HomeNasionalTalkshow Pola Kopi Agroforestri di Areal Perhutanan Sosial, Angkat Potensi Kopi Hutan...

Talkshow Pola Kopi Agroforestri di Areal Perhutanan Sosial, Angkat Potensi Kopi Hutan Garut di Festival Layang-Layang Internasional 2026

Bogordaily.net – Festival Layang-Layang Internasional Garut 2026 bukan sekadar menghadirkan atraksi ribuan layang-layang dari berbagai negara. Di balik langit Cisurupan yang dipenuhi warna-warni layang-layang, tersimpan upaya memperkenalkan kekayaan alam dan hasil hutan lestari Kabupaten Garut kepada dunia melalui talkshow bertajuk “Pola Kopi Agroforestri di Areal Perhutanan Sosial”.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda pendukung Festival Layang-Layang Internasional yang berlangsung pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Agrowisata Tepas Papandayan, Desa Karamatwangi, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Festival ini tercatat sebagai ajang layang-layang internasional pertama yang digelar di Kabupaten Garut. Sejumlah peserta dari berbagai negara Asia, seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok, turut ambil bagian. Dari kawasan Eropa hadir peserta dari Swiss, Swedia, Prancis, Italia, dan Belgia. Sementara Indonesia diwakili para pegiat layang-layang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Kalimantan, Bali, serta berbagai provinsi lainnya.

Selain menjadi ajang pertunjukan seni layang-layang kelas dunia, festival ini bertujuan mempromosikan potensi pariwisata Garut sekaligus melestarikan budaya tradisional Indonesia di tingkat internasional. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bertemunya komunitas layang-layang domestik dan mancanegara untuk menampilkan karya terbaik sekaligus mempererat pertukaran budaya antarbangsa.

Sementara itu, Chairuddin (Ch Ambong) Ketua Silvae Populi Nusantara (SILINUSA) & Pendamping Perhutanan Sosial Garut menjelaskan, daya tarik festival tidak berhenti pada atraksi di udara.

Melalui talkshow Pola Kopi Agroforestri di Areal Perhutanan Sosial, pengunjung diajak mengenal bagaimana masyarakat desa hutan Garut mengelola kawasan hutan secara lestari sambil menghasilkan kopi berkualitas tinggi.

Kopi Garut dikenal memiliki karakter rasa yang khas karena ditanam di kawasan hutan dataran tinggi dengan sistem agroforestri. Metode ini memadukan tanaman kehutanan dengan komoditas perkebunan bernilai ekonomi seperti kopi, alpukat, nangka, lamtoro, serta berbagai tanaman sela dalam satu hamparan lahan.

Pola agroforestri tidak hanya menjaga tutupan hutan dan keseimbangan ekosistem, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat. Sistem ini menjadi salah satu contoh praktik pengelolaan hutan yang mampu menggabungkan aspek konservasi dengan peningkatan kesejahteraan warga.

Di Kabupaten Garut, pemerintah telah memberikan akses kelola kawasan hutan seluas sekitar 14.000 hektare kepada 54 Kelompok Perhutanan Sosial (KPS). Pengelolaan dilakukan melalui berbagai skema, antara lain Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Desa, serta Kemitraan Kehutanan (KK). Dari kawasan-kawasan inilah lahir berbagai produk hasil hutan, termasuk kopi agroforestri yang mulai dikenal luas.

Talkshow tersebut juga menjadi media promosi bagi produk kopi yang dihasilkan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Para peserta festival, termasuk wisatawan mancanegara, dapat melihat secara langsung bagaimana kopi diproduksi dari kawasan hutan yang dikelola secara berkelanjutan.

Tidak hanya memperkenalkan kopi, penyelenggaraan festival juga diharapkan mampu mengangkat nama Agrowisata Tepas Papandayan sebagai destinasi wisata unggulan Garut. Kawasan wisata yang dikelola oleh BUMDes Karamat Jaya itu menjadi etalase potensi alam, budaya, dan ekonomi masyarakat desa.

Selama lima hari pelaksanaan, Festival Layang-Layang Internasional Garut 2026 juga dimeriahkan dengan pentas seni budaya, pertunjukan musik, bazar UMKM, kuliner khas daerah, serta pameran berbagai produk unggulan lokal. Produk kopi agroforestri Garut menjadi salah satu ikon yang diperkenalkan kepada para tamu dari dalam maupun luar negeri.

Melalui perpaduan antara olahraga rekreasi, budaya, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat desa hutan, Festival Layang-Layang Internasional Garut 2026 diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkenalkan wajah baru Garut sebagai destinasi wisata berbasis alam, budaya, dan pengelolaan hutan lestari yang mampu bersaing di tingkat global.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here