Bogordaily.net – Rumah itu berdiri di bibir tebing kecil. Di Gang Pasama, kawasan Cimanggu, Kota Bogor. Gang sempit. Padat rumah. Dinding-dinding berhimpitan.
Selasa siang, 5 Mei 2026, suasana kampung itu mendadak berubah seperti adegan film bencana.
Awalnya terdengar suara retakan kecil. Tidak terlalu keras. Tetapi cukup membuat beberapa warga menoleh. Mereka yang sedang duduk di depan rumah mulai berdiri. Ada yang keluar sambil melihat ke arah bangunan di atas kontur tanah yang menurun tajam itu.
Tak lama kemudian suara “krek… krek…” terdengar makin jelas.
Warga mulai berteriak.
“rumahnya mau roboh!”
Panik langsung pecah di gang sempit itu. Orang-orang berhamburan keluar rumah. Sebagian membawa anak kecil. Sebagian lagi hanya sempat menyelamatkan diri tanpa alas kaki.
Lalu suara dentuman keras terdengar.
Satu bangunan rumah ambruk seketika. Material bangunan meluncur dari bagian atas dan menghantam bangunan yang berada tepat di bawahnya. Debu beterbangan memenuhi gang. Genting pecah. Tembok runtuh. Tiang kayu patah berserakan.
Jeritan warga terdengar bersahut-sahutan.
Beberapa warga yang berada di lokasi mengaku sempat melihat bagian lantai rumah bergerak turun sebelum akhirnya ambles total. Situasi itu membuat warga sekitar ketakutan karena khawatir rumah lain ikut terdampak.
Gang Pasama yang biasanya ramai suara obrolan warga mendadak berubah tegang. Orang-orang hanya bisa berdiri menyaksikan reruntuhan sambil memastikan tidak ada penghuni yang tertinggal di dalam bangunan.
Sebagian warga mencoba mendekat. Namun mereka mundur lagi karena khawatir terjadi longsoran susulan. Kondisi bangunan di kawasan tersebut memang berhimpitan dan berada di area dengan kontur tanah yang tidak rata.
Beberapa menit setelah kejadian, suasana mulai dipenuhi teriakan meminta bantuan. Warga bergotong royong membersihkan puing-puing ringan sambil menunggu petugas datang ke lokasi.
Peristiwa ambruknya rumah di Cimanggu itu cepat menyebar dari mulut ke mulut. Video detik-detik bangunan roboh pun beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut terdengar jelas kepanikan warga saat bangunan runtuh dan menimpa rumah di bawahnya.
Kejadian itu meninggalkan trauma bagi warga sekitar yang hingga kini masih dihantui kekhawatiran akan adanya bangunan lain yang rawan runtuh.***
