Bogordaily.net – Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer Sekolah Vokasi IPB University kembali menunjukkan inovasinya melalui pengembangan Smart Squeeze Cage, sebuah kandang jepit pintar berbasis Internet of Things (IoT).
Alat ini dirancang untuk merevolusi proses penimbangan otomatis kambing dan domba, menjadikannya lebih efisien, akurat, serta terintegrasi dengan sistem pencatatan, manajemen data, dan machine learning berbasis web.
Proyek ini dikembangkan oleh tim mahasiswa semester 6 yang terdiri dari Ghina Rania, Muhammad Rifki Munawar, Hafiz Tiftazani, Rafie Hafizhsatryo, Bagus Priwendy Simangunsong, Althof Zufar Musyaffa, dan Ilham Bonardo Marpaung sebagai bagian dari Tugas Besar Project-Based Learning (PjBL) mata kuliah Proyek Sistem IoT. Dalam pengerjaannya, mereka dibimbing oleh Lathifunnisa Fathonah, M.T. selaku Dosen Pembimbing 1 dan Muhammad Nasir, S.T., M.Kom. selaku Dosen Pembimbing 2. Inovasi ini juga berjalan atas kerja sama resmi dengan mitra Program Studi Teknologi dan Manajemen Ternak (TNK) Sekolah Vokasi IPB, atas izin dan dukungan penuh dari Ketua Program Studi TNK, Bapak Fariz Am Kurniawan, S.Pt., M.Si.
Melalui skema Project-Based Learning (PjBL) untuk tugas besar mata kuliah Proyek Sistem IoT di semester 6 ini, karya mereka secara khusus ditujukan untuk mendukung kegiatan penimbangan ternak di Program Studi Teknologi dan Manajemen Ternak (TNK) Sekolah Vokasi IPB.
Ide awal Smart Squeeze Cage lahir dari observasi dan survei langsung di lingkungan Prodi Teknologi dan Manajemen Ternak. Tim menemukan bahwa proses penimbangan kambing dan domba konvensional masih menghadapi tantangan signifikan, terutama karena ternak yang sulit tenang saat ditimbang dan pencatatan data bobot yang rentan terhadap kesalahan manual.
Seorang mahasiswa dari proyek manajerial Prodi TNK menceritakan kesulitan yang selama ini dialami mahasiswa di kandang.
“Selama ini, untuk menimbang kambing dan domba, kami harus meminjam timbangan sapi. Itu tidak efisien. Kami juga sering kelelahan karena harus menggendong kambing ke gendongan yang terbuat dari karung lalu mengangkatnya ke timbangan gantung. Dengan adanya timbangan portable khusus ini, data penimbangan akan sangat terbantu.”
Ghina Rania, selaku Ketua Tim Pengembang, menegaskan opininya mengenai urgensi alat ini.
“Dengan adanya alat ini, proses penimbangan kambing dan domba diharapkan dapat dilakukan dengan lebih cepat, praktis, dan akurat. Selain itu, data bobot ternak juga dapat tercatat secara digital melalui web sehingga lebih mudah dipantau kembali,” jelas Ghina.
Smart Squeeze Cage bekerja dengan sistem kandang jepit yang dirancang khusus untuk menstabilkan posisi ternak saat ditimbang. Kehadiran alat ini tidak hanya mempermudah penimbangan, tetapi juga menawarkan fleksibilitas yang tinggi untuk kebutuhan pemeliharaan lainnya.
Om Ferdi, operator kandang di Prodi TNK, mengungkapkan apresiasinya terhadap aspek praktis dari inovasi ini. “Kandang portable ini sangat membantu. Selain untuk penimbangan, juga sangat berguna untuk kebutuhan pemeliharaan lain seperti mencukur bulu domba, pengecekan dan pengukuran hewan ternak, bahkan untuk memandikan hewan ternak,” ujarnya. Ia menambahkan, “Mekanisme loadcell yang tertanam di bawah alat kandang bisa dilepas, ini sangat fleksibel.”
Sistem ini dilengkapi dengan sensor berat yang terhubung ke mikrokontroler, sehingga data bobot ternak dapat terbaca secara otomatis dan langsung dikirimkan ke sistem berbasis web. Website yang dikembangkan tidak hanya berfungsi sebagai media penyimpanan, tetapi juga menawarkan fitur-fitur analisis yang cerdas:
Pencatatan dan Manajemen Data: Pengguna dapat melihat riwayat penimbangan secara digital, memantau perkembangan bobot ternak secara berkala, serta meminimalkan risiko kesalahan pencatatan manual.
Prediksi Bobot Ideal dengan Machine Learning: Data berat diolah menggunakan algoritma machine learning untuk membantu melihat pola perkembangan, memprediksi bobot ideal, mengklasifikasikan bobot ternak, serta menampilkan grafik pertumbuhan yang informatif.
Prediksi Pakan Harian Otomatis: Sistem mampu mengakumulasi data hijauan dan konsentrat pada sekat kandang untuk memberikan prediksi pakan harian.
Integrasi teknologi ini diharapkan mampu mengubah data mentah peternakan menjadi keputusan manajemen yang strategis. Menurut Muhammad Rifki Munawar, hasil pencatatan yang terstruktur ini akan mempermudah evaluasi pertumbuhan hewan ternak.
“Data hasil penimbangan dapat menjadi acuan dalam memantau pertumbuhan ternak, mengevaluasi kebutuhan pakan, serta mendukung proses pengambilan keputusan dalam manajemen pemeliharaan ternak,” ungkap Rifki.
Rafie Hafizhsatryo menambahkan bahwa otomatisasi dan dokumentasi yang rapi adalah keunggulan utama dari integrasi IoT ini. “Kami berharap inovasi ini dapat menjadi salah satu langkah penerapan teknologi digital yang bermanfaat bagi kegiatan praktikum, penelitian, maupun pengelolaan ternak,” ujar Rafie.
Hal senada disampaikan oleh Ilham Bonardo Marpaung terkait pemanfaatan machine learning. “Melalui pencatatan data, manajemen data, dan machine learning, hasil penimbangan tidak hanya disimpan sebagai arsip, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk membantu analisis perkembangan ternak secara lebih terarah,” kata Ilham. Sementara itu, Hafiz Tiftazani menekankan bahwa Smart Squeeze Cage juga berfungsi ganda sebagai media pendukung pembelajaran yang berkelanjutan di lingkungan vokasi.
Peluncuran Smart Squeeze Cage ini membuka harapan baru dalam memangkas kendala penimbangan manual serta mendukung ekosistem peternakan yang lebih efektif, modern, dan terintegrasi. Inovasi ini menjadi kontribusi nyata mahasiswa Sekolah Vokasi IPB University dalam membawa perubahan positif terhadap kualitas pencatatan, manajemen, dan analisis data ternak di era digital.***
Penulis: Gina Rhania, Rafie Hafizhsatryo dan Hafiz Tiftazani, Mahasiswi Teknologi Rekayasa Komputer, Vokasi IPB.


