Bogordaily.net – Pembangunan jalan baru yang menghubungkan Lawang Gintung, Batutulis, hingga Cipaku patut disambut seagai kabar baik bagi warga Kota Bogor.
Selain membuka konektivitas kawasan selatan kota, proyek ini juga menjadi momentum penting untuk menghadirkan kembali sejarah Bogor di ruang publik.
Kawasan yang dilalui jalan tersebut bukan wilayah biasa. Di sana tersimpan jejak panjang sejarah Sunda, dinamika masyarakat kolonial, hingga kisah perjuangan awal republik. Karena itu, penamaan jalan sebaiknya tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memiliki nilai historis dan edukatif.
Saya mengusulkan agar ruas jalan baru tersebut diabadikan menggunakan nama R. Odang Prawiradireja, Wali Kota Bogor pertama pasca Proklamasi Kemerdekaan 1945. Beliau adalah salah satu tokoh penting yang menjaga jalannya pemerintahan Kota Bogor di masa-masa awal republik berdiri.
Sangat disayangkan, hingga hari ini nama beliau belum diabadikan sebagai nama jalan di Kota Bogor.
Mengabadikan nama R. Odang Prawiradireja bukan sekadar memberi nama jalan, tetapi bentuk penghormatan kepada tokoh lokal yang memiliki jasa besar bagi sejarah kota ini. Bogor membutuhkan lebih banyak ruang publik yang mampu memperkenalkan sejarahnya sendiri kepada generasi muda.
Sementara itu, saya juga mengapresiasi usulan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, yang mengangkat nama “Binokasih” saat Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda. Nama tersebut memiliki nilai budaya dan historis yang sangat tinggi sebagai simbol kebesaran Pajajaran dan peradaban Sunda.
Namun menurut saya, nama sebesar Binokasih akan lebih tepat apabila diabadikan pada gerbang monumental, gapura utama, atau penanda kawasan strategis Kota Bogor, bukan hanya pada sebuah ruas jalan. Dengan begitu, marwah dan wibawa Binokasih sebagai simbol kejayaan Sunda akan tampil lebih kuat dan bermakna.
Bayangkan jika Bogor memiliki “Gerbang Binokasih” di pintu masuk kota seperti kawasan Tajur atau Lawang Gintung. Itu bukan hanya menjadi identitas visual kota, tetapi juga simbol penghormatan terhadap sejarah dan kebudayaan Sunda yang agung.
Sebab kota yang besar bukan hanya kota yang membangun jalan, tetapi juga kota yang tahu cara menghormati sejarahnya.
Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie
Komunitas Jalan Pagi Sejarah (JAPAS) by Johnny Pinot
