kecepatan pemberitaan menjadi tekanan tersendiri, beberapa media massa pun tidak luput dari kekeliruan, sehingga peluang munculnya narasi hoaks semakin besar.
Sutaryo (2021) menyarankan agar terjadi sinergi antara media massa dan lembaga pemeriksa fakta untuk memastikan keakuratan informasi yang disampaikan.
Dampak Terhadap Pembentukan Persepsi Publik
Interaksi antara berita resmi dan hoaks menghasilkan kompleksitas dalam pembentukan opini publik.
Informasi yang disampaikan secara akurat oleh media massa mampu menanamkan kepercayaan dan kepastian pada masyarakat. Sebaliknya, informasi keliru yang beredar di media sosial dapat memicu kepanikan, menimbulkan rasa tidak percaya, dan memecah belah pandangan publik.
Survei yang dilakukan oleh lembaga riset independen (Rahmawati, 2021) menunjukkan bahwa sekitar 40% responden mendapatkan informasi utama mengenai kebakaran LA dari media sosial, yang kemudian berdampak pada sikap mereka terhadap kebijakan penanggulangan bencana.
Media sosial dan media massa memainkan peran krusial dalam membentuk persepsi publik, terutama pada isu-isu krusial seperti kebakaran LA.
Media massa yang mengedepankan verifikasi dan analisis mendalam dapat memberikan informasi yang terpercaya, sementara media sosial kerap menjadi arena penyebaran informasi yang belum terkonfirmasi dan hoaks.
Dampak dari perbedaan ini cukup signifikan, mengingat informasi keliru dapat menimbulkan keresahan dan polarisasi di masyarakat.
Oleh karena itu, upaya kolaboratif dalam meningkatkan literasi digital, memperkuat sistem pemeriksaan fakta, serta sinergi antara pemerintah, media, dan masyarakat sangat diperlukan.
Dengan langkah tersebut, diharapkan masyarakat dapat memperoleh informasi yang lebih akurat dan mampu membentuk opini yang rasional terkait peristiwa-peristiwa kebakaran maupun isu-isu kritis lainnya.***