Bogordaily.net – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertamax Green berdampak langsung terhadap penjualan di sejumlah Pertashop di Kota Bogor Jum’at 19/06/2026
Pengawas Pertashop Pandu Raya, Bobby, mengungkapkan bahwa penjualan mengalami penurunan signifikan sejak harga BBM nonsubsidi tersebut mengalami kenaikan.
Menurut Bobby, penurunan penjualan di Pertashop Pandu Raya saat ini mencapai 35 hingga 40 persen dibandingkan sebelum adanya kenaikan harga Pertamax.
Kondisi tersebut terjadi karena selisih harga antara Pertamax dan Pertalite yang semakin lebar, sehingga masyarakat lebih memilih membeli Pertalite di SPBU meski harus mengantre.
“Penurunan penjualan pasti mencapai 35 sampai 40 persen, soalnya naiknya juga drastis. Sama Pertalite juga beda enam ribu rupiah. Orang sekarang kebanyakan lebih memilih antre Pertalite di SPBU daripada memaksakan beli Pertamax,” ujar Bobby saat ditemui di Pertashop Pandu Raya, Kota Bogor.
Ia menjelaskan, ketika harga Pertamax masih berada di kisaran Rp12 ribuan per liter, masyarakat masih cukup banyak yang membeli BBM tersebut. Namun setelah kenaikan harga, konsumen mulai beralih ke bahan bakar yang lebih murah.
“Kalau dulu sebelum naik harga masih sekitar Rp12 ribuan, masyarakat masih bisa membeli. Sekarang lumayan terasa dampaknya,” katanya.
Selain itu, Bobby menilai fenomena kelangkaan Pertalite di beberapa SPBU juga turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Ketika stok Pertalite tersedia, antrean kendaraan terlihat lebih panjang dibandingkan biasanya.
“Sekarang juga sudah mulai langka di beberapa SPBU. Sekalinya ada, pasti antre panjang. Masyarakat tetap mencari yang lebih murah,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat operasional Pertashop menghadapi tantangan yang cukup berat.
Bobby mengaku khawatir apabila harga Pertamax kembali mengalami kenaikan, penjualan dapat semakin terpuruk dan mengancam keberlangsungan usaha Pertashop.
“Harga Pertamax saat ini saja sudah membuat penjualan turun drastis. Apalagi kalau naik lagi, bisa jadi banyak Pertashop yang gulung tikar,” tegasnya.
Menurutnya, saat ini pembeli Pertamax umumnya merupakan konsumen yang tidak memiliki pilihan lain karena stok BBM yang dibutuhkan sudah habis atau dalam kondisi mendesak.
“Orang sekarang paling beli Pertamax kalau memang sudah kepepet, atau saat pilihan lainnya tidak tersedia,” ujarnya.
Bobby berharap pemerintah dan pihak terkait dapat mempertimbangkan kebijakan harga BBM agar selisih harga antara Pertamax dan Pertalite tidak terlalu jauh.
Dengan demikian, daya beli masyarakat dapat kembali meningkat dan penjualan di Pertashop menjadi lebih stabil.
“Saya berharap harganya kembali normal, tidak terlalu jauh beda dengan Pertalite, agar penjualan di Pertashop bisa stabil kembali,” pungkasnya.***
(Fikri)
