Bogordaily.net – Tim Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University menggelar pelatihan pakan fungsional di Kandang Bhumi Ngaglik Farm, Sleman, Yogyakarta. Acara ini diwarnai diskusi interaktif antusias antara peternak lokal dan para pakar nutrisi ternak IPB University.
Berikut adalah 4 poin menarik dari sesi tanya jawab interaktif selama pelatihan berlangsung:
1. Cara Mengatasi Bau Amonia Kandang dan Suara Bising Ternak
Pertanyaan (Pak Sigit Fatah): Bagaimana cara menyediakan pakan tanpa harus ngarit berlebihan, menekan bau kotoran yang mengganggu tetangga, serta mencegah suara ternak bising?
Jawaban Pakar (Prof. Dewi Apri Astuti dan Dr. Lilis Khotijah): Bau kotoran disebabkan oleh emisi amonia akibat ketidakseimbangan gizi protein dan energi pakan. Ransum yang seimbang memastikan protein terserap sempurna menjadi daging tanpa terbuang di kotoran. Sementara itu, suara bising umumnya menandakan ternak lapar. Jika ternak kenyang gizi, ternak akan tenang dan beristirahat. Untuk efisiensi ngarit, peternak dapat mengolah limbah pertanian lokal (kulit kedelai, tebon jagung) menjadi silase terfermentasi.
2. Manfaat Minyak dan Lemak Pakan di Musim Kemarau
Pertanyaan (Pak Ambardi Sulistio): Bolehkah pakan tradisional seperti kulit kedelai dan pollard dicampur minyak/lemak?
Jawaban Pakar (Prof. Dewi Apri Astuti): Penambahan minyak/lemak (maksimal 5–6%) sangat baik diberikan terutama saat musim kemarau. Minyak memberikan asupan energi tinggi dengan panas metabolisme tubuh yang rendah, sehingga menekan risiko heat stress (stres panas) pada ternak dibandingkan penggunaan jagung/singkong berlebih.
3. Solusi Cempe yang Ditolak Induknya
Pertanyaan (Pak Sumarjo): Bagaimana merawat anak domba jika induknya tidak mau menyusui sejak lahir?
Jawaban Pakar (Prof. Asep Sudarman & Prof. I Komang Gede Wiryawan): Pada usia 1–3 hari pertama, cempe wajib mendapatkan kolostrum (susu pertama induk yang kental kekuningan) karena mengandung antibodi kekebalan tubuh. Jika induk menolak, perah kolostrum tersebut dan minumkan ke cempe menggunakan botol. Setelah masa kolostrum lewat, cempe dapat diberikan susu pengganti (milk replacer) berharga ekonomis dan disediakannya pakan creep feed secara ad-libitum.
4. Syarat Induk Prolifik dan Frekuensi Pakan Induk Bunting
Pertanyaan (Mas Wira & Pak Dasuki): Bagaimana cara memilih induk yang sanggup beranak kembar, dan bagaimana pola makan induk bunting tua?
Jawaban Pakar (Dr. Lilis Khotijah): Potensi anak kembar dipengaruhi oleh recording (pencatatan silsilah) tetuanya dan dikawal dengan ransum flushing pra-kawin. Pada induk bunting tua, kapasitas perut menyusut karena tertekan janin. Solusinya, frekuensi pemberian pakan ditingkatkan lebih sering (misalnya 4 kali sehari) dalam porsi bertahap.
“Peternak harus bertransformasi dari sekadar ‘tabungan pasif’ menjadi bisnis peternakan yang terukur. Pikirkan orientasi keuntungan dengan rutin melakukan pencatatan pertambahan bobot harian (ADG) dan silsilah ternak.” Prof. Dr. Ir. Asep Sudarman, M.Rur.Sc., Guru Besar Nutrisi Ternak IPB University
Pelatihan ini menjadi langkah nyata dalam mendorong peternak untuk semakin cermat mengelola pakan, kesehatan, dan produktivitas ternak. Melalui penerapan pakan fungsional, pencatatan performa, serta manajemen pemeliharaan yang tepat, peternak diharapkan mampu membangun usaha peternakan yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.***
