Bogordaily.net — Langit yang semula ramah itu berubah cepat. Terlalu cepat. Anak-anak belum sempat membaca tanda. Mereka tetap berlari, tetap tertawa, tetap mengejar bola di lapangan terbuka.
Peristiwa memilukan itu terjadi di Desa Pasirgaok, Rancabungur, Kabupaten Bogor, Senin sore (4/5/2026). Sekelompok bocah sedang bermain sepak bola di lapangan dekat persawahan. Hujan turun. Petir menyusul. Tapi permainan tak berhenti.
Di situlah tragedi bermula.
Satu sambaran petir datang tanpa aba-aba. Menyambar lapangan—tempat anak-anak itu berlari. Seolah ikut bermain, tapi dengan cara yang paling kejam.
Seorang bocah berinisial MA (12) meninggal dunia. Tubuhnya tak kuat menerima hantaman energi dari langit. Sementara itu, rekannya DR (8) mengalami luka pada bagian mata. Ia selamat, tapi membawa bekas dari peristiwa yang tak akan mudah dilupakan.
Teman-temannya panik. Mereka berlarian. Mencari orang dewasa. Mencari pertolongan. Suasana berubah dari riuh tawa menjadi jerit ketakutan.
Kapolsek Rancabungur, Ipda Yudhi Widhiana, menjelaskan sambaran petir terjadi di area terbuka tempat anak-anak bermain. Tidak ada pelindung. Tidak ada tempat berlindung yang cukup dekat.
“Mereka sedang bermain bola, lalu tiba-tiba tersambar petir,” ujarnya.
Warga bergerak cepat. Kedua korban segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Namun nyawa MA tak tertolong.
Polisi yang menerima laporan langsung turun ke lokasi. Olah tempat kejadian perkara dilakukan. Saksi-saksi dimintai keterangan. Tapi semua sudah terjadi. Tak ada yang bisa mengulang waktu.
Peristiwa ini meninggalkan satu pelajaran penting—yang sering diabaikan.
Petir tidak memilih korban. Ia hanya mencari jalur tercepat menuju tanah. Dan lapangan terbuka, dengan tubuh-tubuh kecil yang berlari di atasnya, sering kali menjadi jalur itu.
Di musim pancaroba seperti sekarang, langit bisa berubah dalam hitungan menit. Hujan dan petir datang tanpa kompromi. Maka, berhenti sejenak bukanlah pilihan yang lemah. Itu justru bentuk kewaspadaan.
Di Rancabungur sore itu, sebuah permainan sepak bola berubah menjadi duka. Dan langit, sekali lagi, mengingatkan manusia akan batasnya.***
