Sunday, 19 April 2026
HomeNasionalDari Sampah Jadi Pakan Ternak, Program Pemilahan Sampah Jakarta Utara Dapat Apresiasi

Dari Sampah Jadi Pakan Ternak, Program Pemilahan Sampah Jakarta Utara Dapat Apresiasi

Bogordaily.net – Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, mengapresiasi langkah Jakarta Utara yang mendeklarasikan gerakan 100 persen pemilahan sampah dari sumber.

Menurut Diaz, deklarasi tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pemilahan sampah nasional mencapai 100 persen pada 2029.

“Hari ini kita menyaksikan komitmen deklarasi dari Jakarta Utara untuk memulai pemilahan sampah. Ini sangat kami apresiasi karena sejalan dengan arahan Presiden yang menargetkan pemilahan sampah 100 persen pada 2029,” ujar Diaz usai deklarasi di RDF Plant Rorotan, Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara pada Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan, saat ini tingkat pemilahan sampah masih berada di kisaran 26 persen, dari target antara sebesar 63,41 persen. Untuk mengejar target tersebut, pemerintah akan mendorong berbagai upaya, terutama penguatan pemilahan dari hulu.

“Tanpa pemilahan di hulu, pengolahan sampah tidak bisa berjalan dengan optimal,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga akan menghentikan praktik open dumping di tempat pembuangan akhir (TPA) pada akhir Juli 2026. Per 1 Agustus, sebanyak 5.472 TPA ditargetkan tidak lagi menggunakan metode tersebut, yang diperkirakan dapat meningkatkan tingkat pemilahan sampah hingga 57 persen.

“Ini akan mengangkat persentase dari pemilahan sampah dari angka 26% kemungkinan ke angka 57%,” ungkapnya.

Meski demikian, masih terdapat selisih sekitar 5 persen untuk mencapai target 63,41 persen. Oleh karena itu, pemilahan dari hulu dinilai menjadi kunci utama.

Diaz mengatakan, program pemilahan sampah telah mulai dijalankan sekitar 1,5 bulan terakhir melalui pembagian wadah dan penyediaan compost drop point di lingkungan permukiman. Untuk itu, warga didorong memilah sisa makanan dan limbah dapur untuk kemudian diolah di TPS 3R.

Di fasilitas tersebut, sampah organik diolah menjadi bubur, lalu dicampur dengan molase dan mikroorganisme seperti EM4 untuk dijadikan pakan ternak. Skema ini diharapkan menciptakan ekonomi sirkular sekaligus mengurangi beban sampah.

“Harapannya, pemilahan sampah ini tidak hanya dilakukan di Jakarta Utara, tetapi juga meluas ke seluruh Jakarta dan Indonesia,” ucapnya.

Saat ini, kata Diaz dari 31 kelurahan di Jakarta Utara, tujuh di antaranya telah mulai menerapkan pemilahan sampah, dengan Kelurahan Sunter Agung menjadi wilayah dengan pelaksanaan paling masif.

Lebih lanjut, Diaz menekankan pentingnya pemilahan untuk meningkatkan kualitas sampah yang akan diolah di fasilitas seperti RDF dan R-Cell. Tanpa pemilahan, kadar air sampah bisa mencapai 40–50 persen sehingga memerlukan proses tambahan seperti pengeringan yang memakan biaya dan waktu.

“Dengan pemilahan sejak awal, sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan akan lebih siap dan efisien untuk diproses,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here