Bogordaily.net – Sejalan dengan program Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dalam melakukan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Yayasan Buddha Tzu Chi turut membantu melalui intervensi perbaikan sebanyak 204 unit rumah di wilayah Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.
Perbaikan RTLH oleh Yayasan Buddha Tzu Chi dilakukan secara bertahap dengan menyasar rumah-rumah yang membutuhkan perbaikan, namun tidak memenuhi kriteria desil dan persyaratan lainnya, sehingga belum dapat diintervensi melalui program bantuan RTLH dari pemerintah.
“Dan alhamdulillah, Yayasan Buddha Tzu Chi mau membantu. Tadi kita melihat beberapa rumah sebagai sampel atau contoh. Perbedaannya sangat jauh, dari sebelum dan sesudah diperbaiki. Jadi, saya mengucapkan terima kasih atas nama Pemerintah Kota Bogor,” ucap Dedie Rachim, dikutip dari laman resmi Pemkot Bogor, Minggu, 28 Juni 2026.
Secara umum, pada tahun 2026 Pemkot Bogor menargetkan perbaikan sebanyak 1.100 unit rumah. Jumlah tersebut akan terus ditingkatkan melalui pendanaan dari APBD, APBN, yayasan, maupun program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dengan target penanganan mencapai 24.000 unit rumah dalam lima tahun.
Selain program RTLH, Pemkot Bogor juga memiliki program bedah rumah. Program ini diperuntukkan bagi rumah yang kondisinya sudah rusak berat, sehingga akan dibangun kembali dengan total anggaran sebesar Rp100 juta per unit.
“Jadi kalau Rp100 juta kan kelihatan. Kalau Rp20 juta atau Rp11 juta, ya kelihatan sedikit. Tapi kalau Rp100 juta pasti akan lebih lengkap, dapurnya, kemudian kamar mandinya. Jadi, ada berbagai macam intervensi yang kita lakukan untuk perbaikan rumah tidak layak huni,” ungkapnya.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor, Chusnul Rozaki, mengatakan bahwa secara keseluruhan pada tahun 2026 perbaikan RTLH di Kota Bogor mencapai lebih dari 2.050 unit rumah.
Perbaikan tersebut, lanjut Chusnul, akan terus dievaluasi agar kualitasnya semakin baik.
“Contohnya, nanti plafon tidak lagi menggunakan triplek ataupun gipsum. Kenapa? Supaya lebih sehat, lebih nyaman, dan lebih awet. Misalnya diganti menggunakan PVC yang masa pakainya lebih lama. Penghawaan dan pencahayaan rumah juga akan kita tata agar lebih terang dan lebih sehat,” ucapnya.
Sementara itu, kriteria penerima program bedah rumah diperuntukkan bagi rumah dengan kondisi rusak berat yang masuk kategori desil 1 dan desil 2.
Beberapa rumah yang dihuni oleh penyintas TBC, HIV, serta penyakit lainnya, termasuk malaria, menjadi salah satu prioritas untuk diperbaiki.
“Tapi yang pasti kondisinya rusak berat dan masuk desil 1 atau 2. Sementara ini, insyaallah akan dilaksanakan masing-masing satu rumah di setiap kecamatan. Mudah-mudahan pada semester kedua program ini sudah bisa segera dieksekusi,” ujarnya.(*)
