Monday, 4 May 2026
HomeViralRico Leonard Susanto Anak Siapa? Viral Kasus Rasis ke KShowtime di Surabaya,...

Rico Leonard Susanto Anak Siapa? Viral Kasus Rasis ke KShowtime di Surabaya, Berujung Minta Maaf

Bogordaily.net – Rico Leonard Susanto Anak Siapa? Pertanyaan itu langsung menggema di jagat media sosial. Bukan tanpa sebab. Nama itu tiba-tiba melonjak, menyusul sebuah insiden di lapangan streetball Surabaya yang memantik emosi publik.

Peristiwa ini terjadi pada 1 Mei 2026. Lokasinya di event bertajuk Park Takeover. Suasananya semula biasa saja—riak khas pertandingan jalanan: cepat, keras, dan penuh gengsi. Namun suasana berubah dalam hitungan detik.

Di tengah duel satu lawan satu, terdengar ucapan yang diduga bernuansa rasis. Sasaran ucapan itu adalah Kevon Watt, yang lebih dikenal sebagai KShowtime—sosok yang sudah cukup punya nama di dunia streetball.

Di titik itulah, publik mulai menoleh. Bukan hanya karena pertandingan, tetapi karena kata-kata.

KShowtime tidak membalas dengan emosi. Ia memilih cara lain: permainan. Fokus. Tenang. Hasilnya telak. Ia menang tanpa banyak drama fisik. Namun justru di luar lapangan, drama itu membesar.

Video potongan kejadian itu menyebar cepat. Dari TikTok ke Instagram, lalu ke X. Dalam hitungan jam, nama yang sebelumnya asing mulai dikenal: Rico Leonard Susanto.

Rico Leonard Susanto Anak Siapa kemudian menjadi kata kunci yang paling banyak dicari. Publik bukan hanya ingin tahu apa yang terjadi, tetapi juga siapa sosok di balik nama tersebut.

Sorotan pun mengarah pada isu yang lebih besar: rasisme di ruang publik. Bukan sekadar soal pertandingan, melainkan soal sikap. Soal batas. Soal konsekuensi.

Tekanan publik datang bertubi-tubi. Komentar keras bermunculan. Tidak sedikit yang mengecam. Tidak sedikit pula yang menuntut klarifikasi.

Akhirnya, permintaan maaf pun muncul.

Rico Leonard Susanto menyampaikan penyesalan atas ucapan yang dilontarkan. Ia mengakui kesalahan. Ia juga menyadari dampak dari kata-kata yang terucap di ruang terbuka—yang kini tidak lagi terbatas oleh lokasi, melainkan oleh jangkauan internet.

Namun seperti biasa, permintaan maaf di era digital tidak selalu menutup cerita.

Sebagian publik menerima. Sebagian lainnya tetap kritis. Ada yang menganggap ini pelajaran. Ada pula yang menilai ini belum cukup.

Di tengah semua itu, satu hal menjadi jelas: ucapan, sekecil apa pun, bisa membesar ketika terekam dan tersebar.

Dan kembali, pertanyaan yang sama masih bergema—Rico Leonard Susanto Anak Siapa—bukan sekadar soal identitas keluarga, tetapi tentang bagaimana seseorang dikenali dari tindakannya.

Kasus ini menjadi pengingat. Bahwa di ruang publik, terutama yang terhubung dengan media sosial, tidak ada lagi kata yang benar-benar hilang. Semua bisa direkam. Semua bisa dinilai.

Dan semua, pada akhirnya, akan kembali kepada siapa yang mengucapkannya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here