Bogordaily.net – Link nonton film Pesta Babi mendadak jadi kata yang paling banyak dicari. Bukan film horor. Bukan pula drama bioskop. Ini dokumenter. Tapi gaungnya melampaui film komersial. Dari kampus sampai warung kopi, dari ruang diskusi sampai grup WhatsApp keluarga, nama Pesta Babi terus disebut.
Ada yang penasaran. Ada yang ingin ikut nobar. Ada pula yang sibuk mencari streaming penuh film tersebut di internet.
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita memang sedang ramai diperbincangkan setelah rangkaian nonton bareng digelar di banyak daerah. Dokumenter berdurasi 95 menit itu membahas proyek skala besar di Papua Selatan dan dampaknya terhadap masyarakat adat yang tinggal di sana.
Karya ini digarap oleh Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale. Film tersebut lahir dari kolaborasi sejumlah lembaga seperti Watchdoc, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, hingga Ekspedisi Indonesia Baru.
Yang menarik justru bukan hanya isi filmnya. Tetapi bagaimana publik berebut mencari link nonton film Pesta Babi. Banyak warganet mengira dokumenter ini sudah tersedia bebas di layanan streaming. Padahal sampai sekarang, jalur resmi yang dibuka pembuat film masih b8erupa agenda nobar komunitas.
Tautan yang paling sering dibagikan adalah bit.ly/musimnobar_pestababi. Namun tautan itu bukan link streaming bebas seperti platform video on demand. Link tersebut dipakai untuk pendaftaran dan pengecekan syarat penyelenggaraan nobar komunitas.
Di kanal komunitas Indonesia Baru, masyarakat bahkan didorong membuat pemutaran mandiri bersama komunitas lokal jika di kotanya belum ada agenda resmi. Karena itu, penonton yang mencari link nonton film Pesta Babi sebaiknya memahami bahwa akses film saat ini lebih banyak dilakukan melalui pemutaran bersama.
Film ini sendiri memotret proyek pembukaan hutan skala besar di Papua Selatan. Wilayah seperti Merauke, Boven Digoel, dan Mappi disebut menjadi bagian dari proyek pangan dan energi nasional. Di situlah benturan kepentingan muncul: antara investasi, negara, dan masyarakat adat.
Dokumenter tersebut juga menyoroti perjuangan masyarakat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu dalam mempertahankan tanah adat mereka. Isu lingkungan, agraria, hingga relasi kekuasaan menjadi inti pembahasan film.
Antusiasme publik ternyata sangat besar. Dalam berbagai laporan komunitas, ratusan titik nobar sudah digelar di Indonesia bahkan hingga luar negeri. Kampus, sekolah, komunitas warga, hingga lembaga negara ikut memutar dokumenter ini sebagai bahan diskusi publik.
Popularitasnya semakin melonjak setelah sejumlah agenda nobar dilaporkan mengalami pembubaran. Peristiwa itu justru membuat rasa penasaran publik makin tinggi. Banyak orang akhirnya berburu informasi soal lokasi nobar maupun streaming resmi.
Meski begitu, penonton tetap diimbau berhati-hati. Banyak situs tidak resmi mulai mengklaim memiliki streaming penuh dokumenter tersebut. Selain berpotensi melanggar hak cipta, tautan semacam itu juga rawan berisi iklan berbahaya atau file tidak aman.
Cara paling aman tetap melalui kanal resmi pembuat film atau mengikuti agenda pemutaran komunitas yang diumumkan penyelenggara. Jika belum ada di kota masing-masing, komunitas dapat mendaftarkan diri untuk mengadakan pemutaran sesuai ketentuan yang berlaku.
Pada akhirnya, Pesta Babi bukan lagi sekadar tontonan dokumenter. Ia sudah berubah menjadi ruang diskusi. Tentang tanah. Tentang hutan. Tentang pembangunan. Dan tentu saja, tentang siapa yang paling berhak menentukan masa depan Papua.***
