Bogordaily.net – Madu Mad Honey haram atau halal — pertanyaan itu kini ramai berseliweran di media sosial. Bukan tanpa sebab. Madu merah asal pegunungan Himalaya itu bukan sekadar madu biasa. Ia bisa membuat tubuh limbung. Kepala pening. Bahkan ada yang menyebut seperti mabuk ringan.
Mungkin para pemburu madu di tebing Nepal. Mereka memanjat dinding batu curam setinggi puluhan meter. Asap mengepul. Lebah raksasa beterbangan. Di situlah mad honey dipanen—madu langka dengan harga fantastis.
Namun justru karena kelangkaannya, banyak orang lupa bertanya: aman atau tidak?
Mad honey berasal dari nektar tanaman Rhododendron yang mengandung grayanotoxin. Zat ini bisa memengaruhi saraf dan jantung manusia. Efeknya tidak main-main. Mulai dari mual, muntah, diare, pusing, tekanan darah turun drastis, hingga denyut jantung melambat.
Di beberapa negara, madu ini malah terkenal karena efek “fly”-nya. Ada sensasi hangat. Sedikit melayang. Sebagian orang menyebutnya halusinasi ringan.
Di sinilah perdebatan muncul. Madu Mad Honey haram atau halal menjadi pertanyaan penting, terutama bagi konsumen Muslim di Indonesia.
Secara dasar, madu adalah makanan halal. Al-Qur’an bahkan menyebut madu sebagai minuman yang mengandung obat bagi manusia. Tetapi mad honey berbeda. Ia memiliki kandungan toksin yang dapat memabukkan atau memengaruhi kesadaran.
Prinsip dalam Islam cukup jelas: segala sesuatu yang memabukkan tergolong khamr dan hukumnya haram. LPPOM MUI juga pernah menjelaskan bahwa bahan apa pun, termasuk madu, bila menghasilkan efek memabukkan maka masuk kategori yang dilarang.
Karena itu, mad honey tidak bisa langsung diposisikan seperti madu biasa yang aman dikonsumsi sehari-hari.
Apalagi laporan medis terus bermunculan. Tahun 2025 lalu, seorang perempuan di Nepal dilaporkan mengalami hipotensi dan bradikardia setelah meminum sekitar 30 ml mad honey. Ia harus dirawat dan dipantau selama tiga hari.
Bahkan pusat pengendalian racun di Utah, Amerika Serikat, menyebut efek serius bisa muncul hanya dari satu sendok makan apabila kadar grayanotoxin cukup tinggi.
Ironisnya, di marketplace harga madu ini justru sangat mahal. Ada yang dijual lebih dari Rp1 juta untuk ukuran kecil. Labelnya pun dibuat eksotis: madu tebing Himalaya, madu halusinasi, hingga madu stamina pria.
Klaim manfaatnya juga berlebihan. Disebut bisa meningkatkan gairah. Menambah tenaga. Membantu lambung. Menstabilkan tekanan darah. Padahal belum ada standar medis yang memastikan konsumsi bebasnya aman.
Karena itu, konsumen perlu lebih kritis. Jangan hanya tergoda sensasi dan cerita viral.
Jika menemukan produk dengan label halal, sebaiknya cek langsung sertifikatnya melalui kanal resmi BPJPH. Jangan percaya begitu saja pada klaim penjual.
Pada akhirnya, pertanyaan Madu Mad Honey haram atau halal memang tidak bisa dijawab sesederhana “ini madu biasa”. Ada unsur toksik. Ada efek psikoaktif. Ada risiko kesehatan. Bahkan ada potensi masuk kategori memabukkan.
Dan ketika sesuatu mulai mendekati mabuk, Islam biasanya sudah memberi lampu kuning jauh lebih awal.***
